Gara-Gara Virus Corona Covid-19, Pemain Asing Persik Terbirit-Birit Tinggalkan Indonesia

Di tengah pandemi virus Corona Covid-19, Ante Bakmaz lebih memilih terisolasi selama 14 hari di kamar hotel daripada tinggal lebih lama di Indonesia.

oleh Marco TampubolonDiterbitkan 02 April 2020, 16:00 WIB
Gelandang Persebaya Surabaya, Makan Konate (hijau), mengawasi bek Persik Kediri, Ante Bakmaz (kanan), dalam laga pembuka Shopee Liga 1 2020 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (29/2/2020). Persebaya dan Persik bermain imbang 1-1. (Bola.com/Yoppy Renato)

Liputan6.com, Sydney - Ante Bakmaz belum bisa ke mana-mana. Dia masih dikarantina di salah satu kamar hotel di Sydney, Australia. Namun bagi pemain berdarah Kroasia itu, terperangkap di ruangan sempit masih lebih baik daripada harus tinggal berlama-lama di Indonesia saat pandemi global virus Corona Covid-19.

Jumat lalu, Bakmaz masih di Kediri, menyelesaikan beberapa keperluannya. Saat itu, dia sudah berpikir ingin kembali ke negaranya, Australia, setelah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menghentikan kompetisi menyusul pandemi virus Corona Covid-19 yang sudah sampai ke Indonesia.

Tekad Bakmaz untuk pulang kampung sudah bulat. Mantan pemain Madura United tersebut sedikit kesal karena manajemen memotong 75 persen gajinyaa tanpa pemberitahuan terlebih dulu.

Bakmaz lalu menghubungi organisasi pemain Australia (PFA). Namun secara tidak sengaja kekasihnya, mengacaukan percakapan itu. "Dia mencuci seprai dan kebetulan ponsel saya ada di atasnya. Semua pesan dari PFA, semua kontak, dan dokumen, dan ponsel saya mati," kata Bakmaz menjelaskan.

Bakmaz segera keluar dan mencari ponsel baru. Namun Bakmaz ingin menjernihkan pikirannya di tengah kekacauan yang tengah melanda dunia gara-gara virus Corona Covid-19.

Sempat terlintas dipikirannya untuk tidak buru-buru mengunduh aplikasi percapakan Whatsapp. Namun hatinya merasa tidak tenang. Apalagi, tidak lama setelah ponselnya kembali aktif, Konsulat Jenderal Australia di Indonesia, Chris Barnes menghubunginya dan memintanya kabru dari Indonesia.

"Saya segera mengaktifkannya lagi dan salah satu teman memasukkanku lagi ke grup Whatsapp," kata Bakmaz bercerita.

Robbie Gaspar, pengurus PFA juga meneleponnya. Selama ini, mantan pemain Persib Bandung itu bertugas memantau para pemain dari negaranya yang tampil di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

"Robbie mengatakan, cepat keluar dari sana. Indonesia kelebihan populasi dan pemerintahnya menyembunyikan data--mereka katakan semuanya terkendali," kata Bakmaz menirukan.

Tanpa pikir panjang, Bakmaz segera mengemasi barang-barangnya. Tanpa sempat mandi dan hanya mengenakan pakaian seadanya, dia bergegas mencari angkutan untuk pulang ke Australia. Seperti dikejar setan, Bakmaz meminta taksi melaju hingga 140 km/jam menuju bandara.

Lanjut Baca:

Kemudian dia segera terbang dari Surabaya ke Jakarta dan berhasil mendapatkan penerbangan kedua terakhir menuju Sydney, Australia. Selain Bakmaz, pemain Australia lainnya yang juga bermain di Indonesia, Jacob Pepper, Aron Williams, dan Aaron Evans melakukan hal yang sama. "Yang dilakukan PFA sangat luar biasa," beber Bakmaz. "Mereka sangat memperhatikan keselamatan kami, Robbie Gaspar segera menghungi pemerintah dan memastikan kami semua bisa pulang. Robbie juga bisa bahasa Indonesia sehingga dia bisa berbicara kepada pejabat lokal mengenai hak kami--seperti kami berhak berkumpul dengan keluarga dan berhak mendapatkan keselamatan. Patnerku butuh visa dan mereka membantu mendapatkan semuanya." **Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya