Kawasan Tanjungpriok dan Marunda, Jakarta Utara, akan dijadikan sebagai sebagai daerah percontohan program dokter keluarga. Saat ini program itu sistemnya sedang disusun dan diharapkan jumlah warga Jakarta yang sakit semakin berkurang.
"Sebagai permulaan akan dilakukan di 2 wilayah di Jakarta Utara, di Tanjung Priok dan Marunda. Akan disasar ke 2 kawasan ini dulu, kemudian diikuti daerah- daerah lainnya di Jakarta" jelas Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati di Balaikota, Jakarta, Rabu (27/3/2013).
Dijadikannya 2 kawasan itu sebagai percontohan dokter keluarga, ucap Dien, disebabkan daerah itu dianggap paling rawan penyakit. "Kenapa Tanjungpriok? Karena daerahnya padat, penyakitnya juga banyak. Sementara Marunda karena daerah tersebut juga rawan banjir dan kita akan cegah di sana," ujar Dien.
Dien menjelaskan, nantinya dokter- dokter yang ditugaskan bertanggung jawab terhadap kesehatan keluarga berada di bawah pengawasan dokter tersebut dengan mengajarkan pola hidup sehat.
"Jadi fungsinya untuk preventif. Warga kapan saja bisa datang, bisa malam, pagi, bisa konsultasi, jadi lebih enak," kata Dien.
Dengan adanya dokter keluarga, tambah Dien, dapat mengurangi membludaknya jumlah pasien yang sakit. Sebab tingkat kesehatan warga akan meningkat melalui pola hidup sehat yang diarahkan dokter keluarga.
"Antrean di puskesmas dan rumah sakit pun akan berkurang dengan adanya program ini. Jadi, bukan dokternya mengejar 3.000 pasien, tapi nanti masyarakat bisa datang dan tidak saling berebutan seperti yang ada di tempat umum," tutur Dien.
Dien optimistis, program dokter keluarga ini dapat menjadikan warga lebih sehat. Yang pada akhirnya dapat menekan jumlah pasien di rumah sakit.
"Dasarnya jika sudah dipreventif sejak dini, kemungkinan warga mengidap penyakit yang parah pun bisa dicegah, warga pun bisa menjalani pola hidup sehat, " jelas Dien.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menambahkan layaknya dokter pribadi, dokter keluarga akan memberikan pelayanan kesehatan dari rumah ke rumah. Selain memberi kemudahan bagi warga untuk mengakses pelayanan kesehatan, kehadiran dokter keluarga diharapkan juga bisa mengurangi pasien rujukan rumah sakit.
"Jadi orang kan senang tiba-tiba punya dokter pribadi. Bisa datang, bisa ngomong. Dan mereka langsung mengecek tensi dan ketahuan," tutur Ahok.
Namun, tak semua jenis pelayanan kesehatan bisa difasilitasi. Program ini masih belum siap melayani MRI (Magnetic Resonance Imaging). "Tapi tentu saja kami belum sampai tahap MRI. Dia (dokter) akan jaga, orang akan tidak banyak yang dirujuk," kata Ahok.
"Jika memang ada rekomendasi dukungan fasilitas kesehatan seperti MRI, akan dilakukan secara bertahap," tambahnya.
Pengadaan dokter keluarga ini merupakan salah satu dari 5 rekomendasi PB IDI. Tak cuma memenuhi kebutuhan warga di Jakarta, dokter keluarga ini nantinya juga akan disebar hingga ke seluruh pelosok Indonesia dengan pendekatan public private partnership.(Ais)
"Sebagai permulaan akan dilakukan di 2 wilayah di Jakarta Utara, di Tanjung Priok dan Marunda. Akan disasar ke 2 kawasan ini dulu, kemudian diikuti daerah- daerah lainnya di Jakarta" jelas Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati di Balaikota, Jakarta, Rabu (27/3/2013).
Dijadikannya 2 kawasan itu sebagai percontohan dokter keluarga, ucap Dien, disebabkan daerah itu dianggap paling rawan penyakit. "Kenapa Tanjungpriok? Karena daerahnya padat, penyakitnya juga banyak. Sementara Marunda karena daerah tersebut juga rawan banjir dan kita akan cegah di sana," ujar Dien.
Dien menjelaskan, nantinya dokter- dokter yang ditugaskan bertanggung jawab terhadap kesehatan keluarga berada di bawah pengawasan dokter tersebut dengan mengajarkan pola hidup sehat.
"Jadi fungsinya untuk preventif. Warga kapan saja bisa datang, bisa malam, pagi, bisa konsultasi, jadi lebih enak," kata Dien.
Dengan adanya dokter keluarga, tambah Dien, dapat mengurangi membludaknya jumlah pasien yang sakit. Sebab tingkat kesehatan warga akan meningkat melalui pola hidup sehat yang diarahkan dokter keluarga.
"Antrean di puskesmas dan rumah sakit pun akan berkurang dengan adanya program ini. Jadi, bukan dokternya mengejar 3.000 pasien, tapi nanti masyarakat bisa datang dan tidak saling berebutan seperti yang ada di tempat umum," tutur Dien.
Dien optimistis, program dokter keluarga ini dapat menjadikan warga lebih sehat. Yang pada akhirnya dapat menekan jumlah pasien di rumah sakit.
"Dasarnya jika sudah dipreventif sejak dini, kemungkinan warga mengidap penyakit yang parah pun bisa dicegah, warga pun bisa menjalani pola hidup sehat, " jelas Dien.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menambahkan layaknya dokter pribadi, dokter keluarga akan memberikan pelayanan kesehatan dari rumah ke rumah. Selain memberi kemudahan bagi warga untuk mengakses pelayanan kesehatan, kehadiran dokter keluarga diharapkan juga bisa mengurangi pasien rujukan rumah sakit.
"Jadi orang kan senang tiba-tiba punya dokter pribadi. Bisa datang, bisa ngomong. Dan mereka langsung mengecek tensi dan ketahuan," tutur Ahok.
Namun, tak semua jenis pelayanan kesehatan bisa difasilitasi. Program ini masih belum siap melayani MRI (Magnetic Resonance Imaging). "Tapi tentu saja kami belum sampai tahap MRI. Dia (dokter) akan jaga, orang akan tidak banyak yang dirujuk," kata Ahok.
"Jika memang ada rekomendasi dukungan fasilitas kesehatan seperti MRI, akan dilakukan secara bertahap," tambahnya.
Pengadaan dokter keluarga ini merupakan salah satu dari 5 rekomendasi PB IDI. Tak cuma memenuhi kebutuhan warga di Jakarta, dokter keluarga ini nantinya juga akan disebar hingga ke seluruh pelosok Indonesia dengan pendekatan public private partnership.(Ais)