Dortmund - Jadon Sancho kini jadi gulali di bursa transfer Eropa. Ia dianggap permata paling berharga bagi Inggris, setelah Paul Gascoigne. Yuk simak cerita perjalanan karier sang pemain Borussia Dortmund.
Sancho meletakkan tas sekolahnya dan duduk di bangkunya. Kemeja putihnya, lengan bajunya digulung dan dibuang blazernya, digantung di pundaknya yang berusia 14 tahun. Dasi merah anggur dan emasnya diikat longgar di lehernya.
Advertisement
Dia dan rekan-rekan setimnya dari usia di bawah 15 tahun Watford telah dibebaskan dari ruang kelas mereka dan satu per satu, dipanggil ke salah satu kantor kecil di lantai atas sekolah.
Pelatih mereka, Louis Lancaster, ada di sana untuk bertemu para pemainnya dan mendiskusikan ambisi mereka. Ketika ditanya apa yang dia inginkan dari sepakbola, balasan Sancho datang tanpa ragu: "Saya ingin bermain untuk Inggris, dan saya ingin bermain untuk salah satu klub top Eropa," katanya.
"Aku ingin keluargaku bangga padaku," timpalnya lagi.
Di usia yang baru 19 tahun, Jadon Sancho menjelma menjadi superstar. Borussia Dortmund harus memasang tembok yang tinggi agar permata berharganya tak dicaplok klub-klub elite Eropa. Walau klub asal Jerman itu juga mengintip peluang dapat keuntungan besar menjual sang penyerang sayap, yang digaetnya dengan harga sangat murah dari Manchester City.
Apa yang ia rasakan kini sebagai wonderkid berbanding terbalik dengan lingkungan di mana Sancho memperoleh pendidikan sepak bola pertamanya.
Semua itu bermula dari lapangan olahraga segala cuaca, di dekat rumahnya di Kennington, London Selatan. Dia adalah teman masa kecil dengan Reiss Nelson dan Ian Carlo Poveda asal Akademi Arsenal, yang kemudian menjadi rekan setimnya Manchester City.
Bakat Jadon Sancho ditemukan oleh Watford pada usia tujuh dan akan melakukan perjalanan melintasi London tiga malam seminggu untuk berlatih dengan Hornets sampai, pada usia 11. Saat itu ia cukup tua untuk menghadiri sekolah sepak bola satelit klub, Akademi Harefield di Uxbridge, London barat.