Liputan6.com, Sumba Timur: Sejumlah lelaki dengan gagah berkuda di hamparan hijau sambil menggiring puluhan kuda. Pecut mereka bermain indah bak musik penyemangat. Kawanan hewan ternak itu pun berjalan seiring menuruti perintah tuannya. Pemandangan itu bukan di Negeri Koboi. Tapi di Pulau Sumba, Nusatenggara Timur. Para penunggang kuda adalah penduduk Desa Mao Bakul, Kecamatan Pendawai, Kabupaten Sumba Timur yang terkenal sebagai peternak ulung.
Sejak dulu kala, sebagian besar penduduk Desa Mao Bakul sudah mencari hidup dari beternak kuda, sapi, dan kerbau. Rutinitas itu terus digeluti bertahun-tahun. Cukup sederhana cara mereka beternak. Hewan hanya diberi makan rumput yang banyak tumbuh di sana. Setiap pagi hingga petang, beramai-ramai para pria berpakaian kain tenun, menggiring ternaknya ke sebuah padang. Jika rumput sudah habis, gembala kembali mencari lokasi baru yang masih hijau. Biar tak jenuh saat menggembala. Arena pacuan kuda pun digelar. Kini, bermula dari sekadar iseng, warga Desa Mao Bakul menjadikan ajang pacuan sebagai "kawah candradimuka" untuk mencari bibit penunggang kuda yang tangguh. Kegiatan tersebut berlangsung hingga saat pulang tiba.
Menjelang petang, sambil menikmati guyuran matahari senja, para penggembala perlahan-lahan memasukkan kuda mereka ke kandang. Sedangkan sapi jarang dikandangkan. Hewan menyusui itu dibiarkan berkumpul di hamparan rumput tak jauh dari gerbang perkampungan. Peternak baru membawa sapi ke kandang jika hendak dipotong atau dijual.
Ironisnya hewan ternak yang digembalakan penduduk, tak semua milik mereka. Kebanyakan warga hanya menjadi buruh penggembala. Latar belakang pendidikan yang rendah membuat mereka harus menggantungkan hidup pada kemurahan hati pemilik peternakan. Jangankan untuk bersenang-senang, rumah saja masih terbuat dari kayu dan beratapkan daun rumbia. Bahkan tak jarang satu rumah diisi oleh beberapa kepala keluarga. Untuk mengepulkan asap dapur, para istri turut bekerja dengan menenun kain. Sayang, keuntungan dari membuat kain khas Sumba juga tak cukup menunjang. Soalnya, harga satu sarung hanya sekitar Rp 300 ribu per lembar. Sedangkan, seorang penenun bisa menghabiskan waktu dua hingga tiga bulan, buat menenun selembar kain.
Meski hidup sederhana, masyarakat Sumba percaya beternak tidak sekadar menjadi sandaran hidup, tapi juga media kesenian. Untuk menyambut tamu penting, warga Desa Mao Bakul suka menggelar acara adat Tari Ronggeng. Dalam acara itu beberapa kuda terlatih--biasa disebut kuda ronggeng--menari dituntun pelatihnya. Gerakan kuda tampak begitu serasi diiringi lantunan nyayian para wanita.
Ternyata tak hanya kuda yang menjadi simbol kebanggaan di pulau seluas lebih dari 11 ribu kilometer persegi itu. Di Kampung Rende, misalnya. Sebagian besar rumah adat di sana, berdinding kulit kerbau. Sementara tanduknya dipasang di pintu rumah sebagai lambang kebesaran suku. Beberapa di antara rumah adat, ada yang sudah berumur ratusan tahun. Rumah itu dijaga seorang juru kunci yang dipilih anggota suku.
Alkisah, Kampung Rende dahulu terkenal sebagai pencetak raja-raja besar di Sumba Timur. Masyarakat percaya makam-makam terbuat dari batu di tengah kampung adalah bukti perjalanan sejarah Negeri Sumba. Di setiap nisan makam tergambar bermacam hewan. Hal itu menunjukkan bahwa hewan ternak begitu dipercaya sebagai lambang kekuatan. Kepercayaan itulah yang terus mengakar sehingga nama Pulau Sumba mengharum dengan Pulau Seribu Ternak.(KEN/Tim Potret)
Sejak dulu kala, sebagian besar penduduk Desa Mao Bakul sudah mencari hidup dari beternak kuda, sapi, dan kerbau. Rutinitas itu terus digeluti bertahun-tahun. Cukup sederhana cara mereka beternak. Hewan hanya diberi makan rumput yang banyak tumbuh di sana. Setiap pagi hingga petang, beramai-ramai para pria berpakaian kain tenun, menggiring ternaknya ke sebuah padang. Jika rumput sudah habis, gembala kembali mencari lokasi baru yang masih hijau. Biar tak jenuh saat menggembala. Arena pacuan kuda pun digelar. Kini, bermula dari sekadar iseng, warga Desa Mao Bakul menjadikan ajang pacuan sebagai "kawah candradimuka" untuk mencari bibit penunggang kuda yang tangguh. Kegiatan tersebut berlangsung hingga saat pulang tiba.
Menjelang petang, sambil menikmati guyuran matahari senja, para penggembala perlahan-lahan memasukkan kuda mereka ke kandang. Sedangkan sapi jarang dikandangkan. Hewan menyusui itu dibiarkan berkumpul di hamparan rumput tak jauh dari gerbang perkampungan. Peternak baru membawa sapi ke kandang jika hendak dipotong atau dijual.
Ironisnya hewan ternak yang digembalakan penduduk, tak semua milik mereka. Kebanyakan warga hanya menjadi buruh penggembala. Latar belakang pendidikan yang rendah membuat mereka harus menggantungkan hidup pada kemurahan hati pemilik peternakan. Jangankan untuk bersenang-senang, rumah saja masih terbuat dari kayu dan beratapkan daun rumbia. Bahkan tak jarang satu rumah diisi oleh beberapa kepala keluarga. Untuk mengepulkan asap dapur, para istri turut bekerja dengan menenun kain. Sayang, keuntungan dari membuat kain khas Sumba juga tak cukup menunjang. Soalnya, harga satu sarung hanya sekitar Rp 300 ribu per lembar. Sedangkan, seorang penenun bisa menghabiskan waktu dua hingga tiga bulan, buat menenun selembar kain.
Meski hidup sederhana, masyarakat Sumba percaya beternak tidak sekadar menjadi sandaran hidup, tapi juga media kesenian. Untuk menyambut tamu penting, warga Desa Mao Bakul suka menggelar acara adat Tari Ronggeng. Dalam acara itu beberapa kuda terlatih--biasa disebut kuda ronggeng--menari dituntun pelatihnya. Gerakan kuda tampak begitu serasi diiringi lantunan nyayian para wanita.
Ternyata tak hanya kuda yang menjadi simbol kebanggaan di pulau seluas lebih dari 11 ribu kilometer persegi itu. Di Kampung Rende, misalnya. Sebagian besar rumah adat di sana, berdinding kulit kerbau. Sementara tanduknya dipasang di pintu rumah sebagai lambang kebesaran suku. Beberapa di antara rumah adat, ada yang sudah berumur ratusan tahun. Rumah itu dijaga seorang juru kunci yang dipilih anggota suku.
Alkisah, Kampung Rende dahulu terkenal sebagai pencetak raja-raja besar di Sumba Timur. Masyarakat percaya makam-makam terbuat dari batu di tengah kampung adalah bukti perjalanan sejarah Negeri Sumba. Di setiap nisan makam tergambar bermacam hewan. Hal itu menunjukkan bahwa hewan ternak begitu dipercaya sebagai lambang kekuatan. Kepercayaan itulah yang terus mengakar sehingga nama Pulau Sumba mengharum dengan Pulau Seribu Ternak.(KEN/Tim Potret)