Mengenal 3 Klub Promosi Liga 1 2020

Dua dari tiga klub yang promosi ke Liga 1 2020 pernah meramaikan persaingan kompetisi kasta teratas era 2000-an.

oleh Muhammad Adi YaksaDiterbitkan 17 Desember 2019, 10:35 WIB
3 klub promosi di Liga 1: Persik Kediri, Persita Tangerang & Persiraja. (Bola.com/Dody Iryawan)

Jakarta - Setelah melintasi perjalanan berat, tiga klub Liga 2 2019 meraihl tiket promosi ke Liga 1 2020. Ketiga klub itu adalah Persik Kediri, Persita Tangerang, dan Persiraja Banda Aceh.

Persik menjadi tim paling fenomenal di Liga 2 2018. Mengawali musim sebagai tim promosi dari Liga 3, tim berjuluk Macan Putih ini secara tidak terduga langsung menggebrak. Armada Budiardjo Thalib menguasai klasemen Wilayah Timur dengan mengungguli tim-tim lawas seperti PSIM Yogyakarta, Persis Solo hingga Persib Balikpapan.

Lolos kedelapan besar, perjuangan Persik mulus hingga babak final untuk mengalahkan Persita 3-2. Macan Putih lantas mendapatkan label back to back juara setelah pada musim sebelumnya menjadi yang terbaik di Liga 3.

Persik, Persita, dan Persiraja akan menggantikan tiga tim yang terdegradasi dari Shopee Liga 1 2019. Walaupun kompetisi belum selesai, namun tiga klub yang turun kasta sudah dapat dipastikan.

Adalah Perseru Badak Lampung, Semen Padang, dan Kalteng Putra yang menggantikan ketiga tim itu di Liga 2 2020. Dua nama terakhir adalah tim promosi dari Liga 2 yang hanya bertahan semusim di Liga 1 2019.

Ini bisa jadi contoh bagi Persik, Persita, dan Persiraja untuk serius membangun tim agar nasib mereka tidak seperti Semen Padang dan Kalteng Putra di Liga 1 2019.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:


Persik Kediri

Para pemain Persik Kediri merayakan gelar juara Liga 2 2019 setelah mengalahkan Persita Tangerang pada laga final di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Senin (25/11), Persik menang 3-2 atas Persita. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Setelah bertahun-tahun mendekam di kasta kedua dan ketiga sepak bola Indonesia, Persik kembali ke kompetisi yang pernah mengharumkan namanya.

Persik dua kali merebut trofi Liga Indonesia era 2000-an. Gelar pertama diraih pada 2003 sebelum kembali menorehkan tinta emas tiga musim berselang.

Bukan Persik namanya jika tak mengalami pasang surut prestasi. Pada 2003, Persik berhasil promosi ke Divisi Utama yang kala itu masih menjadi kompetisi kasta teratas Liga Indonesia setelah menduduki podium juara Divisi Satu setahun sebelumnya.

Bermodalkan para pemain lokal kurang tenar, trofi Liga Indonesia 2003 malah melipir ke Kediri. Pelatih Jaya Hartono berhasil mengombinasikan sejumlah talenta lokal dengan legiun impor berkualitas.

Lanjut Baca:

Aris Budi Sulistyo, Wawan Widiantoro, Harianto, dan Musikan bahu-membahu bersama Ebi Sukore serta Frank Bob Manuel untuk mengungguli PSM Makassar di tabel klasemen akhir yang saat itu diperkuat oleh dua bomber ganas, Oscar Aravena dan Cristian Gonzales. Setelah sempat terseok-seok pada dua musim kemudian, gelar Liga Indonesia kembali mampir ke Kota Tahu pada 2006. Trofi tersebut dirasa lebih wah lantaran Macan Putih berkekuatan skuat yang mewah. Kala itu, Persik Kediri dinakhodai oleh pelatih flamboyan, Daniel Roekito. Mirip dengan era Jaya Hartono, Persik masih memadukan wajah lokal yang kini lebih gres plus pemain asing kelas wahid. Kehadiran Cristian Gonzales dan Danilo Fernando makin melengkapi barisan pemain lokal yang diisi oleh Aris Indarto, Hariono, dan Budi Sudarsono. Di babak final, yang ketika itu Liga Indonesia mengadopsi dua wilayah, Persik mengalahkan PSIS Semarang lewat gol semata wayang Cristian Gonzales pada menit ke-110 babak perpanjangan waktu. Lambat laun, prestasi Persik menurun. Padahal, mereka sempat bermanuver dengan menjadi Los Galacticos-nya Indonesia. Pada 2008, tim kebanggaan Persikmania ini membajak Markus Horison, Mahyadi Panggabean, Legimin Raharjo, dan Saktiawan Sinaga dari PSMS Medan. Keempatnya melengkapi sejumlah wajah lama yang masih dipertahankan seperti Danilo Fernando, Ronald Fagundez, dan Cristian Gonzales. Gagal menjadi juara Liga Indonesia pada 2008-09 lantaran hanya finis di posisi keempat, Persik perlahan ditinggalkan pemain bintangnya. Faktor larangan klub profesional menyusu ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) memicu Macan Putih kering sokongan dana. Alhasil, Persik turun kasta ke Divisi Utama ketika sistem Liga Super Indonesia memasuki tahun kedua pada 2009-10. Kini, Persik kembali ke habitat aslinya. Namun, Macan Putih dilanda berbagai permasalahan. Satu di antaranya ialah ketidaklayakan lisensi pelatih Budiardjo Thalib untuk melatih di Liga 1 2020. "Sampai saat ini ada enam pelatih yang melamar. Empat orang mengirimkan proposal ke sekretariat. Dua lainnya datang langsung ke mes pemain. Hanya satu pelatih asing yang menawarkan diri," kata Beny Kurniawan, Manajer Persik. "Kalau aturan pelatih harus berlisensi AFC Pro, tentu saja kami cari sesuai regulasi. Yang jelas, kami cari pelatih lokal agar komunikasi dengan pemain bisa lancar. Selain itu, sang calon pelatih harus paham sepak bola Kediri. Akhir bulan ini kami umumkan secara resmi nama pelatih Persik. Kami juga harus segera melakukan persiapan untuk Liga 1 musim depan," ucapnya Selain itu, Persik juga terancam menjadi tim musafir. Pasalnya, penerangan Stadion Brawijaya dianggap tidak layak oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi. "Kami hanya dapat angka 300 lux. Nilai ini sangat jauh dari batas minimum yang disyaratkan PT LIB. Standar kami untuk pertandingan malam hari, di angka 800 lux. Sementara batas maksimal 1.200 lux. Jadi, pihak Persik harus menambah 500 lux untuk memenuhi standar terendah," imbuh Supervisor Kompetisi PT LIB, Somad. "Tenggat untuk Persik, satu atau dua pekan sebelum kick-off Liga 1 2020. Soal waktu perbaikan, kami serahkan kepada Persik. Lebih cepat lebih baik. Jika mereka sudah benahi lampunya, kami akan memverifikasi lagi," tuturnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya