Liputan6.com, Jember: Katup uap Pabrik Gula Semboro, Kecamatan Tangul, di Jember, Jawa Timur, Selasa (3/9), meledak. Akibatnya, empat pekerja pabrik tewas dan 13 lainnya menderita luka bakar. Dugaan sementara menyebutkan alat untuk mengkristalkan gula itu meledak karena peralatan yang sudah tua.
Musibah ini terjadi ketika 30 karyawan dan buruh lepas pabrik gula Semboro membersihkan katup di bagian tengah pabrik, sekitar pukul 07.30 WIB. Mendadak katup uap yang menjadi alat untuk mengkristalkan gula meledak dan menyebabkan dua karyawan tewas seketika. Sementara seorang korban lainnya meninggal dalam perjalanan dan seorang lagi meninggal di rumah sakit. Mereka adalah Didik Purwanto, Muhammad Choirul, Sudarmanto dan Lusiyanto. Sedangkan ke-13 korban luka-luka kini dirawat di Rumah Sakit PTB Jember dan RS Malang.
Sejauh ini, belum diketahui penyebab ledakan tersebut. Namun, seorang staf teknik Pabrik Gula Semboro Agung Nugroho mengakui peralatan katup uap memang sudah tua dan telah terpasang sejak 1980. Untuk keperluan penyelidikan, Kepolisian Resor Jember akan mendatangkan tim Laboratotium Forensik Polri cabang Surabaya.(PIN/Christanto Rahardjo, Hasan Sentot, dan Bambang Ronggo)
Musibah ini terjadi ketika 30 karyawan dan buruh lepas pabrik gula Semboro membersihkan katup di bagian tengah pabrik, sekitar pukul 07.30 WIB. Mendadak katup uap yang menjadi alat untuk mengkristalkan gula meledak dan menyebabkan dua karyawan tewas seketika. Sementara seorang korban lainnya meninggal dalam perjalanan dan seorang lagi meninggal di rumah sakit. Mereka adalah Didik Purwanto, Muhammad Choirul, Sudarmanto dan Lusiyanto. Sedangkan ke-13 korban luka-luka kini dirawat di Rumah Sakit PTB Jember dan RS Malang.
Sejauh ini, belum diketahui penyebab ledakan tersebut. Namun, seorang staf teknik Pabrik Gula Semboro Agung Nugroho mengakui peralatan katup uap memang sudah tua dan telah terpasang sejak 1980. Untuk keperluan penyelidikan, Kepolisian Resor Jember akan mendatangkan tim Laboratotium Forensik Polri cabang Surabaya.(PIN/Christanto Rahardjo, Hasan Sentot, dan Bambang Ronggo)