Proliga: Tri Retno Mutiara Berevolusi Bersama BNI 46

Tri Retno Mutiara bertekad memberikan prestasi yang lebih baik untuk tim putri BNI 46 pada Proliga 2019.

oleh Bogi TriyadiDiterbitkan 26 Desember 2018, 20:45 WIB
Tri Retno Mutiara memperkuat BNI 46 pada kompetisi bola voli Proliga 2019. (foto: Liputan6.com/Bogi Triyadi)

Liputan6.com, Bandung - Nama Tri Retno Mutiara sudah sangat familiar di kompetisi Proliga. Atlet berusia 21 tahun itu sudah tujuh tahun berkiprah di kompetisi bola voli kasta tertinggi di Indonesia tersebut.

Karier Tiara, sapaan akrabnya, di Proliga dimulai bersama tim TNI AU pada 2013 silam. Ketika itu, usianya baru menginjak 15 tahun. Setahun kemudian, wanita kelahiran Cirebon, 16 November 1997 itu bergabung dengan tim Jakarta Monas Bank DKI. Di usia yang baru 16 tahun itu, Tiara sudah dipercaya sebagai kapten tim.

Karier Tiara mulai menanjak setelah memperkuat Jakarta Elektrik PLN pada 2015. Ia membantu tim yang diasuh Tian Mei itu menjadi juara. Tak hanya itu, penggemar traveling ini juga meraih predikat sebagai setter terbaik di Proliga 2015.

Performa bagusnya bersama Jakarta Elektrik membawa Tiara masuk ke timnas Indonesia untuk berlaga pada SEA Games 2015 di Singapura. Setelah itu, dia memperkuat Jakarta Pertamina Energi selama dua musim, yakni 2016 dan 2017. Tiara membawa Jakarta Pertamina dua kali menjadi runner up.

Sejak Proliga 2018, Tiara memperkuat BNI 46. Musim lalu, dia hanya mampu membawa BNI 46 finis di peringkat empat. Di musim ini, walau hanya targetnya lolos keempat besar, Tiara ingin mempersembahkan prestasi yang lebih baik.

"Saya optimistis BNI 46 bisa lolos final four Proliga," kata Tiara kepada Liputan6.com di Bandung, baru-baru ini. "Kalau untuk ke final, kita lihat nanti di final four."


Darah Orangtua

Setter BNI 46 Tri Retno Mutiara di Proliga 2019. (foto: Liputan6.com/Bogi Triyadi)

Darah bola voli Tiara mengalir dari sang ibu. Sejak masih kelas lima sekolah dasar, dia sudah diperkenalkan sang ibu dengan olahraga ini. "Awalnya renang sama badminton untuk mengisi kegiatan setelah pulang sekolah selain les bahasa Inggris. Lalu aku diajak ke GOR untuk kemudian dikenalkan bola voli," turut Tiara.

Di voli, Tiara merasa melihat tantangannya lebih besar dibandingkan renang dana bulu tangkis. "Di voli, basic dan tekniknya itu susah, harus bertahun-tahun. Berbeda dengan renang dan bulu tangkis," paparnya.

Lanjut Baca:

Selain itu, banyaknya teman di voli membuat Tiara menjadi lebih kerasan. "Banyak temannya, jadi semangat ingin latihan lagi, latihan lagi," ujar Tiara penuh senyum. Tiara sempat mengikuti seleksi untuk bisa masuk sekolah atlet ragunan. Tetapi tidak lolos. Di Cirebon, dia bergabung dengan klub Puspita Majalengka. Tiara pun mulai mengikuti turnamen-turnamen voli di Bandung sejak kelas 1 SMP. Ternyata, bakat Tiara terpantau pelatih dari klub Wahana Bandung. Terhitung sejak kelas 1 SMA, dia pindah ke Bandung dan bergabung dengan Wahana. Demi mewujudkan cita-citanya menjadi pemain nasional, ia pun rela harus berpisah dengan orangtua. "Awalnya tak terlalu tekunin, tapi orang-orang seperti Om Risco (Herlambang, pelatih Wahana), melihat aku memiliki bakat," ujarnya. Bergabung dengan klub Wahana ternyata keputusan yang tepat. Terbukti, karier Tiara terus menanjak. Ia akhirnya bisa bermain di Proliga yang juga membawanya memperkuat timnas Indonesia sesuai mimpinya. Tak hanya itu, cita-citanya untuk bermain di Asian Games juga terwujud. Tiara membela timnas Indonesia pada Asian Games 2018 di Jakarta.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya