Kenali Efek Samping Dexamethasone, Obat yang Jadi Penyelamat Pasien Covid-19

Kenali efek samping jangka panjang dan pendek Dexamethasone yang belakangan ini jadi perbincangan karena disebut bisa selamatkan pasien Covid-19.

oleh Anisha Saktian PutriDiterbitkan 19 Juni 2020, 18:10 WIB
Ilustrasi mengenakan masker untuk mencegah virus corona masuk ke dalam tubuh | unsplash.com/@anikolleshi

Jakarta Dexamethasone sedang menjadi perbincangan hangat di dunia. Itu setelah BBC memberitakan bahwa obat ini disetujui sebagai obat penyelamat untuk pasien infeksi  Covid-19 yang berat.

Informasi seputar riset dexamethasone berasal dari laporan ketua tim peneliti the Ramdomised Evaluation of Covid-19 therapy (Recovery) trial on dexamethasone, Universitas Oxford Inggris. Riset ini belum dipublikasi di jurnal kedokteran tetapi informasi  awal efektifitas obat ini sudah dipublikasi.  

Melihat hasil penelitian ini yang akan segera di publikasi melalui jurnal kedokteran, Dexamethasone menjadi obat pertama yang dapat memperbaiki survival pasien Covid-19. Penelitian ini dilakukan pada 2104 pasien yang mendapat dexamethasone 6 mg/hari baik secara oral atau intra vena selam 10 hari dan dibandingkan dengan 4321 pasien yang tidak mendapat tambahan obat dexamethasone.  

Pada pasien-pasien yang tidak mendapatkan dexamethasone angka kematian tertinggi terjadi pada pasien yang membutuhkan ventilator sebanyak 41%, sedang pasien yang hanya menggunakan oksigen angka kematian hanya 25% sedang pasien yang tidak membutuhkan intervensi respirasi angka kematian 13%.

Pada kelompok pasien yang mendapatkan dexamethasone ternyata terjadi penurunan kematian 1/3 kasus yang membutuhkan ventilator, hanya 1/5 pada kelompok pasien yang mendapatkan oksigen. Sedang pada kelompok pasien yang tidak membutuhkan bantuan respirasi pemberian dexamethasone tidak mempengaruhi angka kematian.

Jadi jelas dari hasil penelitian ini bahwa dexamethasone mempunyai efek terapi pada pasien infeksi covid-19 dengan infeksi yang berat dan sedang dan tidak mempunyai efek pada pasien covid-19 yang ringan.

Menurut Prof. Ari Fahrial Syam, Akademisi dan praktisi klinis menyampaikan informasi ini penting diketahui oleh masyarakat kedokteran dan masyarakat umumnya. Untuk kasus yang ringan saja tidak efektif apalagi jika obat ini digunakan untuk pencegahan infeksi covid-19. 


Obat dewa

ilustrasi masker/unsplash

Prof Ari juga menambahkan, Dexamethasone merupakan obat murah dan tersedia di puskemas. Termasuk golongan obat steroid, yang memang sering dijuluki sebagai ”obat dewa”, karena efek terapinya yang cepat. Misal ketika seseorang sedang gatal karena alergi baik merah atau bentol pada kulit dan gatal akan hilang dengan cepat.“

Lanjut Baca:

Obat ini digunakan juga sebagai obat radang, antara lain untuk pasien radang sendi dan berbagai bengkak karena peradangan. Kerja cepat dari obat ini dan dapat diindikasi pada berbagai pernyakit maka obat ini, sering disebut sebagai obat dewa,” ujar Prof. Ari dalam siaran pers yang diterima Fimela.com. Bahkan untuk beberapa kanker kelompok steroid ini juga digunakan untuk kombinasi dengan obat anti kanker sebagai kemoterapi. Obat golongan steroid ini juga digunakan untuk beberapa kelainan darah, asma, alergi pada mata dan THT, penyakit autoimun, karena memang steroid bisa menekan sistem imunitas tubuh kita. “Seperti khasiat anti inflamasi ini yang dimanfaatkan dari obat dexamethasone untuk pasien dengan infeksi covid-19 yang berat yang memang terjadi peningkatan reaksi inflamasi. Sebagai obat yang sering disebut sebagai obat dewa karena khasiatnya tadi, obat ini juga mempunyai efek samping yang harus menjadi perhatian baik oleh dokter maupun pasien,” ujar prof Ari.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya