Kenali Cara Penularan Corona Covid-19 yang Paling Umum Terjadi

Penyebaran virus Corona Covid-19 terus terjadi hingga saat ini dan menginfeksi banyak orang di seluruh dunia. Penyebarannya begitu cepat.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 30 Maret 2020, 16:30 WIB
Sejumlah masyarakat melakukan jaga jarak aman di area publik di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu (18/3-2020). Jaga jarak atau prosedur social distancing measure harus diterapkan kepada masyarakat yang masih melakukan aktivitas di luar untuk memghindari penyebaran Covid-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta- Wabah virus corona Covid-19 masih jadi pandemi yang mengancam dunia. Penyebarannya terus terjadi hingga saat ini dan menginfeksi banyak orang di seluruh dunia. Penyebarannya begitu cepat.

Situasi ini membuat WHO (World Health Organization) memperingatkan masyarakat untuk melakukan tidakan pencegahan corona covid-19.

Yaitu dengan rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan air atau hand sanitizer, membersihkan permukaan yang sering tersentuh dengan disinfektan, dan melakukan social distancing atau jarak sosial.

Kenapa cuci tangan dengan sabun sangat penting?

Menurut Kirsten Hokeness, profesor dan ketua departemen ilmu pengetahuan dan teknologi di Bryant University dan seorang ahli imunologi, virologi, mikrobiologi dan kesehatan manusia dan penyakit, cara penularan virus SARS-CoV-2 paling umum terjadi adalah melalui kontak langsung dengan cairan pernapasan pasien terinfeksi corona covid-19.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.


Corona Bertahan di Udara?

Ilustrasi mencuci tangan (iStockphoto)

Seperti dilansir dari Huffpost, menurut penelitian yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine, partikel aerosol dapat menyebarkan virus penyebab Covid-19. Jadi, ada kemungkinan penularan penyakit melalui udara dalam beberapa situasi tertentu. Lalu apakah partikel aerosol sama dengan tetesan pernapasan?

S. Wesley Long, direktur medis mikrobiologi diagnostik di Houston Methodist Hospital, menjelaskan bahwa partikel aerosol berbeda dengan tetesan pernapasan atau cairan yang mungkin dikeluarkan saat seseorang bersin atau batuk.

Partikel aerosol mampu bertahan lama di udara dan melakukan perjalanan jarak jauh serta dapat dengan mudah dihirup ke paru-paru. Menurut Long, tetesan pernapasan umumnya 20 kali lebih besar dan hanya mampu berjalan sekitar dua meter sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

Namun, Anda tak perlu takut karena partikel aerosol, seperti kabut, hanya bisa ditemukan dalam kondisi tertentu. Selain itu, risiko infeksi dari partikel aerosol sangatlah rendah untuk kebanyakan orang.


Risiko Pekerja Medis

Namun bagi pekerja medis, partikel-partikel tersebut bisa mendatangkan risiko yang cukup tinggi. Menurut profesor dan ketua departemen ilmu pengetahuan dan teknologi di Bryant University, Kirsten Hokeness, prosedur lain yang dapat menghasilkan aerosol adalah terapi oksigen, prosedur pelingkupan dan CPR.

Lanjut Baca:

Saat berada di udara, partikel tersebut bisa berpindah lewat aliran udara dari ventilasi atau kipas yang akan membantunya untuk bergerak ke ruangan lain. Selain itu, aktivitas manusia seperti berjalan dan membuka pintu juga dapat membantu partikel berpindah. "Seseorang akan terinfeksi kalau mereka berada dalam jarak dekat, tiga hingga empat kaki, itulah mengapa kita menyarankan enam kaki (2 meter) sebagai ukuran jarak (phsyical distancing-red)," terang Hokeness.  

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya