Liputan6.com, Jakarta: Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Bibit yang bagus biasanya akan menghasilkan buah yang manis. Pepatah ini mungkin tepat untuk menggambarkan keluarga Mohammad Hatta. Kehausan mantan wakil presiden pertama Indonesia ini dalam mencari ilmu ternyata berimbas kepada tiga putrinya. Meutia Farida, Gemala Rabi`ah, dan Halida Hatta belakangan sukses dalam dunia akademis. Mereka seperti menapaki jejak yang pernah dilakukan sang ayah. Benar-benar like father like daughter.
Putri pertama Hatta bernama Meutia Farida. Kesehariannya banyak dihabiskan dengan berbagai kegiatan akademis di Universitas Indonesia, tempat ia kuliah sekaligus mengajar. Tak heran bila ketekunan dan kerja kerasnya selama ini, mengantarkan Meutia meraih gelar doktor dalam bidang antropologi. Bahkan, ia juga berhasil menyandang gelar profesor. Meutia mengaku semua yang diraih pun berkat dukungan sang suami, Sri Edi Swasono dan putranya, Tan Sri Zulfikar Yusuf.
Begitu juga dengan Gemala Rubi`ah Hatta. Putri kedua Hatta ini baru saja berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Determinan dan Pengembangan Model Rekam Antenatal Informatif" dengan Judisium Cum Laude. Gelar akademis untuk bidang yang tak banyak diambil orang. Pada tahun ini, Dr. Gemala adalah doktor ketiga yang dimiliki Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. "Gelar itu buat ayah," ujar Gemala, yang pernah mengikuti pendidikan dalam bidang Administrasi Rekam Medis di School of Medical Record Administration Sydney, Australia.
Menurut Gemala, keberhasilan dirinya dalam dunia akademis tak lepas dari peran sang ayah dan putra tunggalnya, Mohammad Athar. Selama menyusun tesis yang memakan waktu bertahun-tahun, Gemala mengaku perhatian terhadap anaknya menjadi korban. Maklumlah, ia juga aktif sebagai pengurus Yayasan Mitra Budaya Indonesia. Namun, Athar tak pernah protes. Dia seakan bisa memahami dan terus mendukung semua kegiatan ibunya, hingga bisa meraih gelar doktor.
Kegiatan akademis Halida memang tidak terlalu menonjol seperti kedua kakaknya, Meutia dan Gemala. Peraih master ilmu politik dari Tokyo, Jepang, ini tidak memilih menjadi wanita karir secara penuh. Sebagai istri seorang diplomat, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bersama putri tunggalnya, Gustika. Sebagai istri diplomat, ia harus siap mendampingi suami bila ditugaskan di luar negeri. Kegiatan sehari-hari Halida adalah mengantar dan menjemput Gustika dari sekolah.(ULF/Indriati Yulistiani dan Kurnia Supriatna)
Putri pertama Hatta bernama Meutia Farida. Kesehariannya banyak dihabiskan dengan berbagai kegiatan akademis di Universitas Indonesia, tempat ia kuliah sekaligus mengajar. Tak heran bila ketekunan dan kerja kerasnya selama ini, mengantarkan Meutia meraih gelar doktor dalam bidang antropologi. Bahkan, ia juga berhasil menyandang gelar profesor. Meutia mengaku semua yang diraih pun berkat dukungan sang suami, Sri Edi Swasono dan putranya, Tan Sri Zulfikar Yusuf.
Begitu juga dengan Gemala Rubi`ah Hatta. Putri kedua Hatta ini baru saja berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Determinan dan Pengembangan Model Rekam Antenatal Informatif" dengan Judisium Cum Laude. Gelar akademis untuk bidang yang tak banyak diambil orang. Pada tahun ini, Dr. Gemala adalah doktor ketiga yang dimiliki Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. "Gelar itu buat ayah," ujar Gemala, yang pernah mengikuti pendidikan dalam bidang Administrasi Rekam Medis di School of Medical Record Administration Sydney, Australia.
Menurut Gemala, keberhasilan dirinya dalam dunia akademis tak lepas dari peran sang ayah dan putra tunggalnya, Mohammad Athar. Selama menyusun tesis yang memakan waktu bertahun-tahun, Gemala mengaku perhatian terhadap anaknya menjadi korban. Maklumlah, ia juga aktif sebagai pengurus Yayasan Mitra Budaya Indonesia. Namun, Athar tak pernah protes. Dia seakan bisa memahami dan terus mendukung semua kegiatan ibunya, hingga bisa meraih gelar doktor.
Kegiatan akademis Halida memang tidak terlalu menonjol seperti kedua kakaknya, Meutia dan Gemala. Peraih master ilmu politik dari Tokyo, Jepang, ini tidak memilih menjadi wanita karir secara penuh. Sebagai istri seorang diplomat, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bersama putri tunggalnya, Gustika. Sebagai istri diplomat, ia harus siap mendampingi suami bila ditugaskan di luar negeri. Kegiatan sehari-hari Halida adalah mengantar dan menjemput Gustika dari sekolah.(ULF/Indriati Yulistiani dan Kurnia Supriatna)