Nihil Kegiatan Ibadah, Guru Ngaji dan Marbot Ikut Terdampak Covid-19

Seperti para mubalig, ustaz, guru ngaji, dan marbot masjid yang saat ini mengalami kemerosotan ekonomi akibat tak lagi mendapat pemasukan.

oleh Bam SinulinggaDiperbarui 06 Mei 2020, 16:16 WIB
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi turut melibatkan relawan untuk menertibkan masyarakat selama pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid II.

 

Liputan6.com, Jakarta - Ketiadaan peribadatan di tempat-tempat ibadah selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah pandemi Corona atau Covid-19, turut berdampak terhadap perekonomian para tokoh agama. Pendapatan mereka kini semakin berkurang seiring terhentinya kegiatan keagamaan.

Seperti para mubalig, ustaz, guru ngaji, dan marbot masjid yang saat ini mengalami kemerosotan ekonomi akibat tak lagi mendapat pemasukan. Penghasilan yang biasa diperoleh dari pengajian di masjid, undangan mengaji atau pemberian bimbingan, sudah tiada lagi semenjak diberlakukannya PSBB.

Padahal biasanya di saat Ramadan, undangan ceramah ataupun kegiatan pengajian selalu saja menanti. Namun pandemi Covid-19 membuat semua kegiatan keagamaan terpaksa dialihkan di dalam rumah.

Meski tidak ada keluh kesah atas kondisi perekonomian, para mubalig, ustaz, guru ngaji, dan marbot masjid bersyukur ada pihak-pihak yang masih peduli dan mau memberikan bantuan.

"Kami bersyukur kepada bapak-bapak polisi yang memberikan bantuan makanan dan barang-barang yang memang kami butuhkan," kata Endin, seorang guru ngaji di Desa Mekarsari, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (6/5/2020).

Menurutnya, bantuan sembako sangat dibutuhkan masyarakat saat ini, di tengah sulitnya memperoleh pendapatan akibat pandemi Covid-19.

"Kami merasa terharu melihat bapak-bapak polisi ternyata mempunyai rasa solidaritas yang ikut merasakan kesedihan kami," ucap Endin.

Program Solidaritas

Dirbinpotmas Korbinmas Baharkam Polri, Bjp Edy Murbowo, mengatakan pembagian sembako merupakan bagian dari program Solidaritas Sosial Korbinmas Baharkam Polri.

"Polri harus hadir di tengah-tengah masyarakat untuk membantu meringankan beban masyarakat yang terkena dampak penerapan PSBB akibat Covid-19," ujar Edy.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan sosial ini sekaligus mengantisipasi segala bentuk gangguan keamanan dan ketertiban akibat penerapan PSBB oleh pemerintah.

Kepolisian juga menhimbau masyarakat agar selalu patuh terhadap aturan selama PSBB, agar apa yang menjadi tujuan kegiatan ini bisa tercapai optimal, sehingga pandemi bisa dihentikan.

"Tidak ada cara lain kecuali patuh dan taat terhadap aturan pemerintah untuk memutus mata rantai penyerabaran virus Covid(19)," tandasnya.

Terdapat 1.000 paket sembako yang dibagikan polisi kepada marbot, guru ngaji, dan warga sekitar yang bermukim di wilayah Tambun. Paket sembako terdiri dari beras, gula, minyak goreng, roti kaleng, masker, hand sanitizer, dan disinfektan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya