SHOWBIZ UNCENSORED: Dulu Kucampakkan Bintang Film, Kini Aku Diputuskan Pesinetron (Bagian 2)

Showbiz Uncensored bagian ke-2 kali ini tambah seru. Perhatian Agha yang menyaingi Madha membuat sang tokoh utama berada di ambang bimbang.

oleh Anjali LDiterbitkan 18 Desember 2019, 20:45 WIB
Showbiz Uncensored

Liputan6.com, Jakarta Benar saja. Keesokan paginya Agha menjemputku. Kami berangkat ke lokasi syuting di Bintaro. Biasanya sebelum aku berangkat syuting, Madha video call, tapi pagi itu tidak. Aku maklumi mengingat terakhir video call, ia kurang enak badan. Sementara kegiatan terus berjalan. Setidaknya masih bisa setor muka lewat foto yang dikirim via WhatsApp.

Kali pertama diizinkan menjemput, Agha serasa mendapat izin untuk hari-hari berikutnya. Entah mengapa aku merasa nyaman di sisinya. Dua minggu berlalu, aku merasa bersalah. Jatuh cinta pada Agha, lalu bagaimana dengan Madha?

“Kalau lo memang pengin jalan sama gue, boleh aja. Tapi gue enggak mau disangka pebinor-lah, perebut bini orang-lah, dibilang teman makan temanlah. Ya meski sebenarnya...,” ujaran Agha itu terus terngiang di benakku.

Perhatian Agha yang menyaingi Madha membuatku berada di ambang bimbang. Beberapa minggu berlalu, kujalani hari dengan membagi hati menjadi dua sama rata. Tapi aku bukan Tuhan atau Nabi yang bisa berlaku adil.


Hatiku Berat Padanya

Ilustrasi perselingkuhan. (sumber: unsplash)

Hatiku berat sebelah. Sialnya, berat ke Agha. Usai syuting Cinta dan Khianat, Madha mengajakku bertemu di salah satu mal kelas priayi di Senayan, Jakarta, Minggu sore. Aku menyanggupi karena Minggu libur syuting. Sore itu, saat aku melihat Madha entah mengapa terasa lain. Tak sehangat dan seantusias dulu.

Dia datang membawa banyak oleh-oleh dari kaus, cokelat, cincin emas putih, hingga cover ponsel. Itu tak lagi membuat hatiku menggelora. Madha memulai percakapan dengan minta maaf karena belakangan komunikasi tak seintens dulu. “Mungkin terdengar klise, aku minta maaf untuk komunikasi yang merenggang tiga bulan ini. Sibuk syuting memang enggak bisa dijadikan excuse. Maaf ya,” pintanya.

“Enggak usah minta maaflah. Kita berdua memang sudah enggak sehangat dulu,” jawabku sambil menilik tas berisi oleh-oleh.

Sorry, maksudnya bagaimana nih, Chan?”

“Ya gue kecewa lo hambar hanya gara-gara syuting.”

“Hanya? Kita pacaran berawal dari passion yang sama. Seni. Sekarang seni kamu bilang hanya? Tunggu, sejak kapan kamu pakai kata gue?”

Lanjut Baca:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya