Citizen6, Semarang: Ada perpaduan kultur harmonis saat berlangsung Tiong-Jiu (HUT) Kelenteng Siu Hok Bio di Semarang, pada Minggu (30/9). Pada hari pertama HUT Kelenteng Siu Hok Bio diperlihatkan sarat dengan ritual budaya leluhur Tionghoa sedangkan pada hari kedua, digelar wayang kulit semalaman suntuk dengan lakon Wahyu Katentreman dengan kultur asli Wong Jawa.
Acara Tiong-Jiu diawali dengan kedatangan 68 Kiem-sien (Arca Dewa) dari berbagai kelenteng di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat ke Kelenteng Siu Hok Bio Semarang, pada Sabtu (29/9). Malamnya, Kiem-sien tuan rumah, Kongco (Maha Suci) Hok Tiek Cing Sien (Dewa Bumi), di semayamkan di Kio (tandu kehormatan) yang berwarna merah.
Pada hari ketiga, setelah Lamking (Parita bersama) usai, Kongco Hok Tiek Cing Sien, dengan diikuti puluhan Kiem-Sien atau Kongco tamu, dalam situasi senyap di bawa ke kelenteng Agung Tay Kak Sie, Semarang yang berjarak 2 kilometer, pada Minggu (30/9), pukul 03.00 WIB. Di kelenteng ini dilakukan sembahyang massal sampai pukul 09.00 WIB.
Kemudian acara dilanjutkan dengan arak-arakan akbar, dimana Kio Kongco Hok Tiek Cing Sien diikuti Kio para Kongco tamu, di arak kembali pulang ke Kelenteng Siu Hok Bio. Berbagai tontonan kental dengan budaya Tionghoa seperti Liong, Sam-sie, dan musik tradisional turut mengiringi perarakan akbar tersebut. Ribuan warga Tionghoa berbaur dengan masyarakat pribumi, dan menonton bersama acara itu.
Pada sore harinya, Kiem-sien tamu pulang ke daerah masing-masing. Namun hal ini bukan berarti acara telah usai karena malamnya masih di gelar Wayang Kulit dengan lakon "Wahyu Katentreman", oleh Dalang Ki Joko Sunarno dari Boyolali. Kenapa di pilih lakon tersebut, Ketua Yayasan Kelenteng, Eveline Winarsa mengungkapkan, "Sengaja kami pilih lakon itu, karena sebagai simbol kedamaian hidup di antara kita semua, " jelasnya. (Heru Christiyono).
Acara Tiong-Jiu diawali dengan kedatangan 68 Kiem-sien (Arca Dewa) dari berbagai kelenteng di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat ke Kelenteng Siu Hok Bio Semarang, pada Sabtu (29/9). Malamnya, Kiem-sien tuan rumah, Kongco (Maha Suci) Hok Tiek Cing Sien (Dewa Bumi), di semayamkan di Kio (tandu kehormatan) yang berwarna merah.
Pada hari ketiga, setelah Lamking (Parita bersama) usai, Kongco Hok Tiek Cing Sien, dengan diikuti puluhan Kiem-Sien atau Kongco tamu, dalam situasi senyap di bawa ke kelenteng Agung Tay Kak Sie, Semarang yang berjarak 2 kilometer, pada Minggu (30/9), pukul 03.00 WIB. Di kelenteng ini dilakukan sembahyang massal sampai pukul 09.00 WIB.
Kemudian acara dilanjutkan dengan arak-arakan akbar, dimana Kio Kongco Hok Tiek Cing Sien diikuti Kio para Kongco tamu, di arak kembali pulang ke Kelenteng Siu Hok Bio. Berbagai tontonan kental dengan budaya Tionghoa seperti Liong, Sam-sie, dan musik tradisional turut mengiringi perarakan akbar tersebut. Ribuan warga Tionghoa berbaur dengan masyarakat pribumi, dan menonton bersama acara itu.
Pada sore harinya, Kiem-sien tamu pulang ke daerah masing-masing. Namun hal ini bukan berarti acara telah usai karena malamnya masih di gelar Wayang Kulit dengan lakon "Wahyu Katentreman", oleh Dalang Ki Joko Sunarno dari Boyolali. Kenapa di pilih lakon tersebut, Ketua Yayasan Kelenteng, Eveline Winarsa mengungkapkan, "Sengaja kami pilih lakon itu, karena sebagai simbol kedamaian hidup di antara kita semua, " jelasnya. (Heru Christiyono).