Liputan6.com, Washington: Tentara AS yang dituduh membantai 16 orang warga sipil Afghanistan diketahui bernama Sersan Robert Bales. Pejabat senior AS mengungkapkan identitas tertuduh kepada BBC ketika tersangka tengah diterbangkan ke AS untuk menghadapi tuntutan hukum, Sabtu (17/3). Dia diperkirakan akan segera mendarat di Fort Leavenworth, Kansas, setelah diterbangkan melalui Kuwait.
Pengacara prajurit tersebut, John Henry Browne, mengatakan bahwa kliennya adalah seorang pria 38 tahun yang terluka dua kali saat bertugas di Irak. Dia juga mengatakan terdakwa menyaksikan kaki temannya yang terluka parah akibat ledakan sehari sebelum pembantaian tersebut. Insiden ini belum dikonfirmasi oleh Angkatan Darat AS.
Akibat pembantaian terhadap korban sipil yang sebagaian besar anak-anak dan kaum peremopuan ini, Taliban membatalkan negoisasi lanjutan dengan AS. Tetapi Pemerintah AS mengatakan tetap akan memperjuangkan negosiasi untuk mendamaikan kelompok yang berperang di Afghanistan.
Sementara Presiden Afghanistan Hamis Karzai juga murka atas pembantaian ini. Dia mengatakan AS harus menarik kembali pasukannya dari wilayah pedesaan dan meminta pasukan keamanan Afghanistan memimpin operasi di lapangan agar dapat mengurangi kematian warga sipil.
Sersan Bales sejauh ini belum resmi dituntut, tetapi dia telah dijadikan tersangka kasus pembantaian tersebut. Persidangan dalam kasus seperti ini akan memakan waktu bertahun-tahun, sebuah kenyataan yang bertolak belakang dengan tuntutan Afghanistan yang menghendaki pengadilan itu berlangsung lebih cepat dengan hukuman yang berat.
Berbicara di Seattle, Kamis lalu, tempat Sersan Bales semula bertugas, sang pengacara John Henry Browne mengatakan kliennya "berwatak halus" dan bukanlah tipe orang anti-Islam. Dia melukiskan kliennya itu sosok panutan di antara rekan-rekannya, sebelum ada kasus pembantaian.(ADO)
Pengacara prajurit tersebut, John Henry Browne, mengatakan bahwa kliennya adalah seorang pria 38 tahun yang terluka dua kali saat bertugas di Irak. Dia juga mengatakan terdakwa menyaksikan kaki temannya yang terluka parah akibat ledakan sehari sebelum pembantaian tersebut. Insiden ini belum dikonfirmasi oleh Angkatan Darat AS.
Akibat pembantaian terhadap korban sipil yang sebagaian besar anak-anak dan kaum peremopuan ini, Taliban membatalkan negoisasi lanjutan dengan AS. Tetapi Pemerintah AS mengatakan tetap akan memperjuangkan negosiasi untuk mendamaikan kelompok yang berperang di Afghanistan.
Sementara Presiden Afghanistan Hamis Karzai juga murka atas pembantaian ini. Dia mengatakan AS harus menarik kembali pasukannya dari wilayah pedesaan dan meminta pasukan keamanan Afghanistan memimpin operasi di lapangan agar dapat mengurangi kematian warga sipil.
Sersan Bales sejauh ini belum resmi dituntut, tetapi dia telah dijadikan tersangka kasus pembantaian tersebut. Persidangan dalam kasus seperti ini akan memakan waktu bertahun-tahun, sebuah kenyataan yang bertolak belakang dengan tuntutan Afghanistan yang menghendaki pengadilan itu berlangsung lebih cepat dengan hukuman yang berat.
Berbicara di Seattle, Kamis lalu, tempat Sersan Bales semula bertugas, sang pengacara John Henry Browne mengatakan kliennya "berwatak halus" dan bukanlah tipe orang anti-Islam. Dia melukiskan kliennya itu sosok panutan di antara rekan-rekannya, sebelum ada kasus pembantaian.(ADO)