Liputan6.com, Surabaya: Memiliki anak yang cerdas memang cita-cita hampir seluruh orang tua. Soalnya, kecerdasan membawa sang anak kelak menjadi manusia dewasa yang berguna dan pada akhirnya membuat yang bersangkutan mampu memecahkan masalah, terutama berkaitan dengan persoalan hidup. Itulah sebabnya, banyak orang tua membekali anak-anak sejak dini dengan bermacam pengetahuan yang dapat menambah kecerdasan mereka. Belakangan, para orang tua tak cuma memberikan buah hati mereka dengan serangkaian pelajaran umum, namun juga dengan pendidikan musik. Bahkan, ada yang memperdengarkan musik sejak bayi dalam kandungan.
Sejumlah penelitian mengungkapkan kaitan kecerdasan anak dan musik. Di antaranya, dikenal dengan efek Mozart, musik bisa menenangkan atau merangsang gerak dan denyut jantung seorang bayi dalam kandungan. Bahkan, bayi-bayi prematur yang mendengarkan musik klasik di ruang perawatan, cenderung lebih cepat meninggalkan rumah sakit. Mereka juga memiliki peluang bertahan hidup lebih tinggi. Sedangkan di usia balita, berlatih musik secara teratur bisa merangsang keterampilan motorik, matematika, dan membaca lebih baik daripada kawan-kawan mereka yang tidak berlatih musik.
Di Indonesia, musik sebagai sebuah cara untuk merangsang kecerdasan anak juga mulai dikembangkan. Buntutnya, orang tua tak cuma membekali anak dengan buku, tapi juga dengan mengkursuskan sang buah hati ke lembaga-lembaga musik. Ivon Maria, seorang guru piano di Surabaya, Jawa Timur, baru-baru ini, mengatakan, anak yang belajar piano lebih mudah menyerap pelajaran di sekolah. Sebab, seperti dikatakan Campbell dalam bukunya Efek Mozart, musik mampu menciptakan suasana yang merangsang pikiran dalam belajar. Musik klasik, seperti Haydn dan Mozart juga bisa memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial. Begitu juga dengan jenis musik lain, seperti Jazz, New Age, Latin, dan Pop.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)
Sejumlah penelitian mengungkapkan kaitan kecerdasan anak dan musik. Di antaranya, dikenal dengan efek Mozart, musik bisa menenangkan atau merangsang gerak dan denyut jantung seorang bayi dalam kandungan. Bahkan, bayi-bayi prematur yang mendengarkan musik klasik di ruang perawatan, cenderung lebih cepat meninggalkan rumah sakit. Mereka juga memiliki peluang bertahan hidup lebih tinggi. Sedangkan di usia balita, berlatih musik secara teratur bisa merangsang keterampilan motorik, matematika, dan membaca lebih baik daripada kawan-kawan mereka yang tidak berlatih musik.
Di Indonesia, musik sebagai sebuah cara untuk merangsang kecerdasan anak juga mulai dikembangkan. Buntutnya, orang tua tak cuma membekali anak dengan buku, tapi juga dengan mengkursuskan sang buah hati ke lembaga-lembaga musik. Ivon Maria, seorang guru piano di Surabaya, Jawa Timur, baru-baru ini, mengatakan, anak yang belajar piano lebih mudah menyerap pelajaran di sekolah. Sebab, seperti dikatakan Campbell dalam bukunya Efek Mozart, musik mampu menciptakan suasana yang merangsang pikiran dalam belajar. Musik klasik, seperti Haydn dan Mozart juga bisa memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial. Begitu juga dengan jenis musik lain, seperti Jazz, New Age, Latin, dan Pop.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)