Jakarta - Timnas Indonesia memperpanjang derita di Kualifikasi Grup G Zona Asia Kualifikasi Piala Dunia 2022, usai kalah 0-2 dari Malaysia di Stadion Bukit Djalil, Selangor, Selasa (20/11/2019) malam WIB. Skuat Garuda menderita lima kekalahan beruntun.
Usai jadi runner-up Piala AFF 2016, performa Timnas Indonesia seperti terjun bebas. Usai Alfred Riedl lengser, tak ada satupun pelatih yang bisa menstabilkan performa Tim Merah-Putih.
Advertisement
Tren negatif Timnas Indonesia mulai terlihat di era Bima Sakti. Tim Garuda gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2018 dengan rekor cukup menyedihkan.
Timnas Indonesia hanya menang sekali atas Timor Leste, dua kali kalah kontra Thailand (2-4) dan Singapura (0-1), serta bermain imbang 0-0 versus Filipina.
Sebelum Bima, secercah harapan sempat mencuat ketika PSSI mendampuk Luis Milla sebagai nakhoda Timnas Indonesia pada awal 2017. Rekor uji coba internasional Indonesia lumayan. Pelatih asal Spanyol itu sempat mengantarkan Timnas Indonesia U-22 meraih medali perunggu, serta meloloskan Timnas Indonesia U-23 ke babak 16 besar Asian Games 2018.
Timnas Indonesia di era kepemimpinan Luis Milla terlihat segar dengan banyaknya pemain-pemain belia di skuat utama. Namun, usai Asian Games PSSI menyetop kontrak Milla. Mereka kemudian menunjuk Bima, yang sebelumnya menjadi asisten Milla, sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia level senior.
Sayang perubahan tersebut berujung petaka. Bima yang minim pengalaman (ia belum pernah jadi pelatih kepala di level klub), gagal total menjalankan tugas barunya. Padahal, komposisi pemain yang ia pegang hampir sama dengan era Luis Milla.
Keputusan PSSI menunjuk pelatih asal Skotlandia, Simon McMenemy, menggantikan Bima tak memperbaiki keadaan. Timnas Indonesia oleng di tangan pelatih yang sukses mengantarkan Bhayangkara FC juara Liga 1 2017.
Bima dan Simon, Rekor Sama Jelek
Penunjukan Simon agak kontroversial, sang mentor sejatinya minim pengalaman internasional. Ia hanya sempat menanganti Timnas Filipina di Piala AFF 2010. Memang The Azkals lolos ke semifinal di turnamen tersebut, hanya saja banyak pengamat menilai hal itu lebih karena skuat Filipina disesaki pemain bule yang bermain di Eropa dengan status naturalisasi.