Liputan6.com, Jakarta Mola Chill Fridays semalam jadi penawar rindu bagi Anda penggemar grup band Keane. Ya band yang beranggotakan Tom Chaplin (vokal), Tim Rice-Oxley (piano/kibor), Richard Hughes (drum) dan Jesse McQuin (bass) berhasil membuat penggemar tanah air larut dalam tembang hits mereka seperti “Everybody’s Changing”, “Somewhere Only We Know” dan “Crystall Ball” yang sempat meledak di 2000-an silam dan menjadikan album debut Hopes and Fears sebagai album terlaris di masanya.
Band yang dibentuk tahun 1997 memang dengan cepat meraih popularitasnya pada 2004 bahkan saat merilis album pertamanya. Sayangnya, setelah merilis album The Best of Keane di 2013, band ini memutuskan untuk hiatus. Hal itulah yang membuat para fansnya menyayangkan sekaligus merindukan penampilan mereka.
Advertisement
Rencana comeback mereka tak berjalan mulus, setelah sebelumnya memutuskan kembali berkarya di belantika musik Inggris pada 2019 dengan album Cause and Effect, rencana tur album tersebut di Eropa dan Amerika Latin harus ditunda karena pandemi yang terjadi pada 2020. Meski begitu, penundaan ini tidak menghalangi band beraliran britpop ini untuk tetap produktif dan berkarya.
Sebelumnya dalam sebuah video singkat yang dikirimkan ke Mola, kuartet ini sempat mengirimkan pesan dalam Bahasa campuran, Inggris dan Indonesia. “Hello Indonesia. We are Keane. Don’t miss us at Mola Chill Fridays on August 27. Sampai Jumpa.”
Memasuki jeda Keane menyempatkan menjawab pertanyaan dari penggemarnya yang dilontarkan melalui sosial media Instagram: @mola.living dan Twitter: @molachillfriday. Salah satunya dari akun @tommykhoirlin fans Keane dari Indonesia yang menanyakan tentang konser Keane di Jakarta pada 2 September 2012 silam.
Sang vokalis pun mengenang keberadaan mereka selama di tanah air lalu.
“Momennya fantastis saat itu, kami selalu bersemangat untuk pergi ke belahan dunia yang eksotis bagi kami dan menemukan ternyata banyak penggemar kami di Jakarta, dan musik kami bisa terhubung pada orang di negeri yang jauh, setidaknya bagi kami di kota kecil di Inggris ini,” ujar Tom.