Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana membangun stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) dengan investasi sekitar Rp 5 miliar- Rp 10 miliar. SPBG itu akan melayani mobil dinas di Kantor Kementerian ESDM.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM Fx Sutijastoto mengatakan pemanfaatan SPBG ini dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 2.000 liter per hari setara premium.
"Ini ada demo plant, kapasitas 2.000 liter setara premium per hari," kata Sutijastoto, di Kantornya, Jakarta, Selasa (5/2/2013).
Pembangunan tersebut SPBG membutuhkan lahan sebanyak 1.000-2.000 meter persegi untuk menaruh komponen-komponen operasional pendukung SPBG. "Investasinya tidak mahal kok, sekitar Rp 5 miliar sampai Rp 10 miliar," ungkap Surijastoto.
Balitbang akan mengusulkan ke pemerintah agar converter kit dibagikan ke kendaraan dinas dan mempersiapkan infrastruktur SPBG di Kantor Kementerian ESDM.
"Kami siapkan infrastrukturnya. Jadi membangunnya dari kantor-kantor pemerintah," jelas Surijastoto
Surijastoto mengatakan dengan digunakannya gas sebagai bahan bakar kendaraan dinas dapat mengurangi beban pengeluaran pemerintah. Pasalnya kendaraan dinas saat ini diwajibkan menggunakan BBM nonsubsidi dengan harga yang mahal, sedangkan jika kendaraan tersebut menggunakan gas harganya lebih murah.
"Mobil dinas saya pakai BBG, paling mahal Rp 79 ribu untuk 3 hari. Ini berarti akan meringankan para PNS. Kalau pakai Pertamax itu kan berat juga," tutup Surijastoto. (Pew/Ndw)
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM Fx Sutijastoto mengatakan pemanfaatan SPBG ini dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 2.000 liter per hari setara premium.
"Ini ada demo plant, kapasitas 2.000 liter setara premium per hari," kata Sutijastoto, di Kantornya, Jakarta, Selasa (5/2/2013).
Pembangunan tersebut SPBG membutuhkan lahan sebanyak 1.000-2.000 meter persegi untuk menaruh komponen-komponen operasional pendukung SPBG. "Investasinya tidak mahal kok, sekitar Rp 5 miliar sampai Rp 10 miliar," ungkap Surijastoto.
Balitbang akan mengusulkan ke pemerintah agar converter kit dibagikan ke kendaraan dinas dan mempersiapkan infrastruktur SPBG di Kantor Kementerian ESDM.
"Kami siapkan infrastrukturnya. Jadi membangunnya dari kantor-kantor pemerintah," jelas Surijastoto
Surijastoto mengatakan dengan digunakannya gas sebagai bahan bakar kendaraan dinas dapat mengurangi beban pengeluaran pemerintah. Pasalnya kendaraan dinas saat ini diwajibkan menggunakan BBM nonsubsidi dengan harga yang mahal, sedangkan jika kendaraan tersebut menggunakan gas harganya lebih murah.
"Mobil dinas saya pakai BBG, paling mahal Rp 79 ribu untuk 3 hari. Ini berarti akan meringankan para PNS. Kalau pakai Pertamax itu kan berat juga," tutup Surijastoto. (Pew/Ndw)