Dipandang Sebelah Mata, Akhirnya Jadi Permata

Memiliki keterbatasan fisik bukan penghalang bagi seseorang untuk berkarya dan meraih prestasi. Penyandang disabilitas juga berhak mendapatkan kesempatan yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Hal ini telah dibuktikan sejumlah atlet disabilitas seperti Edy Susanto dan David Jacobs.

oleh Liputan6.comDiperbarui 08 Juni 2022, 15:40 WIB
Aksi pebulu tangkis tuna rungu, Edy Susanto saat ingin melakukan servis kepada anak muridnya yang sedang diajak latih tanding di Lapangan Garuda, Jakarta Barat, Minggu (24/4/2022) (Jesslyn)

Liputan6.com, Jakarta Lapangan bulu tangkis Garuda di Jakarta Barat berdenyut. Suara lantai berdecit terdengar dari telapak sepatu anak-anak yang tengah berlatih di dalamnya. Silih berganti mereka mengayunkan raket. Menyambut shuttlecock yang dilempar melintasi jaring net. Terkadang, sembari melompat tinggi sebelum melepas smes keras ke lapangan kosong. Mereka bergerak mengikuti instruksi yang diberikan sang pelatih, Edy Susantoatlet disabilitas rungu Indonesia.

Ada 10 anak. Mereka dibagi dalam dua kelompok. Edy tampak menangani kelompok yang dihuni empat anak, sedangkan satu kelompok lain yang berjumlah enam orang ditangani asistennya bernama, Muhammad Enrico.

Lapangan mereka ber-sebelah-sebelahan. Namun ada kalanya anak-anak mendapat kesempatan bertukar tempat sesuai dengan instruksi pelatih. Siang itu, Edy mengenakan kaos merah berlogo Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) den gan gambar bendera Merah Putih di lengannya. Pria berusia 38 tahun tersebut tampak serius meski keringat mengalir membasahi tubuhnya.

Tumpukan shuttlecock menutupi lengan kiri Edy. Satu per satu kemudian dilemparkan ke arah anak didiknya untuk kemudian dipukul melewati net.

Sepintas, Edy tidak berbeda dengan pelatih-pelatih bulu tangkis pada umumnya. Hanya saja, sebagai penderita disabilitas rungu, Edy tak banyak bersuara. Instruksi lebih banyak diberikan Edy lewat gerakan tangannya.

“Oi..Oi,” teriak Edy kepada salah seorang muridnya, Lionita. Perempuan berusia 10 tahun itu menolah. Namun Edy tidak lagi mengeluarkan suara. Dia terlihat menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah meneguk minuman dari botol.

Lionita paham. Waktunya istirahat. Dia lalu menepi dan meneguk air dari botol minumannya sebelum bergegas kembali ke lapangan melanjutkan latihan.

Lionita Faranissa berada di kelompok yang dihuni empat orang. Mereka merupakan anak-anak disabilitas rungu seperti Edy. Menurut ayahnya, Then Tjun Fuk, Lionita sudah tiga tahun berlatih bulu tangkis. Dia membawa anaknya berlatih bersama Edy setelah mendapat informasi dari salah satu kerabatnya.

“Anak saya menyandang disabilitas rungu sejak lahir,” ujar Then Tjun Fuk, ayah Lionita saat ditemui di pinggir lapangan. “Saat ini dia sekolah di SLB B Pangudi Luhur,” dia menambahkan.

Lanjut Baca:

Then mengaku, sejak ditangani Edy, Lionita mengalami banyak kemajuan dalam bermain bulu tangkis. Selain itu, rasa percaya diri Lionita juga ikut meningkat. Dia pun tidak akan menolak bila suatu saat Lionita ingin mengikuti jejak Edy. “Dulu, anak saya pemalu sekali. Tapi ketika bermain bulu tangkis dia jadi percaya diri,” kata pria yang akrab disapa Afu tersebut. “Kalau dia punya kemampuan jadi atlet, kami akan dukung,” ujarnya lagi. Di kelompok yang sama juga dihuni Davina. Bocah berusia 10 tahun itu teman satu sekolah Lionita. Mereka digabung dengan dua anak lain yang memiliki disabilitas sama. Saat berinteraksi, mereka juga menggunakan bahasa isyarat.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya