Liputan6.com, Jakarta Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi mendukung upaya Arab Saudi menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034. Sikap ini ditandai oleh lewat surat dukungan yang ditandatangani langsung oleh pimpinan federasi sepak bola Tanah Air, Erick Thohir dan telah diunggah melalui situs resmi PSSI.
Dalam surat tersebut, PSSI dengan tegas menyatakan berada di belakang Arab Saudi dalam proses pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2034. PSSI pun berharap federasi sepak bola Arab Saudi mampu mengembalikan lagi ajang bergengsi ini ke Asia.
Advertisement
Dalam suratnya, PSSI juga menyebut Arab Saudi punya keunggulan tersendiri sebagai kekuatan olahraga, terutama dalam hal infrastruktur, pengembangan timnas, kemajuan teknikal, hingga pengelolaan suporter. Itu terbukti dari berbagai event kelas dunia yang berlangsung tanpa hambatan di Arab Saudi sebelumnya.
"Federasi sepak bola Arab Saudi mendukung Federasi Sepak Bola Arab Saudi dalam pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2034 dengan harapan bakal jadi warisan abadi, bukan hanya untuk negara-negara Arab, tapi juga dunia," tulis PSSI dalam suratnya.
Seperti diketahui, Asia sudah berulangkali menjadi tuan rumah Piala Dunia. Terbaru adalah tahun 2022 lalu saat pesta sepak bola terakbar itu mentas di Qatar. Momen ini semakin spesial karena jadi kali pertama Piala Dunia berlangsung di Timur Tengah.
Sebelumnya, Piala Dunia juga pernah berlangsung di Korea Selatan dan Jepang tahun 2002. Saat itu, Korea Selatan bahkan berhasil mengejutkan dunia dengan melaju ke semifinal.
FIFA sendiri telah membuka proses bidding untuk tuan rumah Piala Dunia 2034. Pengumuman ini dilakukan usai menetapkan Maroko, Portugal, dan Spanyol sebagai tuan rumah Piala Dunia 2030.
FIFA kemudian membuka kesempatan bagi negara-negara dari Asia dan Oceania.
Indonesia juga Berminat Jadi Tuan Rumah Pendamping Piala Dunia 2034
Indonesia juga sebenarnya berniat maju dalam proses bidding Piala Dunia 2034 bersama Australia. Untuk itu, PSSI telah menjalin komunikasi dengan Negeri Kanguru sejak 2017 lalu.
Hanya saja, wacana ini seakan menguap. Apalagi, media Australia, The Sydney Morning Herald dalam laporannya menganggap Indonesia kini bukan lagi pilihan tepat. Tragedi Kanjuruhan menjadi batu sandungan untuk mewujudkan rencana lama bersama dengan Selandia Baru.