Abracadabra: Dunia Sulap Penuh Keajaiban dan Nalar Yang Ditinggalkan

Abracadabra yang dibuat berdasarkan imajinasi liar kreatornya mengajak penonton berjalan-jalan ke negeri asing.

oleh Wayan DianantoDiterbitkan 13 Januari 2020, 12:30 WIB
Poster film Abracadabra. (Foto: Dok. FourColourFilms)

Liputan6.com, Jakarta Abracadabra yang dibuat berdasarkan imajinasi liar kreatornya mengajak penonton berjalan-jalan ke negeri asing. Dialog-dialognya berbahasa Indonesia. Aksen beberapa tokoh di dunia Abracadabra kentara dari tanah Jawa. Namun menilik gaya berbusana, keseharian, dan ritual yang dijalani sejumlah tokoh, jelas tak biasa.

Ada banyak yang bisa dikulik dari Abracadabra. Karya Faozan Rizal ini bicara cinta, kejenuhan, keluarga, hingga kekuasaan dalam konteks lebih sempit. Menempatkan Reza Rahadian sebagai pemeran utama, Abracadabra menyajikan ide dan gambar segar.

Anda bisa menikmati film yang diproduseri Ifa Isfansyah ini dengan catatan, atas nama sulap yang identik dengan keajaiban, nalar nyaris tidak berlaku di dunia Abracadabra.


Hilangnya Iwan dan Laila

Adegan film Abracadabra. (Foto: Dok. FourColourFilms)

Lukman (Reza) mengikuti jejak ayahnya dengan mundur dari dunia sulap yang membesarkan namanya. Lukman menggelar pertunjukan terakhir memakai kotak kayu peninggalan ayahnya, Lukito (Landung). Sisi atas kotak kayu itu bertuliskan abracadabra yang diulang membentuk segitiga terbalik.

Di atas panggung, Lukman mengundang salah satu tamu untuk masuk ke dalam kotak. Bocah bernama Iwan (Muhammad) maju, masuk kotak, dan hilang begitu saja. “Abracadabra!” seru Lukman seraya meminta Iwan kembali. Apes, bocah itu benaran raib. Panik, sang ibu, Laila (Asmara) masuk ke dalam kotak untuk mencari Iwan.

Sialnya, Laila pun lenyap. Tiga pesulap lain yang hadir di pertunjukan itu yakni Lindu (Lukman), Winda (Poppy), dan Zakaria (Paul) merapal beragam mantra tapi tak mempan. Kepala Polisi (Butet) yang juga hadir di pertunjukan menuduh Lukman melakukan penculikan. Rupanya, Kepala Polisi hadir untuk menemui pesulap lain, Barnas (Egi).

Keduanya bersekongkol untuk mendapatkan kotak Abracadabra. Lukman sendiri pusing mencari cara agar Iwan dan Laila kembali.


Sepintas Indonesia, Tapi...

Adegan film Abracadabra. (Foto: Dok. FourColourFilms)

Faozan Rizal bukan sineas kemarin sore. Ia menyutradarai Habibie & Ainun (2012) yang meraih 4,5 juta penonton lebih plus 3 Piala Citra FFI 2013. Film box office ini menandai kerja sama kali pertama Faozan Rizal (sebagai sutradara) dengan Reza Rahadian. Sewindu berselang, keduanya kembali dalam Abracadabra dengan konsep serta tema yang jauh beda. Abracadabra membawa kita ke dunia lain.

Lanjut Baca:

Sepintas Indonesia namun elemen-elemen penunjangnya tak selayaknya Indonesia. Kantor polisi dengan cat serba-pink. Bandara menyerupai kawasan kota tua. Mobil-mobil jadul mengembalikan ingatan kita pada era 1970 atau 1980-an. Tukang pos beroperasi tidak dengan mobil atau sepeda motor melainkan sepeda kayuh. Ini tak 100 persen kehidupan era klasik. Mengingat, polisi di dunia Abracadabra menggunakan ponsel berteknologi layar sentuh. Ada pula perempuan-perempuan dengan kostum eksentrik. Ashima (Dewi Irawan), istri Barnas, seperti perempuan Tionghoa. Savitri (Jajang C. Noer) mengingatkan kita pada penampakan hantu di film The Woman In Black. Ritual perkabungan yang mereka jalani pun terasa asing.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya