Pekerjaan Rumah Qatar Jelang Bergulirnya Piala Dunia 2022

Tinggal 100 hari lagi Piala Dunia 2022 di Qatar digelar. Masih ada masalah serius yang perlu segera ditangani Qatar, terutama soal hak asasi manusia para pekerja.

oleh Yo KavyaDiterbitkan 15 Agustus 2022, 15:00 WIB
Pekerja melintas di depan pembangunan Stadion Lusail di Qatar, Jumat (20/12). Lusail akan menjadi stadion untyuk partai pembuka dan penutup piala dunia 2022 di Qatar. (AFP/Giuseppe Cacace)

Liputan6.com, Jakarta Desakan Human Rights Watch (HRW) kepada FIFA dan pemerintah Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 merupakan kesekian kalinya untuk mengingatkan tentang masalah hak asasi.

HRW dalam catatan terkininya pada Jumat (12/8/2022), kurang dari 100 hari perhelatan Piala Dunia 2022, membeberkan pekerjaan (PR) yang ada.

"Kami mengingatkan mengenai pekerja migran yang menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah Qatar," begitu pernyataan HRW. Lembaga itu juga mendesak FIFA untuk meningkatkan kompensasi bagi pekerja migran dan keluarga mereka.

HRW membeberkan perlunya program pemulihan bagi para pekerja migran saat para pekerja itu mengerjakan proyek terkait Piala Dunia 2022 seperti stadion, transportasi, dan hotel.

Pada 2010, Qatar mendapatkan posisi tuan rumah Piala Dunia setelah memenangkan pemungutan suara dari 22 anggota eksekutif FIFA. Qatar mengalahkan pesaing lainnya yaitu Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, Jepang, dan Australia. Qatar merupakan negara Arab pertama yang menjadi tuan rumah pesta olahraga dunia bergengsi.

Setelah terpilih, Qatar langsung bergegas membangun dan merenovasi berbagai infrastruktur. Puluhan ribu pekerja dari berbagai negara berdatangan.

Selama satu dasawarsa terakhir, negara Teluk kaya raya tersebut menggencarkan proyek pembangunan besar-besaran demi menciptakan pengalaman berkesan untuk tim sepak bola, suporter, dan tentu saja korporat.

Tak hanya mendirikan stadion, mereka juga membangun fasilitas penunjang seperti jalan raya, jaringan kereta, pelabuhan, bandara, sampai rumah sakit, yang kabarnya meraup biaya sampai USD 200 miliar.


Data

Bangun Stadion Piala Dunia, Qatar Gunakan Kerja Paksa (AFP)

Namun terjadi banyak tragedi yang memiriskan sepanjang pembangunan megar proyek itu. Media Inggris, Guardian dalam temuannya yang diberitakan (23/2/2021) mengungkapkan sedikitnya 6.500 pekerja migran sudah meninggal.

Berdasarkan dokumen dari otoritas Qatar dan pihak-pihak kedutaan, mereka berhasil mengumpulkan data kematian 5.927 migran asal India, Bangladesh, Nepal dan Sri Lanka selama 2011-20, ditambah 824 korban jiwa dari Pakistan antara 2010-20.

Data itu merepresentasikan seluruh pekerja dari kawasan Asia Selatan di berbagai sektor industri di Qatar. Angka kematian belum dilengkapi dengan informasi tentang profesi atau lokasi kerja.

Lanjut Baca:

Guardian menjadi media paling gencar yang menginvestigasi kondisi kerja pekerja migran di Qatar. Sejak September 2013, mereka sudah melaporkan dugaan eksploitasi terhadap pekerja asal Nepal di proyek-proyek infrastruktur penunjang Piala Dunia: upah yang ditahan berbulan-bulan, penyitaan paspor, akomodasi tak layak, dan berbagai penindasan lain di tempat kerja. HRW sendiri sejak 2019 sudah meminta otoritas Qatar agar merilis data yang lebih lengkap tentang kematian pekerja migran selama enam tahun terakhir, dengan kategori usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan dan penyebab kematian menurut otopsi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya