Jakarta- Ketatnya persaingan di Liga 1 membuat performa klub ada yang naik-turun. Namun, ada sedikit klub yang mampu memberikan penampilan konsisten sepanjang era 2017 sampai Shopee Liga 1 2020.
Bhayangkara FC layak dinobatkan sebagai klub yang paling konsisten pada Liga 1. Klub berjulukan The Guardians itu mengawali era Liga 1 dengan gelar juara pada edisi 2017.
Advertisement
Ketika itu, Bhayangkara FC diasuh oleh pelatih Simon McMenemy. Indra Kahfi dkk. finis dengan mengemas 68 poin hasil 22 kali menang, dua kali imbang, dan 10 kali kalah.
Pada musim selanjutnya, Bhayangkara FC gagal mempertahankan gelar juara yang beralih ke Persija Jakarta. Meski demikian, Bhayangkara FC tetap mampu bersaing dan finis di urutan ketiga dengan selisih delapan angka dari Persija.
Performa stabil masih mampu dimiliki Bhayangkara FC meski berganti pelatih pada 2019. Sempat terseok-seok pada awal musim bersama Angel Alfredo Vera, Bhayangkara FC kemudian bangkit.
Tongkat kepelatihan beralih ke Paul Munster asal Irlandia Utara. Bhayangkara FC kemudian finis di peringkat keempat dengan koleksi 53 poin, selisih 11 angka dari Bali United yang jadi kampiun Liga 1 2019.
Namun, Bhayangkara FC kembali mengulang nasib yang sama pada Shopee Liga 1 2020. Bhayangkara FC terlihat kesulitan meraih kemenangan dan harus puas menyegel hasil imbang dalam tiga laga beruntun.
Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini
Persebaya Layak Diapresiasi
Pujian juga layak diberikan kepada Persebaya Surabaya. Mengawali kiprah di Liga 2 pada edisi 2017, Persebaya berhasil promosi dengan predikat juara kasta kedua itu.
Persebaya yang ketika itu diasuh Alfredo Vera sempat terseok-seok pada awal musim Liga 1 2018. Hingga pekan ke-18, Persebaya masih terjebak di urutan ke-13.
Manajemen kemudian menunjuk Djadjang Nurdjaman sebagai pelatih. Perlahan tapi pasti, performa Persebaya meningkat hingga akhirnya finis di urutan kelima. Pencapaian tersebut cukup bagus untuk klub yang berstatus promosi saat itu.
Pada 2019, Persebaya kembali mengulang nasib kepayahan bersaing. Djanur kemudian menjadi tumbal karena dianggap gagal mengangkat performa Persebaya yang ketika itu menghuni posisi ketujuh sampai pekan ke-13.