Jakarta - Kesuksesan mengangkat harkat Timnas Indonesia membuat sejumlah pelatih asing terselip dalam lembar sejarah sepak bola Tanah Air.
Dipilihnya pelatih asing bukanlah kali pertama buat Timnas Indonesia. Jauh sebelum Shin Tae-yong, sudah ada nama beken yang pernah mampir menangani Skuat Garuda.
Advertisement
Shin Tae-yong datang menggantikan Simon McMenemy yang dipecat PSSI lantaran dicap gagal membawa Timnas Indonesia unjuk gigi sepanjang Pra-Piala Dunia. Sebelumnya, ada Luis Milla yang menangani Septian David Maulana cs. di pentas Asian Games 2018.
Sejak 1950-an, tepatnya setelah Choo Seng Quee, pelatih asal Singapura membesut Timnas Indonesia, deretan pelatih asal Eropa maupun pelatih lokal bergantian menduduki posisi strategis sebagai nahkoda timnas.
Tercatat ada 17 pelatih lokal yang telah membesut Tim Garuda mulai dari E.A. Mangindaan pada 1966 hingga 1970, sampai Bima Sakti pada 2018. Sementara bicara pelatih asal Eropa, ada 19 nama pelatih dari segala penjuru Benua Biru yang pernah menangani Tim Garuda.
Dari sekian nama, terdapat lima pelatih asing berkharisma yang pernah melatih Timnas Indonesia. Berikut ini Bola.com merangkumnya.
Saksikan Video Timnas Indonesia Berikut Ini
Anatoli Polosin
Pelatih asal Rusia, Anatoli Polosin, disebut-sebut masih menjadi pelatih terbaik yang pernah menangani Timnas Indonesia hingga saat ini. Medali emas SEA Games 1987 dan 1991 merupakan hasil positif dari keberadaan satu-satunya pelatih asal Rusia yang pernah menangani Tim Garuda itu.
Anatoli Fyodorich Polosin yang didatangkan PSSI buat kepentingan SEA Games 1991 memiliki kiblat sepak bola yang jelas. Sebagai orang Eropa Timur, Polosin lebih mengedepankan kekuatan fisik ketimbang sepak bola indah yang pernah diturunkan pelatih asal Belanda, Wiel Coerver, untuk Tim Garuda pada era 1970-an.
Saat masa persiapan menuju SEA Games, Polosin menempa fisik Raymond Hattu dkk. Selama tiga bulan, fisik seluruh pemain digenjot dengan materi latihan yang di luar batas kemampuan pemain kala itu. Pemain muntah-muntah dan kabur dari pemusatan latihan jadi hal yang lumrah.
Kala itu, Polosin menilai Timnas Indonesia tidak bisa berbicara banyak karena kondisi fisik yang tidak memadai. Oleh karena itu, ia tetap jalan terus dengan metode “Shadow Football” walau Satgas Pelatnas saat itu, Kuntadi Djajalana, mengaku sempat ada perdebatan ketika Timnas Indonesia digembleng begitu keras.