Liputan6.com, Los Angeles: Aktor gaek Harrison Ford kembali berlaga dalam film action "K-19 The Widowmaker". Kali ini, pria ganteng berusia 59 tahun itu berpasangan dengan Liam Neeson. Film arahan Kathryn Bigelow tersebut mengangkat kisah nyata tragedi kapal selam nuklir pertama milik Rusia. Rencananya, K-19 The Widowmaker akan diputar di seluruh Amerika Serikat 17 Juli mendatang. "Saya berharap film tersebut akah menggambarkan kepahlawanan para pelaut," kata Ford di Los Angeles, AS, baru-baru ini.
Ford dan Neeson berperan sebagai pasangan kapten K-19 The Widowmaker. Empat puluh tahun silam, kapal selam K-19 mengangkut awak kapal yang lumpuh dan berjuang di perairan Atlantik Utara untuk mencegah ledakan nuklir yang bisa menyulut Perang Dunia Ketiga. Kapal itu mengalami musibah dan menewaskan delapan awak kapal. Mereka tewas akibat radiasi yang meracuninya saat menuju ke ruang reaktor. Kapten Alexei (Ford) diperintahkan untuk mengambil alih kendali dari tangan Kapten Mikhail Polenin (Nesson).
Alexei berhasil membuat situasi di dalam kapal stabil. Lantas, K-19 pun dibawa ke stasiun bawah laut yang terletak 400 kilometer dari garis pantai AS. Masalah timbul saat sistem pendingin nuklir tak berfungsi. Kerusakan ini harus segera diperbaiki. Karena bila kapal itu meledak di laut, jutaan nyawa akan melayang. Ford dan kawan-kawan akhirnya memilih memperbaiki kapal meski nyawa jadi taruhannya.(KEN/Pinta)
Ford dan Neeson berperan sebagai pasangan kapten K-19 The Widowmaker. Empat puluh tahun silam, kapal selam K-19 mengangkut awak kapal yang lumpuh dan berjuang di perairan Atlantik Utara untuk mencegah ledakan nuklir yang bisa menyulut Perang Dunia Ketiga. Kapal itu mengalami musibah dan menewaskan delapan awak kapal. Mereka tewas akibat radiasi yang meracuninya saat menuju ke ruang reaktor. Kapten Alexei (Ford) diperintahkan untuk mengambil alih kendali dari tangan Kapten Mikhail Polenin (Nesson).
Alexei berhasil membuat situasi di dalam kapal stabil. Lantas, K-19 pun dibawa ke stasiun bawah laut yang terletak 400 kilometer dari garis pantai AS. Masalah timbul saat sistem pendingin nuklir tak berfungsi. Kerusakan ini harus segera diperbaiki. Karena bila kapal itu meledak di laut, jutaan nyawa akan melayang. Ford dan kawan-kawan akhirnya memilih memperbaiki kapal meski nyawa jadi taruhannya.(KEN/Pinta)