Sepakbola adalah terpopuler di seluruh dunia, hampir semua orang mengenal sepakbola. Apalagi di Indonesia, sepakbola menjadi magnet tersendiri karena terjadi dualisme kepengurusan dan juga kompetisi. Konflik PSSI menyebabkan kompetisi berjalan berantakan, banyak tim yang sebenarnya tidak siap secara finansial untuk ikut kompetisi tapi dipaksakan untuk ikut. Akibatnya sudah jelas, banyak pemain yang tidak menerima gaji dari klubnya hingga berbulan-bulan.
Nasib pemain bola di Indonesia sangatlah miris dibandingkan nasib pemain bola di Eropa yang bergemilang harta dan kemewahan. Apalagi nasib pemain bola di tanah air ini semakin memprihatinkan akibat konflik pengurus yang berkepanjangan. Banyak pemain yang hingga akhir kompetisi tidak menerima gaji hingga berbulan-bulan dari klubnya padahal sang pemain sudah mengorbankan segalanya dari waktu, tenaga dan keluarga bagi klub yang dibelanya.
Salah satu pemain Indonesia yang terkena imbas dari konflik PSSI ini adalah Aji Nufrijal. Dia adalah mantan pemain Bontang FC yang musim lalu berkompetisi di Liga Primer Indonesia (LPI) versi PSSI Djohar Arifin. Aji belum menerima gajinya selama tujuh bulan dari Bontang FC. Dia adalah satu dari banyak pemain yang menjadi korban buruknya pengelolaan sepakbola di tanah air.
Aji tinggal di Cimahi Utara Jawa Barat, dia tinggal bersama istri dan dua anaknya setelah dari Bontang FC. Dia kini telah hijrah ke Persikabo. Untuk menutup biaya sehari-hari, Aji menjual mobil miliknya bahkan dia terpaksa menggadaikan perhiasaan milik istrinya untuk sekedar makan. Dia juga rela bermain di pertandingan tarkam (antar kampung) dengan bayaran alakadarnya.
Bukan hanya pemain lokal yang mengalami nasib yang kurang beruntung seperti itu, pemain asing pun kerap mengalami nasib serupa. Salah satunya adalah Diego Mendieta, pemain asal Paraguay ini berbulan-bulan tidak menerima gajinya dan uang juga uang muka bagian dari kontraknya dari Persis Solo hingga akhirnya meninggal dunia dalam keadaan sakit.
Ironis memang ketika para elit dan petinggi memperebutkan kekuasaan di elit sepakbola PSSI tapi mengorban para talenta terbaik sepakbola Indonesia hanya demi gengsi semata. Buruknya pengelolaaan kompetisi tidak terlepas dari konflik pengurus PSSI dan KPSI yang hanya mementingkan ego daripada prestasi bangsa Indonesia. Belum lagi adanya ancaman FIFA pada tanggal 14 Desember nanti kepada Indonesia apabila tidak dapat menyelesaikan konflik dalam organisasi dan kompetisi Liga di Indonesia. Apabila sanksi FIFA benar akan dijatuhkan maka bukan para elite PSSI dan KPSI yang menjadi korban tapi para pemain dan perkembangan sepakbola Indonesia.(JEF)
Nasib pemain bola di Indonesia sangatlah miris dibandingkan nasib pemain bola di Eropa yang bergemilang harta dan kemewahan. Apalagi nasib pemain bola di tanah air ini semakin memprihatinkan akibat konflik pengurus yang berkepanjangan. Banyak pemain yang hingga akhir kompetisi tidak menerima gaji hingga berbulan-bulan dari klubnya padahal sang pemain sudah mengorbankan segalanya dari waktu, tenaga dan keluarga bagi klub yang dibelanya.
Salah satu pemain Indonesia yang terkena imbas dari konflik PSSI ini adalah Aji Nufrijal. Dia adalah mantan pemain Bontang FC yang musim lalu berkompetisi di Liga Primer Indonesia (LPI) versi PSSI Djohar Arifin. Aji belum menerima gajinya selama tujuh bulan dari Bontang FC. Dia adalah satu dari banyak pemain yang menjadi korban buruknya pengelolaan sepakbola di tanah air.
Aji tinggal di Cimahi Utara Jawa Barat, dia tinggal bersama istri dan dua anaknya setelah dari Bontang FC. Dia kini telah hijrah ke Persikabo. Untuk menutup biaya sehari-hari, Aji menjual mobil miliknya bahkan dia terpaksa menggadaikan perhiasaan milik istrinya untuk sekedar makan. Dia juga rela bermain di pertandingan tarkam (antar kampung) dengan bayaran alakadarnya.
Bukan hanya pemain lokal yang mengalami nasib yang kurang beruntung seperti itu, pemain asing pun kerap mengalami nasib serupa. Salah satunya adalah Diego Mendieta, pemain asal Paraguay ini berbulan-bulan tidak menerima gajinya dan uang juga uang muka bagian dari kontraknya dari Persis Solo hingga akhirnya meninggal dunia dalam keadaan sakit.
Ironis memang ketika para elit dan petinggi memperebutkan kekuasaan di elit sepakbola PSSI tapi mengorban para talenta terbaik sepakbola Indonesia hanya demi gengsi semata. Buruknya pengelolaaan kompetisi tidak terlepas dari konflik pengurus PSSI dan KPSI yang hanya mementingkan ego daripada prestasi bangsa Indonesia. Belum lagi adanya ancaman FIFA pada tanggal 14 Desember nanti kepada Indonesia apabila tidak dapat menyelesaikan konflik dalam organisasi dan kompetisi Liga di Indonesia. Apabila sanksi FIFA benar akan dijatuhkan maka bukan para elite PSSI dan KPSI yang menjadi korban tapi para pemain dan perkembangan sepakbola Indonesia.(JEF)