Liputan6.Com, Jakarta: Sebagai sentra bisnis utama Ibu kota, Jakarta Pusat ternyata memiliki 14 lokasi rawan kejahatan. Tiga lokasi, masing-masing Pasar Senen, Pasar Tanah Abang, dan Pasar Baru diduga sebagai daerah yang tingkat kriminalitasnya paling tinggi. Di tempat tersebut, biasanya sering terjadi tindak pencopetan, pemerasan, pemalakan hingga penodongan.
Keterangan ini disampaikan Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Senior Superintendent Aji Rustam Ramdja, ketika ditemui SCTV, baru-baru ini. Menurut Aji, kawasan Pasar Senen memiliki intensitas yang sangat tinggi dalam tindak kejahatan. Pada bulan Juli saja, Kepolisian Sektor Metro Senen mencatat 150 peristiwa kriminal. Lima pelaku kriminal tewas karena ditembak polisi. Tempat mangkal para preman ditenggarai berada di bawah jembatan layang dekat Atrium Senen.
Mereka biasanya berperan menjadi pelindung bagi 500 pedagang video, compacdisc, dan disc yang berjualan di depan Gedung Plaza Atrium, dari petugas Ketentraman dan Ketertiban Pemerintah Daerah DKI Jakarta.
Lokasi mangkalnya para preman Pasar Senen ternyata berbeda dengan tempat nongkrong para pencopet di kawasan tersebut. Jika para preman memilih di bawah jembatan layang, kelompok pencopet lebih senang mangkal di lantai basement Pasar Senen. Wilayah operasi para pencopet ini bisa melebar hingga ke halte bus di Jalan Senen Raya.
Dalam menjalankan operasinya, para pencopet umumnya berpura-pura sebagai calon penumpang yang sedang menunggu angkutan umum. Setelah mulai mendapat sasaran, pencopet itu tak segan mengikuti korban sampai naik ke dalam bus.
Kendati begitu, Pasar Baru, Pasar Senen dan Tanah Abang tetap dikunjungi masyarakat. Ini disebabkan murahnya harga barang yang dijual di tiga kawasan tersebut. Terlepas dari semua itu, Aji meminta masyarakat untuk tak berpenampilan atau berperilaku yang dapat memancing tindak kriminal.(ULF/Fransambudi)
Keterangan ini disampaikan Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Senior Superintendent Aji Rustam Ramdja, ketika ditemui SCTV, baru-baru ini. Menurut Aji, kawasan Pasar Senen memiliki intensitas yang sangat tinggi dalam tindak kejahatan. Pada bulan Juli saja, Kepolisian Sektor Metro Senen mencatat 150 peristiwa kriminal. Lima pelaku kriminal tewas karena ditembak polisi. Tempat mangkal para preman ditenggarai berada di bawah jembatan layang dekat Atrium Senen.
Mereka biasanya berperan menjadi pelindung bagi 500 pedagang video, compacdisc, dan disc yang berjualan di depan Gedung Plaza Atrium, dari petugas Ketentraman dan Ketertiban Pemerintah Daerah DKI Jakarta.
Lokasi mangkalnya para preman Pasar Senen ternyata berbeda dengan tempat nongkrong para pencopet di kawasan tersebut. Jika para preman memilih di bawah jembatan layang, kelompok pencopet lebih senang mangkal di lantai basement Pasar Senen. Wilayah operasi para pencopet ini bisa melebar hingga ke halte bus di Jalan Senen Raya.
Dalam menjalankan operasinya, para pencopet umumnya berpura-pura sebagai calon penumpang yang sedang menunggu angkutan umum. Setelah mulai mendapat sasaran, pencopet itu tak segan mengikuti korban sampai naik ke dalam bus.
Kendati begitu, Pasar Baru, Pasar Senen dan Tanah Abang tetap dikunjungi masyarakat. Ini disebabkan murahnya harga barang yang dijual di tiga kawasan tersebut. Terlepas dari semua itu, Aji meminta masyarakat untuk tak berpenampilan atau berperilaku yang dapat memancing tindak kriminal.(ULF/Fransambudi)