Liputan6.com, Jakarta PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat beberapa aksi korporasi dan lainnya. Pada pekan ini, terdapat 2 saham, 1 waran, 1 sukuk mudharabah, dan 1 obligasi resmi tercatat di BEI.
Melansir keterangan BEI, seperti dikutip Sabtu (15/4/2023), PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) mulai mencatatkan saham dan waran PIPA pada Papan Pengembangan BEI.
Advertisement
PIPA merupakan perusahaan tercatat ke-30 di BEI pada tahun 2023. PIPA bergerak pada sektor Industrials dengan subsektor Industrial Goods.
Industri dan subindustri PIPA adalah Building Products & Fixtures. Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I PNM Tahap II Tahun 2023 yang diterbitkan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) mulai dicatatkan di BEI pada hari yang sama dengan nilai nominal sebesar Rp 1,7 triliun pada Selasa (11/4).
Hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) untuk sukuk ini adalah idAA+(sy) (Double A Plus Syariah). Bertindak sebagai Wali Amanat dalam emisi ini adalah PT Bank Mega Tbk.
Obligasi Berkelanjutan IV WOM Finance Tahap III Tahun 2023 yang diterbitkan oleh PT Wahana Ottomitra Multiartha (WOMF) mulai dicatatkan di BEI pada Rabu (12/4).
Obligasi ini dicatatkan dengan nilai nominal Rp 1 triliun dan rating AA(idn) (Double A) dari PT Fitch Ratings Indonesia. Bertindak sebagai Wali Amanat emisi ini adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Pada hari yang sama, saham dan waran PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) resmi tercatat di Papan Utama BEI. NCKL merupakan perusahaan tercatat ke-31 di BEI pada tahun 2023. NCKL bergerak pada sektor dan subsektor Basic Materials.
NCKL bergerak pada industri Metals & Minerals dan subindustri Diversified Metals & Minerals. Data perdagangan BEI selama periode tanggal 10 sampai dengan 14 April 2023 ditutup bervariasi.
49 Perusahaan Antre IPO, Mayoritas Sektor Consumer Cyclicals
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sejumlah perusahaan tengah antre di pipeline pencatatan perdana saham (initial public offering/IPO). Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyebutkan, saat ini ada 49 perusahaan yang siap debut di Bursa. Dari jumlah tersebut, paling banyak berasal dari sektor consumer cyclicals
"Hingga saat ini, terdapat 49 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Nyoman kepada Wartawan, Jumat (14/4/2023).
Merujuk POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat 16 perusahaan dengan aset skala besar di atas Rp 250 miliar. Kemudian 28 perusahaan dengan aset skala menengah antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar, sisanya 5 perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp 50 miliar.
Rincian sektornya adalah sebagai berikut:
- 6 Perusahaan dari sektor basic materials
- 10 Perusahaan dari sektor consumer cyclicals
- 6 Perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals
- 2 Perusahaan dari sektor energy
- 2 Perusahaan dari sektor financials
- 1 Perusahaan dari sektor healthcare
- 3 Perusahaan dari sektor industrials
- 2 Perusahaan dari sektor infrastructures
- 5 Perusahaan dari sektor properties & real estate
- 7 Perusahaan dari sektor technology
- 5 Perusahaan dari sektor transportation & logistic
Adapun hingga 14 April 2023, terdapat 31 perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dana yang berhasil dihimpun dari IPO 28 emiten itu sebesar Rp 22,7 triliun.
OJK Sebut Ada 107 Rencana IPO di BEI Rp 123,83 Triliun
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan perkembangan di pasar modal sepanjang Maret 2023. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 31 Maret 2023 tercatat melemah sebesar 0,55 persen month to date (mtd) di tengah investor non-resident yang membukukan inflow sebesar Rp 4,12 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi menuturkan, secara year to date, IHSG turun 0,66 persen tetapi masih mencatatkan inflow investor non-resident sebesar Rp6,62 triliun.
Sementara, di pasar obligasi, indeks ICBI menguat 0,96 persen mtd (2,44 persen ytd) ke level 353,19. Untuk pasar obligasi korporasi, aliran dana keluar investor non-resident tercatat sebesar Rp384,04 miliar secara mtd dan Rp292,02 miliar secara ytd.
Di pasar SBN, per 30 Maret 2023 non-resident baik secara mtd maupun ytd mencatatkan inflow sebesar Rp11,98 triliun dan sebesar Rp54,11 triliun. Adapun rata-rata yield SBN pada seluruh tenor secara mtd turun sebesar 4,34 bps dan secara ytd menurun sebesar 13,92 bps.
Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana per 30 Maret 2023 tercatat sebesar Rp502,8 triliun atau menurun 0,64 persen (mtd) dengan investor Reksa Dana membukukan net redemption sebesar Rp4,44 triliun (mtd). Secara ytd, NAB reksa dana terkontraksi 0,41 persen dan mencatatkan net redemption sebesar Rp2,86 triliun.