Liputan6.com, Bogor: Sebagian warga Kotamadya Bogor, Jawa Barat, resah. Betapa tidak, sejak dua bulan terakhir, mereka sulit memperoleh minyak tanah. Kelangkaan tersebut jelas membuat mereka tak habis pikir mengingat Pertamina mengaku telah menggelar operasi pasar. Toh, hingga Sabtu (14/12), warga Bogor mengaku tetap repot membeli kebutuhan vital rumah tangga mereka.
SCTV pun menelusuri kelangkaan tersebut hingga ke sejumlah pangkalan minyak tanah. Di sebuah pangkalan di Kelurahan Kedungbadak, Kecamatan Tanahsereal, misalnya. Pemiliknya mengaku, dalam kondisi normal, dia memperoleh pasokan dua tangki atau 10 ribu liter minyak tanah setiap pekan. Namun, dalam dua bulan terakhir, Pertamina hanya menyuplai satu tangki untuk kebutuhan selama satu pekan. Alasannya, ada pemotongan jatah pasokan untuk setiap pangkalan.
Situasi serupa juga ditemui di sebuah pangkalan minyak di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Di pangkalan ini, para pedagang eceran yang hendak membeli minyak tanah dibatasi maksimum 40 liter per orang. Pemilik pangkalan beralasan untuk menghindari terjadi keributan.
Kondisi itu tentu saja membuat sebagian warga Bogor yang tak kebagian jatah minyak tanah menjerit. Celakanya lagi, kelangkaan minyak turut melambungkan harga di tingkat eceran hingga Rp 1.200 per liter. Padahal, sebelumnya, harganya hanya berkisar Rp 1.000 per liter. Tudingan adanya permainan "orang dalam" dan ulah spekulan pun berembus kencang.
Sama halnya dengan Bogor, sebagian warga Medan, Sumatra Utara, juga sulit memperoleh minyak tanah. Bahkan, kelangkaan minyak yang terjadi sejak pertengahan November silam, kini meluas di sejumlah kota dan kabupaten di Sumut. Parahnya, harga jual minyak mencapai Rp 2.000 per liter. Ini jelas jauh di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan sebesar Rp 780 per liter [baca: Krisis Minyak Tanah di Medan Berlanjut].
Selain di Medan, minyak tanah juga menghilang di berbagai kota dan kabupaten di Sumut. Sebut saja, Langkat, Deli Serdang, Asahan, Labuhan Batu, Simalungun, dan Tanjung Balai. Untuk memperoleh minyak, warga harus rela mengantre selama berjam-jam. Mereka pun harus merogoh kocek lebih dalam dan tak kuasa menolak harga yang ditawarkan, Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per liter.
Kemana Pertamina? Ternyata, operasi pasar yang digelar badan usaha milik negara itu tak mampu mencukupi kebutuhan warga. Menurut Kepala Unit Pemasaran Pertamina I Medan Tjandra Putra Kelana, kelangkaan adalah akibat ulah para agen, pangkalan, dan pengecer. Dia mengungkapkan, sejumlah agen dan pangkalan yang nakal mengoplos minyak tanah untuk dijual ke kapal-kapal. Malah tak jarang, minyak tersebut diselundupkan ke Malaysia atau Singapura.
Tjandra menambahkan, para agen dan pemilik pangkalan jelas memanfaatkan selisih harga jual minyak tanah untuk meraup keuntungan. Sebab, harga jual minyak tanah rumah tangga adalah Rp 780 per liter. Sedangkan untuk industri adalah Rp 930 per liter. Dengan begitu, mereka mengalihkan alokasi rumah tangga ke industri atau dioplos dengan solar.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)
SCTV pun menelusuri kelangkaan tersebut hingga ke sejumlah pangkalan minyak tanah. Di sebuah pangkalan di Kelurahan Kedungbadak, Kecamatan Tanahsereal, misalnya. Pemiliknya mengaku, dalam kondisi normal, dia memperoleh pasokan dua tangki atau 10 ribu liter minyak tanah setiap pekan. Namun, dalam dua bulan terakhir, Pertamina hanya menyuplai satu tangki untuk kebutuhan selama satu pekan. Alasannya, ada pemotongan jatah pasokan untuk setiap pangkalan.
Situasi serupa juga ditemui di sebuah pangkalan minyak di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Di pangkalan ini, para pedagang eceran yang hendak membeli minyak tanah dibatasi maksimum 40 liter per orang. Pemilik pangkalan beralasan untuk menghindari terjadi keributan.
Kondisi itu tentu saja membuat sebagian warga Bogor yang tak kebagian jatah minyak tanah menjerit. Celakanya lagi, kelangkaan minyak turut melambungkan harga di tingkat eceran hingga Rp 1.200 per liter. Padahal, sebelumnya, harganya hanya berkisar Rp 1.000 per liter. Tudingan adanya permainan "orang dalam" dan ulah spekulan pun berembus kencang.
Sama halnya dengan Bogor, sebagian warga Medan, Sumatra Utara, juga sulit memperoleh minyak tanah. Bahkan, kelangkaan minyak yang terjadi sejak pertengahan November silam, kini meluas di sejumlah kota dan kabupaten di Sumut. Parahnya, harga jual minyak mencapai Rp 2.000 per liter. Ini jelas jauh di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan sebesar Rp 780 per liter [baca: Krisis Minyak Tanah di Medan Berlanjut].
Selain di Medan, minyak tanah juga menghilang di berbagai kota dan kabupaten di Sumut. Sebut saja, Langkat, Deli Serdang, Asahan, Labuhan Batu, Simalungun, dan Tanjung Balai. Untuk memperoleh minyak, warga harus rela mengantre selama berjam-jam. Mereka pun harus merogoh kocek lebih dalam dan tak kuasa menolak harga yang ditawarkan, Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per liter.
Kemana Pertamina? Ternyata, operasi pasar yang digelar badan usaha milik negara itu tak mampu mencukupi kebutuhan warga. Menurut Kepala Unit Pemasaran Pertamina I Medan Tjandra Putra Kelana, kelangkaan adalah akibat ulah para agen, pangkalan, dan pengecer. Dia mengungkapkan, sejumlah agen dan pangkalan yang nakal mengoplos minyak tanah untuk dijual ke kapal-kapal. Malah tak jarang, minyak tersebut diselundupkan ke Malaysia atau Singapura.
Tjandra menambahkan, para agen dan pemilik pangkalan jelas memanfaatkan selisih harga jual minyak tanah untuk meraup keuntungan. Sebab, harga jual minyak tanah rumah tangga adalah Rp 780 per liter. Sedangkan untuk industri adalah Rp 930 per liter. Dengan begitu, mereka mengalihkan alokasi rumah tangga ke industri atau dioplos dengan solar.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)