Stres bisa berpengaruh buruk untuk kesehatan. Dan kemampuan pria untuk memproduksi sperma juga tergantung dari penanganan stres.
Para peneliti menemukan, pria dengan kadar stres yang tinggi, baik dalam jangka panjang atau jangka pendek serta cemas kurang air mani saat ejakulasi, lebih rendah dalam jumlah sperma.
Pria dengan kecemasan tertinggi juga cenderung memiliki sperma yang cacat atau kurang bisa bergerak.
Tapi seorang peneliti kesuburan yang tak terlibat dalam penelitian mengatakan, sulit untuk mengetahui hasil itu bisa mempengaruhi masyarakat uum karena pada penelitian ini termasuk orang-orang yang mencari pengobatan di klinik kesuburan.
"Apakah Anda menjadi stres karena tidak subur atau stres menyebabkan kemandulan? tanya Tina Jensen dari Rigshospitalet di Kopenhagen, yang telah mempelajari efek dari faktor lingkungan terhadap kualitas sperma seperti dikutip ReutersHealth, Jumat (22/2/2013).
Penelitian sebelumnya telah menemukan, pria yang melalui perawatan kesuburan atau evaluasi memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata orang, dan beberapa penelitian juga menunjukkan hubungan antara stres dan kualitas sperma.
Tapi tak seorang pun melihat apakah peningkatan stres pada pria dalam waktu singkat dan kecemasan jangka panjang memberikan efek yang berbeda. Demikian hasil penelitian yang dipimpin Elisa Vellani dari European Hospital di Roma.
Penelitian itu diterbitkan dalam Jurnal Fertility and Sterility.
Penelitian
Untuk studi baru, tim merekrut 94 pria yang mengunjungi klinik kesuburan untuk pertama kalinya, dan 85 orang lainnya yang tidak mencari perawatan kesuburan sebagai kelompok pembanding. Setiap pria memberikan sampel air mani untuk dianalisis. Para pria kemudian menjawab dua survei yang mengukur stres saat ini dan jangka panjang.
Skala kecemasan pada yang dimulai dari 20 sampai 80 poin, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan stres atau kecemasan yang lebih besar.
Rata-rata, pria di kedua grup mencetak antara 37 dan 40 pada tes, yang tidak dianggap patologis.
Kelompok Vellani ini kemudian membandingkan 28 orang dengan stres terendah dan 40 pria dengan tingkat kecemasan tertinggi. Dan peneliti menemukan orang-orang stres lebih cenderung memiliki konsentrasi dan jumlah sperma lebih rendah.
"Secara keseluruhan, pengamatan kami sangat menyarankan (stres dan kecemasan) mungkin merupakan faktor penting yang terlibat dalam kesuburan pria," tulis para peneliti.
Dalam standar Organisasi Kesehatan Dunia, jumlah di atas 15 juta sperma per mililiter dianggap normal.
Peneliti juga mencatat, hubungan antara stres dan kualitas sperma yang lebih lemah pada pria yang tak mencari perawatan kesuburan, dan juga pada pria yang kelihatannya mempunyai sperma yang bagus.
Sementara itu, Jensen mengatakan, sulit melihat perbedaan pada pria yang paling stres dalam penelitian itu. Tapi hasilnya mungkin paling relevan untuk pria yang melalui perawatan kesuburan.
"Umumnya, untuk pria normal itu tidak penting," pungkasnya.(Mel/Igw)
Para peneliti menemukan, pria dengan kadar stres yang tinggi, baik dalam jangka panjang atau jangka pendek serta cemas kurang air mani saat ejakulasi, lebih rendah dalam jumlah sperma.
Pria dengan kecemasan tertinggi juga cenderung memiliki sperma yang cacat atau kurang bisa bergerak.
Tapi seorang peneliti kesuburan yang tak terlibat dalam penelitian mengatakan, sulit untuk mengetahui hasil itu bisa mempengaruhi masyarakat uum karena pada penelitian ini termasuk orang-orang yang mencari pengobatan di klinik kesuburan.
"Apakah Anda menjadi stres karena tidak subur atau stres menyebabkan kemandulan? tanya Tina Jensen dari Rigshospitalet di Kopenhagen, yang telah mempelajari efek dari faktor lingkungan terhadap kualitas sperma seperti dikutip ReutersHealth, Jumat (22/2/2013).
Penelitian sebelumnya telah menemukan, pria yang melalui perawatan kesuburan atau evaluasi memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata orang, dan beberapa penelitian juga menunjukkan hubungan antara stres dan kualitas sperma.
Tapi tak seorang pun melihat apakah peningkatan stres pada pria dalam waktu singkat dan kecemasan jangka panjang memberikan efek yang berbeda. Demikian hasil penelitian yang dipimpin Elisa Vellani dari European Hospital di Roma.
Penelitian itu diterbitkan dalam Jurnal Fertility and Sterility.
Penelitian
Untuk studi baru, tim merekrut 94 pria yang mengunjungi klinik kesuburan untuk pertama kalinya, dan 85 orang lainnya yang tidak mencari perawatan kesuburan sebagai kelompok pembanding. Setiap pria memberikan sampel air mani untuk dianalisis. Para pria kemudian menjawab dua survei yang mengukur stres saat ini dan jangka panjang.
Skala kecemasan pada yang dimulai dari 20 sampai 80 poin, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan stres atau kecemasan yang lebih besar.
Rata-rata, pria di kedua grup mencetak antara 37 dan 40 pada tes, yang tidak dianggap patologis.
Kelompok Vellani ini kemudian membandingkan 28 orang dengan stres terendah dan 40 pria dengan tingkat kecemasan tertinggi. Dan peneliti menemukan orang-orang stres lebih cenderung memiliki konsentrasi dan jumlah sperma lebih rendah.
"Secara keseluruhan, pengamatan kami sangat menyarankan (stres dan kecemasan) mungkin merupakan faktor penting yang terlibat dalam kesuburan pria," tulis para peneliti.
Dalam standar Organisasi Kesehatan Dunia, jumlah di atas 15 juta sperma per mililiter dianggap normal.
Peneliti juga mencatat, hubungan antara stres dan kualitas sperma yang lebih lemah pada pria yang tak mencari perawatan kesuburan, dan juga pada pria yang kelihatannya mempunyai sperma yang bagus.
Sementara itu, Jensen mengatakan, sulit melihat perbedaan pada pria yang paling stres dalam penelitian itu. Tapi hasilnya mungkin paling relevan untuk pria yang melalui perawatan kesuburan.
"Umumnya, untuk pria normal itu tidak penting," pungkasnya.(Mel/Igw)