Liputan6.com, Jakarta: Muhammadiyah dan Al Mansyuriah sudah menetapkan 1 Syawal yang sekaligus menentukan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri pada Kamis 5 Desember mendatang. Sedangkan Nahdlatul Ulama dan delapan organisasi massa Islam lainnya menetapkan Lebaran jatuh pada Jumat, 6 Desember [baca: Kemungkinan Lebaran Tak Seragam].
Sejumlah warga yang ditemui SCTV, Selasa (3/11), mengaku bingung dengan perbedaan tersebut. Kebingungan juga dialami para pengelola masjid besar di Jakarta. Mereka bahkan tak berani menuliskan tanggal pelaksanaan Salat Idul Fitri pada spanduknya [baca: Pengelola Masjid Belum Memastikan Waktu Salat Ied]. Kalaupun sudah ada yang telanjur ditulis umumnya sudah mereka hapus. Kebingungan masyarakat ini diperparah dengan sikap pemerintah yang baru dapat mengumumkan hasil Sidang Isbat, Rabu malam besok.
Namun, dalam dialog Liputan 6 SCTV yang dipandu Arief Suditomo, malam ini, Menteri Agama Said Agil Al Munawar menolak bila dikatakan pemerintah terlambat atau lama mengumumkan 1 Syawal 1423 Hijriah. Menag mengaku selama ini sudah mendapatkan 11 almanak dari 11 ormas Islam. Semua masukan tersebut akan dibawa ke Sidang Isbat dan akan diputuskan seadil-adilnya.
Menag juga memastikan besok posisi bulan berada pada setengah derajat di atas ufuk. Dengan demikian sudah dapat dipastikan bulan tak dapat terlihat. Bulan di Indonesia bisa dilihat bila posisinya mencapai empat derajat. Sedangkan keputusan Internasional di Turki posisi bulan harus delapan derajat.
Menag berpesan, umat Islam tak harus bingung dan resah menyikapi perbedaan tersebut. Pasalnya, perbedaan penetapan Lebaran adalah bukan yang pertama kali. Pada 1992, 1993, dan 1998 umat Islam Indonesia juga merayakan Idul Fitri berlainan hari. "Perbedaan itu adalah kekayaan kita. Umat Islam jangan terpecah-pecah gara-gara perbedaan itu," kata Menag.(YYT)
Sejumlah warga yang ditemui SCTV, Selasa (3/11), mengaku bingung dengan perbedaan tersebut. Kebingungan juga dialami para pengelola masjid besar di Jakarta. Mereka bahkan tak berani menuliskan tanggal pelaksanaan Salat Idul Fitri pada spanduknya [baca: Pengelola Masjid Belum Memastikan Waktu Salat Ied]. Kalaupun sudah ada yang telanjur ditulis umumnya sudah mereka hapus. Kebingungan masyarakat ini diperparah dengan sikap pemerintah yang baru dapat mengumumkan hasil Sidang Isbat, Rabu malam besok.
Namun, dalam dialog Liputan 6 SCTV yang dipandu Arief Suditomo, malam ini, Menteri Agama Said Agil Al Munawar menolak bila dikatakan pemerintah terlambat atau lama mengumumkan 1 Syawal 1423 Hijriah. Menag mengaku selama ini sudah mendapatkan 11 almanak dari 11 ormas Islam. Semua masukan tersebut akan dibawa ke Sidang Isbat dan akan diputuskan seadil-adilnya.
Menag juga memastikan besok posisi bulan berada pada setengah derajat di atas ufuk. Dengan demikian sudah dapat dipastikan bulan tak dapat terlihat. Bulan di Indonesia bisa dilihat bila posisinya mencapai empat derajat. Sedangkan keputusan Internasional di Turki posisi bulan harus delapan derajat.
Menag berpesan, umat Islam tak harus bingung dan resah menyikapi perbedaan tersebut. Pasalnya, perbedaan penetapan Lebaran adalah bukan yang pertama kali. Pada 1992, 1993, dan 1998 umat Islam Indonesia juga merayakan Idul Fitri berlainan hari. "Perbedaan itu adalah kekayaan kita. Umat Islam jangan terpecah-pecah gara-gara perbedaan itu," kata Menag.(YYT)