5 Pemain Amerika Latin yang Paling Disegani dalam Sejarah Liga Indonesia

Kehadiran pesepak bola asal Amerika Latin ini membuat persaingan kompetisi kasta elite Indonesia makin seru.

oleh Ario YosiaWiwig PrayugiDiterbitkan 04 April 2020, 19:00 WIB
Jacksen F Tiago, Carlos de Mello, Toyo Claudio, Luciano Leandro, Cristian Gonzales (Bola.com/Samsul Hadi)

Jakarta - Sepak bola Indonesia sudah diramaikan pemain asing sejak era 1980-an, khususnya kompetisi Galatama, mulai duo Singapura David Lee dan Fandi Ahmad (Niac Mitra), sampai pemain asal Belanda, Mozes Isaac (Tunas Inti). Setelah kompetisi Galatama dilebur dengan Perserikatan jadi Liga Indonesia, jumlah pemain asing di Indonesia semakin bertambah banyak jumlahnya.

PSSI membuka keran seluas-luasnya bagi legiun impor, dengan alasan utama transfer knowledge serta menambah daya tarik kompetisi kasta tertinggi Tanah Air. 

Sejak Liga Indonesia I (1994-1995) hingga era terkini Shopee Liga 1 2020, ratusan pemain asing dari berbagai negara bertarung, baik di klub level pertama maupun kedua. Pemain dari Amerika Latin cukup mendominasi pasar klub Indonesia sejak 1994 hingga sekarang.  

Berikut ini lima pemain asal Amerika Latin yang berpengaruh di Liga Indonesia, versi Bola.com:


Jacksen F. Tiago (Brasil)

(Bola.com/Istimewa/Fahrizal Arnas)

Ada banyak alasan mengapa Jacksen F. Tiago jadi salah satu pemain asing paling berpengaruh di Indonesia. Jacksen membela sembilan klub Indonesia, baik menjadi pemain maupun pelatih. Sebagai pemain, Jacksen berkostum Petrokimia Putra, Persebaya Surabaya, dan PSM Makassar. Setelah pensiun pada 2002, Jacksen melatih Assyabaab Surabaya, Persebaya, Persita Tangerang, Persiter Ternate, Mitra Kukar, Persitara, dan Persipura.

Jacksen adalah angkatan pertama legiun asing di era baru kompetisi Indonesia, Liga Indonesia I 1994-1995. Jacksen yang saat itu berusia 26 tahun jadi striker Petrokimia Putra dan sukses mencicipi partai final, sebelum akhirnya kalah dari Persib Bandung 0-1. Jacksen kembali tampil pada partai puncak LI II bersama PSM Makassar, namun kalah 0-2 dari Mastrans Bandung Raya.

Sepanjang berkarier jadi pemain di Indonesia, Jacksen baru meraih gelar top scorer pada Liga Indonesia III (1996-1997) bersama Persebaya Surabaya dengan torehan 26 gol. Pada dua musim sebelumnya, ia kalah dari pemain Angola, Vata Matanu Garcia (Gelora Dewata-21 gol di LI I) dan striker Montenegro Dejan Gluscevic (Mastrans Bandung Raya-30 gol di LI II). Musim 1996-1997 jadi paling spesial buat Jacksen. Selain jadi pencetak gol terbanyak, ia juga mengantarkan Persebaya juara.

Lanjut Baca:

Hal yang membuat Jacksen makin spesial adalah ia meraih juara kompetisi lima kali kala menjadi pelatih. Jacksen mengantarkan Persebaya juara Divisi I (2003) dan Divisi Utama (2004), serta tiga gelar bersama Persipura di ISL (2008-2009, 2010-2011, dan 2013). Pria pengidola makanan khas Jawa Timur, Rawon juga pernah menjadi pelatih caretaker Timnas Indonesia (2013) dan kini sukses di Malaysia bersama Penang FA. Hal di luar lapangan yang membuat Jacksen populer, yakni sikapnya yang selalu dekat dengan negara di mana ia bekerja. Selama belasan tahun di Indonesia, Jacksen sangat dekat dengan Indonesia. Ia bahkan bisa berbicara dengan berbahasa Jawa. Jacksen juga menjadikan Persipura sebagai klub yang konsisten dengan pemain lokal Papua.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya