Masa Kelam Suporter Indonesia di 2022: Dari Bobotoh di GBLA hingga Aremania di Tragedi Kanjuruhan

Tahun 2022 menjadi masa kelam sepakbola Indonesia, mulai dari meninggal dunianya bobotoh saat Persib bertanding di Stadion Gelora Bandung Lautan Api hingga Aremania di Tragedi Kanjuruhan.

oleh Jefry HutabaratDiterbitkan 03 Oktober 2022, 12:00 WIB
Mobil dibakar di luar Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). Sebanyak 127 orang tewas ketika para penggemar yang marah menyerbu lapangan sepak bola setelah pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022. (PUTRI/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Hingga saat ini, 125 orang dinyatakan meninggal dunia akibat kerusuhan usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan dalam lanjutan pekan ke-11 Liga 1 2022-2023, Sabtu 1 Oktober 2022 malam WIB.

Kejadian ini diduga berawal dari Aremania yang tak terima tim kesayangan mereka kalah. Suporter langsung turun ke lapangan dari tribun penonton. Alhasil, mereka bentrok dengan petugas keamanan sembari melakukan perusakan di dalam stadion yang membuat kondisi menjadi tidak kondusif.

Akibat tragedi Kanjuruhan ini, Indonesia terancam mendapatkan sanksi FIFA dan dapat berdampak pencabutan status tuan rumah Piala Dunia U-20 2023.

Korban kerusuhan tragedi Arema lebih banyak ketimbang tragedi Heysel yang mempertemukan Liverpool vs Juventus di final Liga Champions 1984-1985. Kondisi itulah yang membuat Indonesia dalam hal ini PSSI, berpotensi mendapat hukuman dari FIFA selaku Federasi Sepakbola Dunia.

Ini bukan kali pertama sepakbola Indonesia memakan korban di tahun ini. Sebelumnya, dua pendukung Persib, Asep Ahmad Solihin dan Sopiana Yusup, meninggal dunia ketika hendak menonton pertandingan Piala Presiden antara Persib dan Persebaya pada Juni lalu di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung.

Asep Ahmad Solihin, warga gang TVRI RT 02 RW 03, Kelurahan Cibaduyut Wetan, Kecamatan Bojong Loa Kidul, Kota Bandung dan Sopiana Yusuf, warga asal Bogor, Jawa Barat.

Itu berarti sudah ada dua insiden yang mengakibatkan suporter klub di Indonesia meninggal dunia, mulai dari kelompok suporter bobotoh sebutan bagi kelompok Persib Bandung dan Aremania bagi kelompok suporter Arema Malang.

 

 


Tragedi Kanjuruhan Disorot Media Asing

Suporter memasuki lapangan saat terjadi kerusuhan pada pertandingan sepak bola antara Arema Vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, 1 Oktober 2022. Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta dalam jumpa pers di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu, mengatakan dari 127 orang yang meninggal dunia tersebut, dua di antaranya merupakan anggota Polri. (AP Photo/Yudha Prabowo)

Media FoxSport misalnya, menurunkan berita dengan judul ‘More than 100 people dead, league suspended as football riot ends in disaster’ (Lebih dari 100 orang tewas, liga ditangguhkan saat kerusuhan sepak bola berakhir dengan bencana).

Demikian juga dengan The New York Times yang menurunkan berita berjudul, ‘Riots at Indonesian Soccer Match Leave Several Fans Dead’ (Ricuh di pertandingan sepak bola Indonesia menewaskan beberapa fans tewas).

Media Inggris, The Guardian juga turut memberitakan tragedi Kanjuruhan Malang tersebut, dengan menurunkan berita berjudul ‘More than 120 people reportedly killed in riot at Indonesian football match’ (Lebih dari 120 orang dilaporkan tewas dalam kerusuhan di pertandingan sepak bola Indonesia).

Lanjut Baca:

Media olahraga Spanyol Marca yang fokus pada sepak bola mengeluarkan artikel berjudul ‘Nightmare on the field: Dozens dead after all-out brawl in Indonesian league’ (Mimpi buruk di lapangan: Puluhan orang tewas usai tawuran habis-habisan di liga Indonesia). Sementara media Australia, ABC News hingga berita ini dilansir, menjadikan kabar tersebut sebagai breaking news dengan judul ‘Kekerasan di pertandingan sepak bola Indonesia telah menewaskan 127 orang, kata polisi’. ABC juga menurunkan artikel berjudul ‘Polisi Indonesia mengatakan 127 orang tewas setelah terinjak-injak di pertandingan sepak bola’.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya