Liputan6.com, Jakarta - Jusin Clasic membahas soal warga Tionghoa khususnya di Indonesia, yang kembali mengadakan sembahyang kubur atau Ka Ci (dalam bahasa Hakka) untuk mengunjungi sekaligus membersihkan makam leluhur.
Ada yang berbeda pada kegiatan sembahyang kubur tahun ini di keluarga pemuda lulusan Beijing Language Culture University itu. Sekarang, “Ka Ci” hanya dihadiri oleh ayah dan paman Jusin Clasic.
Advertisement
“Tahun ini lebih sedikit yang hadir (sembahyang kubur) karena paman dari Jakarta dan luar negeri tidak bisa pulang karena pandemi,” tutur Jusin Clasic kepada wartawan, belum lama ini.
Teringat Mendiang Kakek
Juri Hakka Ako Amoi Singkawang 2020 ini mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan sembahyang kubur bulan 7 pada tahun ini mengingatkannya dengan mendiang kakek yang telah meninggal 5 tahun silam.
Begitu banyak petuah dari sang kakek semasa hidup yang begitu membekas dan terpatri di dalam hatinya. Bahkan petuahnya itu kini menjadi pegangan Jusin dalam menjalani hidup.
Sempat Merasa Beruntung
Pemuda yang sempat mengukir prestasi dengan permainan sulap dan seni merubah wajah ini, sempat merasa sangat beruntung. Pasalnya, ia terlahir di keluarga yang mampu mendidiknya untuk menjadi seorang yang mampu menghargai leluhur dan menjalankan tradisi Ka Ci dalam keluarga.
Ia bersyukur karena meski hidup dalam keluarga yang bersahaja, namun apapun yang dibutuhkan bisa dipenuhi oleh kedua orangtuanya.
Tetap Bermakna
Meski demikian, momen sembahyang kubur kepada mendiang kakek tercinta tetap dilakukan secara khidmat dan bermakna.Budi jasa dan kebesaran orang tua dan leluhur tak terbalaskan sepanjang hidup.
Namun, harapan seorang Jusin sekaligus menjadi tugas dan amanah yang harus diemban adalah bagaimana bisa membalas budi jasa orangtua sebaik-baiknya.
Pada usia yang perlahan menuju kematangan dalam berkeluarga, ia pun berharap dapat membina sebuah keluarga yang utuh. Sehinga, akan ada generasi baru dalam keluarganya yang meneruskan untuk menanamkan nilai-nilai luhur seperti ajaran orang tua dan mendiang kakeknya.
Jusin menyadari bahwa masih banyak generasi muda seusianya yang juga mempunyai tugas serupa. Kalau bukan mereka, maka siapa lagi yang akan melestarikan budaya dan tradisi ini.