SHOWBIZ UNCENSORED: Aku Dilabrak Istri Sah Seorang Produser (Bagian 2)

Pada Trika, aku bercerita rumah ini pemberian seorang bos rumah produksi tempat aku syuting film. Ia memberikan rumah dan Alphard dengan cuma-cuma.

oleh Anjali LDiterbitkan 06 Februari 2020, 20:45 WIB
Showbiz Uncensored

Liputan6.com, Jakarta “Gue sekarang tinggal di rumah ini, Tri. Makanya gue jarang balik ke kontrakan,” ceritaku pada Trika dengan nada lirih. Trika hanya bengong, matanya enggan berkedip sembari menyapu setiap sudut kamarku. Aku bisa membayangkan betapa terkejutnya Tri, hari itu.

“Gue enggak tahu dari siapa lo bisa dapat rumah dua lantai di kawasan seelit ini, sementara gue tahu persis apa pekerjaan lo. Artis papan atas juga butuh waktu berbulan-bulan buat beli rumah segede ini, kali Vit,” sahut Tri sambil tetap melihat tiap sudut kamarku.

Pada Trika, aku bercerita rumah ini pemberian seorang bos rumah produksi tempat aku syuting film. Ia memberikan rumah dan Alphard dengan cuma-cuma. Aku menerimanya. Aku juga mengaku pada Trika bahwa menjalin cinta dengan Pak Janu, yang notabene sudah punya seorang istri, dua anak laki-laki dan dua anak perempuan.


Aku Lelah Hidup Susah

ilustrasi hubungan cinta/copyright Unsplash/Alvin Mahmudov

Pak Janu menikah di usia 23 tahun. Anaknya yang sulung kini berusia 19 tahun dan diterima kuliah di salah satu kampus bergengsi di negeri ini. Tri memandangiku lekat-lekat, tak percaya dengan keputusan yang telah kubuat.

Kepada Tri pula, aku mengaku lelah hidup susah. Ndilalah, kata orang wajahku cantik. Makanya aku sering jadi figuran di sejumlah sinetron stripping dan film. Masalahnya, industri seni tak butuh wanita cantik semata. Selain cantik, harus punya aura kebintangan dan tentu saja bakat. Bakat kuyakin punya.

Tapi aura kebintangan, itu pemberian Tuhan. Aku belum sempat menghubungi Tuhan dan bertanya apakah dulu pernah memberiku aura itu. Beberapa tahun menjadi figuran dan tak kunjung naik pangkat membuatku tak sabar.

 


Pengakuan Kepada Trika

“Dan karena merasa tak punya aura kebintangan, gue memilih jalan pintas. Lo enggak marah sama gue kan, Tri? Lo enggak jijik sama gue, kan?” tanyaku kepada Tri, yang sore itu memakai kaus putih lengan panjang dan celana jin belel biru. Yang kutanya masih bengong memandangiku.

“Gue sebagai teman hanya bisa mengingatkan. Tapi lo sudah membuat pilihan. Jadi tugas gue sekarang, menemani lo. Kalau suatu saat amit-amit lo jatuh, gue akan ulurkan tangan supaya lo bisa segera bangkit,” jawab Tri. Aku memeluknya.

Lanjut Baca:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya