Pesan Moral di Balik Film Drama Marriage Story, Cinta Saja Belum Cukup!

Film ini menggambarkan bahwa cinta saja belum cukup. Butuh kerja sama satu sama lain, untuk saling mengerti, memahami, dan menerima kekurangan satu sama lain.

oleh stella marisDiperbarui 05 September 2022, 13:30 WIB
Film drama Marriage Story/IMDb.

Liputan6.com, Jakarta Marriage Story merupakan film yang rilis di Netflix pada Desember 2019 dan disutradarai Noah Baumbach. Film drama ini ingin memberi gambaran kepada penonton tentang realita sepasang kekasih dalam menjalani kehidupan rumah tangga, dimana perbedaan kecil dapat tumbuh menjadi masalah. 

Dibintangi oleh dua aktris hollywood Adam Driver dan Scarlett Johansson sebagai pemeran utama, film ini berhasil mendapat rating 95% dari 368 ulasan dari Rotten Tomatoes dan 7,9/10 dari IMDb. 

Film berdurasi dua jam ini berhasil menerima enam nominasi di 92th Academy Awards, salah satunya Best Picture, Best Original Screenplay, Best Actor (Adam Driver), Best Actress (Scarlett Johansson).

Pemeran utama juga diganjar penghargaan berupa Outstanding Performers of the Year Award oleh Santa Barbara International Film Festival pada 17 Januari 2020.


Sinopsis Marriage Story

Scarlett Johansson dan Adam Driver jadi tokoh utama dalam film drama Marriage Story/IMDb.

Menceritakan dua rekan kerja Charlie Barber (Adam Driver) seorang sutradara teater yang tinggal di Kota New York dan Nicole Barber (Scarlett Johansson) yang merupakan mantan aktris film remaja. Mereka jatuh cinta dan memutuskan menikah dan keduanya dikaruniai seorang anak bernama Henry Barber. 

Di usia pernikahan yang masih muda, beberapa masalah muncul hingga menyebabkan keretakan rumah tangga mereka. Masalah yang dialami mulai dari kebiasaan Charlie yang tidak rapi menyimpan barang bawaan sepulang kerja, hingga Nicole yang terlalu ikut campur ke urusan pekerjaan suaminya. 

Adegan pembuka pada film ini menggambarkan keromantisan antara Nicole dan Charlie. Mereka mendeskripsikan hal apa saja yang disukai satu sama lain. Adegan tersebut tentunya membuat penonton merasa bahwa kehidupan rumah tangga mereka akan berjalan bahagia. 

Masuk ke usia pernikahan yang baru seumur jagung, mereka mulai mengetahui hal-hal buruk alias kekurangan satu sama lain. Mereka sadar kalau pernikahan mereka akan berakhir ke jurang perpisahan. Ditambah lagi karakter Charlie pada film ini dibentuk egois di mata Nicole yang merupakan juniornya dalam dunia drama teater.

Charlie dan Nicole saat bertemu dengan konsultan pernikahan/IMDb.

Sebelum memutuskan untuk berpisah, mereka sempat konsultasi dengan mendatangi ahli psikologi pernikahan. Mereka diberi saran untuk membuat tulisan hal apa saja yang disukai satu sama lain, lalu membacakan tulisan tersebut secara bergantian. Namun sayangnya, mereka menganggap saran tersebut tidak membantu hingga akhirnya membuat Nicole enggan berkonsultasi lagi. 

Lanjut Baca:

Selanjutnya mereka kembali menjalani kehidupan bersama sambil merawat putra semata wayangnya Henry yang masih menginjak sekolah dasar. Namun keseharian rumah tangga mereka terasa hambar dan tidak romantis seperti sebelumnya.  Singkat cerita, saat Charlie berkunjung ke rumah mertuanya di Los Angeles dia menerima dokumen perceraian yang diajukan Nicole. Akhirnya mereka sepakat berpisah secara damai.  Untuk mengurus hak asuh Henry sang anak, Nicole meminta bantuan pengacara andal Nora Fanshaw. Sementara Charlie lebih memilih pengacara senior Jay Moratta untuk mendampinginya selama proses pengadilan.  Kedua pengacara tersebut berdebat dengan sengit, Nora yang agresif dan Jay yang memiliki cara kotor untuk memenangkan hak asuh saling membongkar kejelekan dan kesalahan dari Nicole dan Charlie.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya