Tuut... Tuut... Tuut... Cerita Nostalgia dari Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa menawarkan momentum bernostalgia dengan alam pegunungan yang mempesona. Berbagai obyek dan kisah kereta api uap bisa disimak dan dinikmati di sana.

oleh Liputan6Diterbitkan 25 Januari 2003, 08:23 WIB
Liputan6.com, Ambarawa: Pagi itu, semilir angin dingin pegunungan bertiup lembut. Matahari pun seakan enggan terburu-buru menyinari bumi. Namun sebagian petani dan penjual bunga di kota kecil Ambarawa mulai tergesa beraktivitas seperti biasa. Samar-samar, desis air mendidih pun terdengar lirih di kejauhan, dekat sebuah garasi tempat parkir lokomotif tua. Bunyi itu semakin nyata ketika waktu menunjukkan dua jam sudah uap air panas siap digunakan sepenuhnya. Pagi itu, kereta api uap kuno kembali bakal beraksi. Tuut... tuut... tuut... berjalan perlahan, membawa kisah nostalgia dari Stasiun Ambarawa.

Suasana serupa acap terjadi di setiap akhir pekan. Maklum saja, di stasiun tua yang letaknya sekitar 50 kilometer sebelah selatan Ibu Kota Jawa Tengah, Semarang ini, kereta-kereta api uap kerap berkeliling mengantar wisatawan lokal dan mancanegara. Buat mereka, yang ingin mengenang kembali saat-saat indah di masa silam, sembari menikmati keindahan alam, melintasi sawah dan kampung, sambil menelisik sedikit keberadaan kereta-kereta yang rata-rata berusia seabad itu.

Ihwal transportasi berusia seratusan tahun tadi bukan isapan jempol. Di stasiun yang dulunya bernama Willem I--raja dari Belanda pada waktu itu--sebenarnya menyimpan banyak kisah sejarah. Awalnya, Stasiun Ambarawa dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscappij pada 1864, seiring invasi militer Negeri Kincir Angin di tanah Jawa. Pembangunannya diprioritaskan buat memudahkan pengangkutan pasukan ke Ambarawa, yang dijadikan basis militer. Saat itu, Belanda memang tengah membuka jalur Yogyakarta-Magelang, yang melebar ke Secang dan akhirnya sampai Ambarawa plus Semarang. Awalnya, Desa Kemijen menjadi saksi kala kereta api didatangkan untuk pertama kali.

Kesuksesan Belanda tak abadi. Di Ambarawa yang dikenal sebagai Kota Perang, gempuran perlawanan Indonesia seakan tak pernah berhenti. Pada masa perjuangan itulah, Ambarawa melahirkan nama-nama pejuang seperti Jenderal Gatot Subroto dan Jenderal Sudirman. Masa berlalu, Indonesia pun merdeka. Stasiun Ambarawa tak terdengar lagi kisah hebatnya.

Tepat pada 1970, Stasiun Ambarawa dinyatakan ditutup oleh pemerintah. Akibatnya, jalur Semarang-Magelang-Yogyakarta mati. Namun pada 21 April 1978, Stasiun Ambarawa dijadikan Museum Kereta Api secara resmi oleh Gubernur Jateng Soepardjo Rustam. Alasannya, di lokasi yang terletak pada ketinggian 474 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut memiliki latar belakang sejarah kuat saat masa penjajahan Belanda. Keberadaan museum itu menambah deretan obyek wisata di sana. Sebut saja Depo KA (tempat merawat lokomotif kereta, kepala mesin untuk menarik atau mendorong gerbong), Palagan Ambarawa, Gua Maria Kerep, Benteng Belanda, Candi Gedung Songo, dan Rawa Pening.

Jalur kereta Ambarawa-Tuntang juga dibuka kembali untuk menunjang pengembangan pariwisata Danau Rawapening yang akan dijadikan pusat pariwisata Jateng. Awal Maret 2002, jalur tersebut resmi dibuka oleh Gubernur Jateng Mardiyanto. Sementara jalur khusus trayek kereta wisata sengaja dibuat dari Ambarawa ke Bedono, stasiun di ketinggian 711 mdpl, yang juga menghadirkan rel khusus untuk alur kereta rack and pinion sejak dari Stasiun Jambu. Sedangkan track lainnya yang sudah dinyatakan rusak berat, ditutup.

Ada kawasan menarik saat jalur rel melintasi areal luas kebun kopi yang disebut "Kopi Eva". Maklum, rel itu berada di atas dan bersisian tepat dengan jalan raya Ambarawa-Magelang. Beberapa pengemudi mobil atau penumpang bus antarkota sering melambai-lambaikan tangan ke arah orang-orang di dalam kereta tua ini.

Tak sedikit bukti sejarah yang tersimpan di Museum Kereta Api Ambarawa. Mulai dari kereta api wisata (Railway Mountain Tour), pesawat telepon kuno, pesawat telegram morse, meja kursi dan almari kuno, genta penjaga, wesel, pencetak manual karcis--dengan tanggal, bulan, dan jam jadwal keberangkatan kereta, serta 21 buah lokomotif buatan 1821 sampai periode 1922.

Lokomotif kuno tersebut adalah buatan berbagai negara. Perusahaan pembuatnya pun beraneka ragam, ada dari pabrik Hartmann Chemnitz Belanda, Beyer Peacock Manchester Inggris, Hanomag Hannover Jerman, Sachistik MF Chemnits Jerman, Wintherthur Scheweis, Werk Spoor Amsterdam, dan pabrik Hanshel Shassel Jerman.

Meski begitu, khusus buat pariwisata, hanya tiga lokomotif yang masih berfungsi. Dua di antaranya bernama B2502 dan B2503 dan dipakai buat turis di Ambarawa. Kedua lokomotif ini merupakan jenis kereta khusus yang dibuat pabrik Esslingen di Jerman pada 1902 dan 1906. Simbol B pada nama kedua kereta artinya lokomotif yang berjalan dengan dua roda penggerak. Sedangkan satu kereta lainnya adalah E1060--kereta uap yang lebih moderen--yang dibangun perusahaan serupa pada 1966 untuk melayani jalur di Sumatra Barat.

Kereta api uap di Ambarawa ini masih menggunakan bahan bakar kayu. Menurut juru api yang bertugas menyiapkan bahan bakar lokomotif, kayu jati dipilih sebagai bahan baku utama. Sebab, bila terbakar, kayu jati tak langsung menjadi abu namun sempat terus membara dengan panas yang stabil. Jadi, tenaga uap dari pembakaran kayu jati di dalam tungku bisa dimanfaatkan secara maksimal. Uap inilah yang nantinya dijadikan tenaga pendorong roda. Meski kecepatannya disesuaikan dengan kekuatan kereta, jalannya lebih lambat dari mobil. Paling cepat hanya mampu antara 30-50 kilometer per jam. Paling lambat bisa 5 Km/jam. Jadi rute Ambarawa-Bedono--sekitar 10 kilometer--bakal menghabiskan waktu kurang dari satu jam.

Lokomotif B2503 menarik dua gerbong kayu berwarna hijau buatan Belanda pada 1911 dan 1909, dengan jendela tanpa kaca, buat sirkulasi udara yang maksimal. Kapasitas masing-masing gerbong hanya mampu memuat 40 penumpang. Semua ornamen di dalam gerbong masih orisinil yang didominasi kayu. Setiap beberapa waktu, menurut Kepala Bagian Jalan dan Bangunan Stasiun Ambarawa Subagiyo, semuanya diperbaharui, dicat, atau diplitur. Masing-masing gerbong memiliki rem sendiri, yang bisa digerakkan tangan. Fungsinya untuk menahan laju lokomotif saat menurun.

Dari Stasiun Jambu, rel yang digunakan terdiri dari tiga rel baja. Rel di bagian tengah itu merupakan rel tambahan untuk menahan kereta supaya tidak melorot ke bawah. Lokomotif B 2503 juga memiliki gigi-gigi besi yang bisa menjepit rel khusus itu. Rel tersebut berbeda dengan rel biasa yang terdiri dari satu besi baja panjang. Rel ini terdiri dari dua besi panjang yang di dalamnya terdapat besi-besi kecil yang melintang. Besi-besi kecil inilah yang dijepit oleh gigi-gigi besi lokomotif.

Setiba di Stasiun Bedono, lokomotif diisi air. Menurut masinis, untuk sebuah perjalanan dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Bedono, membutuhkan dua ton kayu yang digunakan merebus air untuk dijadikan uap tenaga penggerak lokomotif. Bila saatnya tiba, kereta wisata siap kembali ke lokasi semula.

Berwisata dengan kereta api uap kuno ini adalah pengalaman unik. Bila mau, setiap orang bisa menikmatinya. Untuk rombongan, wisatawan boleh menikmatinya dengan tarif Rp 1,6 juta. Memang cukup mahal, namun pesona yang ditawarkan cukup memuaskan. Tuut... tuut... tut... Siapa hendak turut?(BMI/Sella Wangkar dan Rafael Setyo)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya