Liputan6.com, Jakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1423 Hijriah jatuh pada Kamis besok, 5 Desember 2002. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil hisab Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam PP Muhammadiyah bahwa ijtima` yaitu posisi tegak lurus matahari, bulan, dan bumi terjadi pada hari ini (4/12), tepatnya pada pukul 14.35 WIB. Tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Sabang 0 derajat 53 menit 16 detik dan Merauke 0 derajat 25 menit 30 detik. Sedangkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Persatuan Islam (Persis) cenderung memutuskan Hari Raya Lebaran jatuh pada Jumat, 6 Desember 2002. Sementara pemerintah dalam hal ini Departemen Agama, baru akan berembuk di Jakarta, Rabu malam nanti untuk menentukannya.
Menurut Kepala Badan Hisab Rukyat Wahyu Widiana, dalam Sidang Isbath tersebut pemerintah akan menggandeng sejumlah organisasi massa Islam, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia serta ahli astronomi. Selanjutnya, Menteri Agama Said Agil Husein Al Munawar akan mengumumkan hasilnya. "Kami berusaha menggabungkan perbedaan ini. Tapi, bila masih ada perbedaan, saya harap masyarakat tak mempermasalahkannya," kata Wahyu. Sebab, keyakinan setiap warga menjalankan ibadah dijamin Undang-undang Dasar 1945.
Lagipula, perbedaan perayaan Hari Raya sebenarnya juga belum terlalu pasti. Sebab, hasil analisa NU yang menetapkan Lebaran pada 6 Desember juga masih akan ditelaah kembali. Ketua Lajnah Falakiyah NU Gozali Masruli mengungkapkan, para ulama NU masih akan berobservasi hingga hari ini.
"Pada hari Rabu petang, pas matahari terbenam, tinggi hilal belum mencapai satu derajat. bahkan di Merauke, hilal masih di bawah ufuk," papar Gozali. Kondisi itulah yang menyulitkan observasi di lapangan, meskipun pakai teleskop.
Senada dengan pendapat tokoh sebelumnya, cendekiawan muslim Nurcholish Madjid juga meminta semua pihak agar tak memperdebatkan perbedaan penetapan Idul Fitri. Seperti juga perkataan Menag, dia berpendapat, hal itu adalah hal biasa dan pernah dialami umat muslim pada tahun-tahun dulu: 1992, 1993, dan 1998 [baca: Menag: Perbedaan Lebaran Jangan Membuat Umat Pecah]. Lebih lanjut, Cak Nur menjelaskan beragamnya waktu Lebaran disebabkan perbedaan mengenai derajat tinggi letak bulan di atas horizon. Ketika ditanya ikut yang mana, Cak Nur menjawab sambil bercanda. "Saya ikut Pak Hamzah saja. Biar nggak usah salat Ied lagi siangnya," tutur dia, sambil terkekeh.(MTA/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Kepala Badan Hisab Rukyat Wahyu Widiana, dalam Sidang Isbath tersebut pemerintah akan menggandeng sejumlah organisasi massa Islam, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia serta ahli astronomi. Selanjutnya, Menteri Agama Said Agil Husein Al Munawar akan mengumumkan hasilnya. "Kami berusaha menggabungkan perbedaan ini. Tapi, bila masih ada perbedaan, saya harap masyarakat tak mempermasalahkannya," kata Wahyu. Sebab, keyakinan setiap warga menjalankan ibadah dijamin Undang-undang Dasar 1945.
Lagipula, perbedaan perayaan Hari Raya sebenarnya juga belum terlalu pasti. Sebab, hasil analisa NU yang menetapkan Lebaran pada 6 Desember juga masih akan ditelaah kembali. Ketua Lajnah Falakiyah NU Gozali Masruli mengungkapkan, para ulama NU masih akan berobservasi hingga hari ini.
"Pada hari Rabu petang, pas matahari terbenam, tinggi hilal belum mencapai satu derajat. bahkan di Merauke, hilal masih di bawah ufuk," papar Gozali. Kondisi itulah yang menyulitkan observasi di lapangan, meskipun pakai teleskop.
Senada dengan pendapat tokoh sebelumnya, cendekiawan muslim Nurcholish Madjid juga meminta semua pihak agar tak memperdebatkan perbedaan penetapan Idul Fitri. Seperti juga perkataan Menag, dia berpendapat, hal itu adalah hal biasa dan pernah dialami umat muslim pada tahun-tahun dulu: 1992, 1993, dan 1998 [baca: Menag: Perbedaan Lebaran Jangan Membuat Umat Pecah]. Lebih lanjut, Cak Nur menjelaskan beragamnya waktu Lebaran disebabkan perbedaan mengenai derajat tinggi letak bulan di atas horizon. Ketika ditanya ikut yang mana, Cak Nur menjawab sambil bercanda. "Saya ikut Pak Hamzah saja. Biar nggak usah salat Ied lagi siangnya," tutur dia, sambil terkekeh.(MTA/Tim Liputan 6 SCTV)