Kisah Pahit Pengamen Cilik Ibu Kota

Para pengamen cilik dan anak jalanan menjadi fenomena miring yang muncul di kota besar seperti Jakarta. Mereka berebut dengan sesama pengamen cilik dan mengejar bus kota, untuk menghidupi keluarga.

oleh Liputan6Diterbitkan 23 Juli 2002, 20:52 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Kehidupan anak jalanan sepintas dekat dengan kekerasan. Namun, anggapan itu ditolak sejumlah pengamen yang mangkal di bilangan Jakarta Selatan. "Nggak semuanya bener," kata mereka. Sebab, mereka malah mengaku menikmati kehidupan tersebut apa adanya. Berebut dengan sesama pengamen cilik dan mengejar bus kota menjadi rutinitas keseharian mereka. Aktivitas itu tetap dilakoni, meski berkenaan dengan Hari Anak Nasional yang jatuh Selasa, 23 Juli ini.

Para pengamen cilik dan anak jalanan tampaknya menjadi fenomena tak sedap yang muncul di kota besar, seperti Jakarta. Tengok saja, para pendendang jalanan di seputar Bulungan atau Blok M, Jakarta Selatan. Anak-anak usia sekolah ini sudah harus mencari nafkah di jalanan selama sembilan hingga 10 jam sehari. Hasilnya, mereka mendapat uang sekitar Rp 20 sampai Rp 30 ribu.

Semua bocah-bocah tadi terlahir dari keluarga miskin. Dengan berbagai alasan, orangtuanya menyuruh mereka mencari uang. Buntutnya, barisan anak usia sekolah itu terpaksa menghabiskan masa kecil di jalanan. Sebaliknya, orangtua mereka seakan tak peduli dengan kehidupan sang anak. Hal itulah yang dialami Evi, pengamen cilik di Bulungan. Dia mengaku tak bisa bersekolah karena orangtuanya tak punya biaya. Jadilah dia seorang pengamen yang bergelayutan di bus-bus kota. Uang hasil mengamen, selalu Evi berikan ke orangtuanya. Itulah sebabnya, Evi mengaku pasti dimarahi orangtuanya, jika gagal pulang membawa uang. Padahal, duit tadi tak sepenuhnya bakal dinikmati mereka. Buat uang bersekolah, misalnya, atau keperluan keluarga lain.

Ironis memang. Padahal, uang hasil mengamen bisa mencapai Rp 1 juta per bulan. Anak-anak itu juga tak bisa mengenyam pendidikan karena orangtua mereka selalu menganggap sekolah adalah kemewahan.

Agar mereka mendapat pendidikan yang memadai, memang belakangan ini banyak yayasan sosial yang mau turun tangan. Maklumlah, tanpa itu cita-cita, mereka seperti lenyap ditelan keramaian jalanan di Ibu Kota [baca: Verra dan Harapan Pengamen Cilik untuk Presiden]. Meski, mereka tetap menjadi kenyataan.(DEN/Mira Permatasari dan Adi Iskarpandi)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya