Liputan6.com, Jakarta: Seandainya masih hidup, Bapak Proklamator Indonesia Mohammad Hatta tentu berusia seratus tahun. Ini jelas bukan waktu yang sebentar. Dalam usia yang seabad itu, pemikiran-pemikiran Hatta masih "meruang dan mewaktu", terutama tentang prinsip demokrasi dan idenya soal lembaga ekonomi dalam bentuk koperasi. Namun, siapa mengira kalau, ide-ide Hatta ternyata berawal dari sebuah pepatah yang berasal dari Minangkabau, tanah kelahirannya, yang berbunyi: bulek air di pambuluh, bulek kato ka mufakat. Maksudnya, bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat [baca: Bung Hatta, Demokrat Ranah Minang].
Sejak belia, Bung Hatta--demikian biasa disebut--yang lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 12 Agustus 1902, terbiasa dengan lingkungan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai dalam pepatah tersebut. Tak heran bila di kemudian hari, sedikit banyak, pemikiran Hatta ikut terpengaruh, tentunya ke nuansa demokratis. Keyakinan Putra Minang ini bertambah besar dan semakin kental lewat buku-buku bacaan yang setiap hari "dilahap".
Hatta kecil menghabiskan waktu sama halnya dengan anak-anak sebaya di Minangkabau: bermain, belajar, atau mengaji. Dia sempat belajar dua tahun di Sekolah Rakyat, sebelum pindah ke Europese Lagere School (ELS)--sekolah dasar untuk orang Eropa. Setamat ELS pada 1917, Hatta berniat melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Jakarta. Namun, Siti Suleha, sang ibu, keberatan karena letak HBS yang jauh dari Bukittinggi.
Belakangan, Hatta baru bisa keluar dari kampung halaman ketika bersekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs--sekolah menengah pertama) Padang. Di sela waktu sekolah, Hatta belajar bahasa Inggris dan Prancis lewat privat, plus mendalami ilmu agama. Baru setelah tamat dari MULO, Hatta ke Jakarta untuk belajar ilmu dagang di Prins Hendrik Handels School. Selama di Tanah Batavia, Hatta banyak bergaul dengan tokoh pergerakan nasional, termasuk Haji Agus Salim. Namun begitu, sebenarnya, karir politik Hatta dimulai sejak menjabat bendahara Jong Sumatranen Bond, sewaktu masih belajar di MULO.
Pengetahuan politik Hatta semakin matang manakala dia berkesempatan belajar di Belanda. Di Negeri Kincir Angin, Hatta banyak menulis di berbagai media. Di antaranya sebuah buletin yang beredar di kalangan sosialis: De Vlam, De Socialist, Recht in Vrijheid. Kendati demikian, Hatta tidak terjebak dengan pemikiran Karl Marx yang cenderung mengedepankan pertentangan kelas. Bagi dia, sosialis justru mengentalkan keyakinan tentang sebuah negara yang demokratis, sesuai nilai-nilai yang dipercaya sejak kecil. Dalam sistem tersebut, rakyatlah segala-galanya.
Pemahaman demokrasi-lah yang acap dipertahankan Hatta, hingga kemudian menjadi seorang proklamator--bersama Soekarno--Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejak itu pula, jalan buat Hatta menerapkan ide-ide tentang demokrasi terus terbuka lebar. Sebagai wakil presiden, Hatta mengeluarkan Maklumat X atau Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta, 3 November 1945, yang berisi anjuran untuk membentuk partai-partai politik. Tujuannya, agar parpol menjadi jalan menyalurkan aspirasi politik seluruh rakyat. Maka, pada 1955, pemilu pertama kali digelar dan dicap sebagai pemilu paling demokratis.
Kesetiaan pada asas demokrasi dikemukakan Hatta lewat pentingnya kaderisasi untuk mengembangkan partai. Menurut seorang wartawan senior Rosihan Anwar, ini yang membedakan Hatta dengan Soekarno. "Kalau Hatta, pendekatannya partai kader. Bung Karno partai massa. Woaaaa, woaaaa, suka ribut-ribut begitu," kata Rosihan.
Dalam hubungan antarnegara, Hatta tetap cenderung memilih kesetaraan sebagai wujud demokrasi. Dia merumuskan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan tidak memihak, baik Blok Barat maupun Timur. Sementara di bidang ekonomi, kekonsistenannya dalam demokrasi diwujudkan dalam ide membentuk koperasi. Yang terakhir ini, membuat Hatta lebih dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Menurut pengamat politik Deliar Noer, Hatta sangat mengenal kondisi masyarakat Indonesia. "Karena rakyat miskin maka pembinaan ekonomi haruslah dengan koperasi," kata Deliar. Sedangkan pengamat koperasi Sri Eddy Swasono mengatakan, koperasi adalah upaya buat menolong diri sendiri secara bersama-sama. Sejatinya, dalam pandangan Hatta, orang tak akan mampu menolong yang lain, jika menolong diri sendiri secara individual saja susah.
Sayangnya, penerapan ide koperasi mengalami berbagai kendala. Banyak koperasi yang tak berhasil menyejahterakan anggotanya lantaran anggota tak becus mengelola lembaga ekomomi tersebut. Menurut pengamat sosial Selo Soemardjan, ide Bung Hatta tentang koperasi akan sukses jika didukung sistem manajemen yang berpengalaman. Ini juga yang membuat pemikiran Bung Hatta tetap relevan hingga kini. Rasa-rasanya, pemikiran Bung Hatta seperti sajak Chairil Anwar yang "ingin hidup seribu tahun lagi". Paling tidak, buat demokrasi dan koperasi.(SID/Indriati Yulistiani dan Kurnia Supriatna)
Sejak belia, Bung Hatta--demikian biasa disebut--yang lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 12 Agustus 1902, terbiasa dengan lingkungan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai dalam pepatah tersebut. Tak heran bila di kemudian hari, sedikit banyak, pemikiran Hatta ikut terpengaruh, tentunya ke nuansa demokratis. Keyakinan Putra Minang ini bertambah besar dan semakin kental lewat buku-buku bacaan yang setiap hari "dilahap".
Hatta kecil menghabiskan waktu sama halnya dengan anak-anak sebaya di Minangkabau: bermain, belajar, atau mengaji. Dia sempat belajar dua tahun di Sekolah Rakyat, sebelum pindah ke Europese Lagere School (ELS)--sekolah dasar untuk orang Eropa. Setamat ELS pada 1917, Hatta berniat melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Jakarta. Namun, Siti Suleha, sang ibu, keberatan karena letak HBS yang jauh dari Bukittinggi.
Belakangan, Hatta baru bisa keluar dari kampung halaman ketika bersekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs--sekolah menengah pertama) Padang. Di sela waktu sekolah, Hatta belajar bahasa Inggris dan Prancis lewat privat, plus mendalami ilmu agama. Baru setelah tamat dari MULO, Hatta ke Jakarta untuk belajar ilmu dagang di Prins Hendrik Handels School. Selama di Tanah Batavia, Hatta banyak bergaul dengan tokoh pergerakan nasional, termasuk Haji Agus Salim. Namun begitu, sebenarnya, karir politik Hatta dimulai sejak menjabat bendahara Jong Sumatranen Bond, sewaktu masih belajar di MULO.
Pengetahuan politik Hatta semakin matang manakala dia berkesempatan belajar di Belanda. Di Negeri Kincir Angin, Hatta banyak menulis di berbagai media. Di antaranya sebuah buletin yang beredar di kalangan sosialis: De Vlam, De Socialist, Recht in Vrijheid. Kendati demikian, Hatta tidak terjebak dengan pemikiran Karl Marx yang cenderung mengedepankan pertentangan kelas. Bagi dia, sosialis justru mengentalkan keyakinan tentang sebuah negara yang demokratis, sesuai nilai-nilai yang dipercaya sejak kecil. Dalam sistem tersebut, rakyatlah segala-galanya.
Pemahaman demokrasi-lah yang acap dipertahankan Hatta, hingga kemudian menjadi seorang proklamator--bersama Soekarno--Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejak itu pula, jalan buat Hatta menerapkan ide-ide tentang demokrasi terus terbuka lebar. Sebagai wakil presiden, Hatta mengeluarkan Maklumat X atau Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta, 3 November 1945, yang berisi anjuran untuk membentuk partai-partai politik. Tujuannya, agar parpol menjadi jalan menyalurkan aspirasi politik seluruh rakyat. Maka, pada 1955, pemilu pertama kali digelar dan dicap sebagai pemilu paling demokratis.
Kesetiaan pada asas demokrasi dikemukakan Hatta lewat pentingnya kaderisasi untuk mengembangkan partai. Menurut seorang wartawan senior Rosihan Anwar, ini yang membedakan Hatta dengan Soekarno. "Kalau Hatta, pendekatannya partai kader. Bung Karno partai massa. Woaaaa, woaaaa, suka ribut-ribut begitu," kata Rosihan.
Dalam hubungan antarnegara, Hatta tetap cenderung memilih kesetaraan sebagai wujud demokrasi. Dia merumuskan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan tidak memihak, baik Blok Barat maupun Timur. Sementara di bidang ekonomi, kekonsistenannya dalam demokrasi diwujudkan dalam ide membentuk koperasi. Yang terakhir ini, membuat Hatta lebih dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Menurut pengamat politik Deliar Noer, Hatta sangat mengenal kondisi masyarakat Indonesia. "Karena rakyat miskin maka pembinaan ekonomi haruslah dengan koperasi," kata Deliar. Sedangkan pengamat koperasi Sri Eddy Swasono mengatakan, koperasi adalah upaya buat menolong diri sendiri secara bersama-sama. Sejatinya, dalam pandangan Hatta, orang tak akan mampu menolong yang lain, jika menolong diri sendiri secara individual saja susah.
Sayangnya, penerapan ide koperasi mengalami berbagai kendala. Banyak koperasi yang tak berhasil menyejahterakan anggotanya lantaran anggota tak becus mengelola lembaga ekomomi tersebut. Menurut pengamat sosial Selo Soemardjan, ide Bung Hatta tentang koperasi akan sukses jika didukung sistem manajemen yang berpengalaman. Ini juga yang membuat pemikiran Bung Hatta tetap relevan hingga kini. Rasa-rasanya, pemikiran Bung Hatta seperti sajak Chairil Anwar yang "ingin hidup seribu tahun lagi". Paling tidak, buat demokrasi dan koperasi.(SID/Indriati Yulistiani dan Kurnia Supriatna)