Liputan6.com, Lamongan: Perempuan berjilbab lengkap dengan cadar memang barang langka di Indonesia. Jika kebetulan bertemu, orang cenderung mengamat-amati wanita itu, entah secara diam-diam maupun blak-blakan. Sebab selama ini berkembang persepsi, pemakai atribut yang satu ini dicitrakan sebagai penganut Islam garis keras. Tapi tak begitu dengan para santri di Pondok Pesantren Al-Islam, kawasan Solokuro, Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur. Awal November ini, SCTV berkunjung ke lokasi tempat penangkapan Amrozi, tersangka utama peledak bom di Kuta, Bali [baca: Bali [baca: Calon Kuat Tersangka Tragedi Bali Ditangkap].
Menurut pemimpin Ponpes Al-Islam Zakaria, mengenakan cadar adalah wajib hukumnya bagi santri putri di Ponpes Al-Islam. Selain itu, mereka juga tak diperkenankan bergaul dengan santri putra dengan alasan apapun. Dalilnya, Zakaria menambahkan, perempuan itu hanya boleh terbuka mata satu untuk bisa melihat jalan. Jadi, kalau ada orang yang bilang mereka Islam radikal, itu salah tafsir. "Mereka cuma sedang menjalankan ajarannya," kata ustad itu.
Di bulan Ramadan ini, para santri di pondok nan sederhana ini diwajibkan membaca tauziah dari Zakaria. Bahan ini berisi berbagai macam hal, terutama tentang perkembangan Islam dengan dunia di luarnya. Usai mendengarkan ceramah, santri membaca Alquran atau Qiraati. Kegiatan ini dilakukan berkelompok di dalam ruang-ruang kamar santri.
Letak bangunan asrama santri putri pun terpisah tembok seng tertutup rapat dengan asrama putra. Sementara buat tempat peribadatan, santri putri ditempatkan di bagian belakang masjid sedangkan putra di depan.(MTA/Apni Jaya Putra dan Dwi Guntoro)
Menurut pemimpin Ponpes Al-Islam Zakaria, mengenakan cadar adalah wajib hukumnya bagi santri putri di Ponpes Al-Islam. Selain itu, mereka juga tak diperkenankan bergaul dengan santri putra dengan alasan apapun. Dalilnya, Zakaria menambahkan, perempuan itu hanya boleh terbuka mata satu untuk bisa melihat jalan. Jadi, kalau ada orang yang bilang mereka Islam radikal, itu salah tafsir. "Mereka cuma sedang menjalankan ajarannya," kata ustad itu.
Di bulan Ramadan ini, para santri di pondok nan sederhana ini diwajibkan membaca tauziah dari Zakaria. Bahan ini berisi berbagai macam hal, terutama tentang perkembangan Islam dengan dunia di luarnya. Usai mendengarkan ceramah, santri membaca Alquran atau Qiraati. Kegiatan ini dilakukan berkelompok di dalam ruang-ruang kamar santri.
Letak bangunan asrama santri putri pun terpisah tembok seng tertutup rapat dengan asrama putra. Sementara buat tempat peribadatan, santri putri ditempatkan di bagian belakang masjid sedangkan putra di depan.(MTA/Apni Jaya Putra dan Dwi Guntoro)