Liputan6.com, Pekanbaru: Kekerasan terhadap wartawan peliput jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 di Kampar, Riau, mendorong Komisi I DPR untuk datang ke Pekanbaru, Riau. Beberapa anggotanya, Kamis (18/10) mendatangi Kantor Riau Pos yang wartawannya jadi salah satu korban kekerasan anggota TNI Angkatan Udara.
Dalam rombongan itu turut juga Komandan Pangkalan Udara Pekanbaru Kolonel Penerbang Bowo Budiarto serta Kepala Divisi Personel Lanud Letkol Robert Adam Simanjuntak. Robert adalah perwira TNI AU yang mencekik dan memukul sejumlah wartawan peliput jatuhnya Hawk 200, Selasa pagi. Dia pula yang memerintahkan perampasan kamera wartawan.
Di akhir pertemuan yang turut dihadiri para wartawan korban pemukulan, Letkol Robert Simanjuntak menyampaikan permintaan maafnya. Robert juga sempat bersalaman dengan Didik Herwanto, wartawan Riau Pos yang ia cekik saat peliputan. Namun, permintaan maaf Robert tidak serta-merta menghentikan proses hukumnya.
Insiden penganiayaan ini memang mengundang kecaman dari wartawan di berbagai daerah. Kemarin siang, wartawan di Boyolali, Jawa Tengah, menggelar aksi teatrikal mengecam kekerasan terhadap wartawan. Mereka memprotes tindakan berlebihan tentara dengan meletakkan kartu pers dan alat-alat peliputan.
Sementara di Garut, Jawa Barat, sejumlah wartawan berunjuk rasa dengan mendatangi markas Detasemen Polisi Militer setempat. Mereka mendesak agar kekerasan terhadap wartawan tidak terjadi lagi.(ADO)
Dalam rombongan itu turut juga Komandan Pangkalan Udara Pekanbaru Kolonel Penerbang Bowo Budiarto serta Kepala Divisi Personel Lanud Letkol Robert Adam Simanjuntak. Robert adalah perwira TNI AU yang mencekik dan memukul sejumlah wartawan peliput jatuhnya Hawk 200, Selasa pagi. Dia pula yang memerintahkan perampasan kamera wartawan.
Di akhir pertemuan yang turut dihadiri para wartawan korban pemukulan, Letkol Robert Simanjuntak menyampaikan permintaan maafnya. Robert juga sempat bersalaman dengan Didik Herwanto, wartawan Riau Pos yang ia cekik saat peliputan. Namun, permintaan maaf Robert tidak serta-merta menghentikan proses hukumnya.
Insiden penganiayaan ini memang mengundang kecaman dari wartawan di berbagai daerah. Kemarin siang, wartawan di Boyolali, Jawa Tengah, menggelar aksi teatrikal mengecam kekerasan terhadap wartawan. Mereka memprotes tindakan berlebihan tentara dengan meletakkan kartu pers dan alat-alat peliputan.
Sementara di Garut, Jawa Barat, sejumlah wartawan berunjuk rasa dengan mendatangi markas Detasemen Polisi Militer setempat. Mereka mendesak agar kekerasan terhadap wartawan tidak terjadi lagi.(ADO)