Penjelasan Mengenai Pengaruh Suhu Udara Terhadap Virus Corona Covid-19

Berikut penjelasan mengenai pengaruh suhu udara terhadap virus corona Covid-19.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 04 April 2020, 17:25 WIB
Ilustrasi Virus Corona 2019-nCoV (Public Domain/Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image)

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa waktu lalu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan sempat mengutarakan faktor iklim menjadi keuntungan tersendiri bagi negara-negara yang memiliki temperatur dan kelembaban tinggi seperti Indonesia dalam menangani menghadapi wabah virus corona Covid-19

Namun Menko Luhut juga menekankan bahwa social/physical distancing tetap harus menjadi faktor utama. Pasalnya jika hal tersebut tidak dilakukan dengan ketat, maka keuntungan dari faktor temperatur tersebut tidak lagi berlaku.

Merespon isu tersebut, Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Umum dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Yodi Mahendradhata menyebut bahwa memang ada studi-studi yang mengindikasikan bahwa suhu tinggi dan kelembaban tinggi mungkin dapat mengurangi penularan virus corona, namun faktor-faktor lain tetap lebih berperan dalam penularan. 

“Namun saya ingin menekankan bahwa salah satu faktor utamanya tetaplah kedisplinan masyarakat untuk melakukan social/physical distancing,” ujar Dr. Yodi.

Sebuah penelitian oleh Jingyuan Wang, Associate Professor di Sekolah Ilmu dan Teknik Komputer, Universitas Beihang, Beijing, menjelaskan bahwa mirip dengan virus influenza, virus Corona cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara yang dingin dan kering. Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan "host immunity" seseorang dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.


BMKG

Lebih lanjut, Melanie Bannister-Tyrrell, seorang konsultan senior di Ausvet, perusahaan epidemiologi swasta terkemuka menunjukkan bahwa bahwa Covid-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah, yaitu sekitar 1 sampai 9 derajat celcius. Artinya, semakin tinggi temperatur, maka dugaan adanya kasus Covid-19 harian semakin rendah.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati membenarkan apa yang disampaikan oleh Menko Luhut. Menurutnya, di bulan Desember-Januari, belum ada kasus di negara tropis, seperti di Singapura, Thailand, Filipina, Indonesia.

Menurut literatur yang ada, hal ini dikarenakan pada saat itu suhu di tempat kita ini temperaturnya lebih dari 20 derajat, dan cocok dengan fakta Desember dan Januari belum ada kasus. Namun, pada outbreak kedua, pengaruh iklim ini kalah dengan pengaruh yang lebih kuat penyebarannya oleh mobilitas orang.

Lanjut Baca:

“Sebenarnya yang disampaikan Pak Luhut itu juga dari kita, karena beliau sudah mengumpulkan informasi dari berbagai pakar juga. Jadi Pak Luhut itu betul, iklim itu membantu. Namun dampaknya itu delay, tidak seketika dampaknya berkurang, perlu waktu untuk alam bekerja. Ya meskipun ada penyebaran tetapi itu tidak murni, itu karna dibawa orang, alias mobilitas penduduk yang massif,” terang Dwikorita pada Sabtu (4/4).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya