Liputan6.com, Jakarta Sejumlah studi menunjukkan bahwa influencer mulai kehilangan pengaruhnya terutama bagi konsumen muda dalam beberapa tahun terakhir.
Data Global Web Index (GWI) misalnya, menunjukkan bahwa Gen Z yang tertarik pada influencer telah turun 12 persen sejak 2020.
Advertisement
Selain itu, hanya 3 persen konsumen yang membeli produk atas pengaruh mega influencer. Padahal, Gen Z merupakan target pasar utama bagi para marketing influencer.
CEO PT Mitra Komune Nusantara, perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Campaign, Communication, dan Community, Jennifer Ang, mengungkapkan bahwa konsumen terutama yang berusia muda seperti Gen Z memang mulai kehilangan kepercayaan pada influencer berbayar.
Percaya Komunitas
Kini, mereka justru cenderung lebih percaya pada komunitas-komunitas dengan pemikiran atau minat yang sama.
Meski industri pemasaran influencer berada di jalur yang tepat dengan nilai mencapai 21 miliar dolar AS pada 2023, namun pasar menurutnya telah semakin jenuh. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah postingan berbayar atau bersponsor di media sosial.
Ubah Lanskap Media Sosial
Selain itu, kata Jennifer, kampanye influencer juga telah merubah lanskap media sosial yang ditujukan untuk berinteraksi menjadi tempat untuk mengunggah iklan bersponsor.
Studi Klear pada 2019 yang menganalisa lebih dari 2 juta konten bersponsor di Instagram menemukan jumlah postingan bersponsor meningkat sebesar 39% pada tahun 2018, dengan peningkatan berturut-turut setiap bulan.
Disebut Muak
“Kini, orang-orang telah muak dengan postingan yang menunjukkan influencer selebriti berpose serupa, mengedepankan sebuah produk seraya menjelaskan kelebihannya dan melengkapi postingan itu dengan menyebut brand serta menggunakan tagar atau hashtag bermerek,” kata Jennifer Ang dalam keterangan tertulisnya.
Sebuah riset oleh Bazaarvoice juga menunjukkan sekitar 47% konsumen lelah dengan konten influencer yang serupa dan berulang. Dengan kata lain, konsumen mulai meninggalkan para influencer karena kurangnya orisinalitas pada konten bersponsor mereka.
Selain itu, masalah lain juga timbul dari transparansi dan efektivitas kampanye influencer. Pasalnya, tak sedikit influencer yang membeli pengikut atau menggunakan bot untuk meningkatkan keterlibatan atau engagement palsu hanya untuk mendapatkan bayaran merek yang lebih tinggi.