Liputan6.com, Bojonegoro: Suatu malam di sebuah sudut di Kota Bojonogero, Jawa Timur. Seorang perempuan muda asyik bergoyang diiringi tabuhan tujuh pemain gending. Sesekali matanya melirik ke arah pria-pria pejalan kaki yang kebetulan lewat, seolah mengundang agar mampir sejenak buat sekadar menghabiskan malam dengan segelas bir. Yang diundang seperti tak kuasa menolak manakala penari menambah kesan "undangan" dengan lenggok yang semlohei. "Nggak kuat," mungkin begitu pikir si pria.
Merasa gayung bersambut, si tayub--penari--tadi semakin liar menggencarkan serangan. Dendang lagu Jawa yang sedang in pun keluar dari mulutnya. Saat nyanyian berkumandang ditambah goyangan aduhai, sang biduan bisa juga disebut sindir atau ledek. Malam yang semakin larut seperti tak terasa. Penonton justru tenggelam dalam lenggokan tayub. Sebagian di antaranya ikut bergoyang. Bahkan ada yang nyawer--memberikan sejumlah uang buat si tayub.
Pentas tayub ini hanyalah gelintiran kecil dari sebuah kesenian tayub yang sebenarnya di Bojonegoro. Sebab, para "pengisi acara" cuma bagian dari sebuah bisnis kecil-kecilan warung remang-remang yang biasa menghiasi kehidupan malam di kota itu. Tujuannya hanya supaya pejalan kaki mau singgah sebentar untuk mengisi malam seraya menyambut mentari pagi. Apalagi, sang tayub cuma berpakaian sekadarnya, jauh dari kesan penari-penari Jawa pada umumnya: berpakaian khas plus selendang. Tak bisa dipungkiri, tayub kecil-kecilan ini sesungguhnya hanya cara untuk bertahan hidup bagi mereka.
Kesenian tayub yang asli sebenarnya telah pudar di Bojonegoro. Alasannya mengganggu ketertiban umum, selain larangan bagi penonton menaruh uang saweran di kutang para sindir. Karena itu, kini bentuk tayub dibuat seragam dan tak seliar dulu lagi. Monoton. Mana yang boleh dan tak boleh sudah diatur "penguasa". Bahkan, penikmat tak lagi bisa memesan lagu yang bernuansa genit. Alasannya, ya itu tadi, takut mengganggu ketertiban umum. Buntutnya, kesenian tayub yang dahulu dijadikan simbol pergaulan dan ajang adu gengsi buat lelaki kini hanya sekadar hiburan di acara-acara hajatan warga Bojonegoro, seperti pesta perkawinan dan khitanan. Tak lagi meriah. Benar-benar sepi.
Padahal, konon seorang lelaki tak pernah dianggap dewasa jika belum pernah turun beksan mengiringi sang sindir menari di pentas tayub. Bahkan, bila sang pria bisa memikat hati sindir, masyarakat akan langsung menaruh hormat kepadanya. Pengakuan yang sudah berlangsung lama, tanpa bisa ditepis. Tapi, terlepas dari itu semua, tayub tetap diminati warga Bojonegoro sebagai sebuah hiburan. Setiap pesta rakyat rasanya kurang lengkap tanpa lantunan lagu dari seorang sindir. Besarnya animo warga Bojonegoro, khususnya di pedesaan terhadap hiburan tayub membuat pekerja seni tersebut tak kehabisan undangan pentas. Honor pertunjukan pun tak henti-hentinya mengalir.
Sebut saja namanya Bariyem. Saat ini, Bariyem adalah seorang di antara sindir papan atas di Bojonegoro. Dalam satu kali undangan pentas, wanita molek itu biasa dibayar antara Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Bisa dibayangkan berapa yang didapatkan Bariyem, bila dalam sebulan ia mentas antara 10 hingga 15 kali. Ya, memang sekitar sepuluh juta rupiah, tentu sebuah angka yang cukup menggiurkan bagi masyarakat yang hidup di kota kecil. Tak heran banyak gadis-gadis di kawasan pedesaan di Bojonegoro, seperti di Desa Ngasem, sangat memimpikan menjadi seorang sindir. Apalagi, Desa Ngasem, selama ini, dikenal sebagai daerah asal para sindir beken seperti Bariyem.
Meski cuma kelas kampung, kehidupan sindir pun layaknya selebritis tenar: menjadi perhatian dan gunjingan orang se-desa. Apalagi yang menyangkut kehidupan rumah tangga. Di Ngasem, tujuh dari 10 sindir memiliki kehidupan rumah tangga yang berantakan. Jadi memang mirip-mirip artis Ibu Kota, sebut saja Dessy Ratnasari, Iis Dahlia, atau Nia Daniati, yang perjalanan rumah tangganya tak mulus, tapi tetap diidolakan gadis-gadis Desa Ngasem.
Dalam kesehariannya, seorang sindir tetap tak lepas dari mitos-mitos yang berkaitan dengan kelangsungan hidup mereka sebagai ledek. Misalnya, larangan buat gadis yang masih perawan untuk menjadi sindir lantaran dipercaya akan menjadi tumbal. Ada juga yang kerap menemui dukun buat menanyakan seputar peruntungan dan pantangan, termasuk hari baik dan buruk. Bahkan ada sindir yang meminta orang pintar untuk menambah atau dipertahankan agar daya tarik yang dimiliki tak pudar. Buntutnya, sang sindir merelakan di bagian tubuhnya ditanamkan susuk, jimat, atau apapun namanya.
Yang menarik dalam kehidupan sindir adalah regenerasi dari ledek tua kepada yang muda. Layaknya geisha di Jepang, sindir senior rela meluangkan waktu buat mengajarkan sindir pemula agar bisa menari dan menyanyi sehingga dapat mewujudkan impian menjadi sindir beken. Pada waktunya nanti, sindir senior akan mengenalkan para pemula kepada khalayak ramai. Sebuah cara yang patut ditiru. Kesempatan ini tentunya tak akan dibuang percuma oleh sindir junior. Ia akan berusaha tampil sebaik-baiknya. Kalau sudah begitu, pilihan pun ada pada khalayak: jika suatu saat nanti berencana menggelar hajatan, siapa sindir yang akan diundang? Yang tua boleh, yang muda pun tak kalah semlohei.(SID/Tim Potret)
Merasa gayung bersambut, si tayub--penari--tadi semakin liar menggencarkan serangan. Dendang lagu Jawa yang sedang in pun keluar dari mulutnya. Saat nyanyian berkumandang ditambah goyangan aduhai, sang biduan bisa juga disebut sindir atau ledek. Malam yang semakin larut seperti tak terasa. Penonton justru tenggelam dalam lenggokan tayub. Sebagian di antaranya ikut bergoyang. Bahkan ada yang nyawer--memberikan sejumlah uang buat si tayub.
Pentas tayub ini hanyalah gelintiran kecil dari sebuah kesenian tayub yang sebenarnya di Bojonegoro. Sebab, para "pengisi acara" cuma bagian dari sebuah bisnis kecil-kecilan warung remang-remang yang biasa menghiasi kehidupan malam di kota itu. Tujuannya hanya supaya pejalan kaki mau singgah sebentar untuk mengisi malam seraya menyambut mentari pagi. Apalagi, sang tayub cuma berpakaian sekadarnya, jauh dari kesan penari-penari Jawa pada umumnya: berpakaian khas plus selendang. Tak bisa dipungkiri, tayub kecil-kecilan ini sesungguhnya hanya cara untuk bertahan hidup bagi mereka.
Kesenian tayub yang asli sebenarnya telah pudar di Bojonegoro. Alasannya mengganggu ketertiban umum, selain larangan bagi penonton menaruh uang saweran di kutang para sindir. Karena itu, kini bentuk tayub dibuat seragam dan tak seliar dulu lagi. Monoton. Mana yang boleh dan tak boleh sudah diatur "penguasa". Bahkan, penikmat tak lagi bisa memesan lagu yang bernuansa genit. Alasannya, ya itu tadi, takut mengganggu ketertiban umum. Buntutnya, kesenian tayub yang dahulu dijadikan simbol pergaulan dan ajang adu gengsi buat lelaki kini hanya sekadar hiburan di acara-acara hajatan warga Bojonegoro, seperti pesta perkawinan dan khitanan. Tak lagi meriah. Benar-benar sepi.
Padahal, konon seorang lelaki tak pernah dianggap dewasa jika belum pernah turun beksan mengiringi sang sindir menari di pentas tayub. Bahkan, bila sang pria bisa memikat hati sindir, masyarakat akan langsung menaruh hormat kepadanya. Pengakuan yang sudah berlangsung lama, tanpa bisa ditepis. Tapi, terlepas dari itu semua, tayub tetap diminati warga Bojonegoro sebagai sebuah hiburan. Setiap pesta rakyat rasanya kurang lengkap tanpa lantunan lagu dari seorang sindir. Besarnya animo warga Bojonegoro, khususnya di pedesaan terhadap hiburan tayub membuat pekerja seni tersebut tak kehabisan undangan pentas. Honor pertunjukan pun tak henti-hentinya mengalir.
Sebut saja namanya Bariyem. Saat ini, Bariyem adalah seorang di antara sindir papan atas di Bojonegoro. Dalam satu kali undangan pentas, wanita molek itu biasa dibayar antara Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Bisa dibayangkan berapa yang didapatkan Bariyem, bila dalam sebulan ia mentas antara 10 hingga 15 kali. Ya, memang sekitar sepuluh juta rupiah, tentu sebuah angka yang cukup menggiurkan bagi masyarakat yang hidup di kota kecil. Tak heran banyak gadis-gadis di kawasan pedesaan di Bojonegoro, seperti di Desa Ngasem, sangat memimpikan menjadi seorang sindir. Apalagi, Desa Ngasem, selama ini, dikenal sebagai daerah asal para sindir beken seperti Bariyem.
Meski cuma kelas kampung, kehidupan sindir pun layaknya selebritis tenar: menjadi perhatian dan gunjingan orang se-desa. Apalagi yang menyangkut kehidupan rumah tangga. Di Ngasem, tujuh dari 10 sindir memiliki kehidupan rumah tangga yang berantakan. Jadi memang mirip-mirip artis Ibu Kota, sebut saja Dessy Ratnasari, Iis Dahlia, atau Nia Daniati, yang perjalanan rumah tangganya tak mulus, tapi tetap diidolakan gadis-gadis Desa Ngasem.
Dalam kesehariannya, seorang sindir tetap tak lepas dari mitos-mitos yang berkaitan dengan kelangsungan hidup mereka sebagai ledek. Misalnya, larangan buat gadis yang masih perawan untuk menjadi sindir lantaran dipercaya akan menjadi tumbal. Ada juga yang kerap menemui dukun buat menanyakan seputar peruntungan dan pantangan, termasuk hari baik dan buruk. Bahkan ada sindir yang meminta orang pintar untuk menambah atau dipertahankan agar daya tarik yang dimiliki tak pudar. Buntutnya, sang sindir merelakan di bagian tubuhnya ditanamkan susuk, jimat, atau apapun namanya.
Yang menarik dalam kehidupan sindir adalah regenerasi dari ledek tua kepada yang muda. Layaknya geisha di Jepang, sindir senior rela meluangkan waktu buat mengajarkan sindir pemula agar bisa menari dan menyanyi sehingga dapat mewujudkan impian menjadi sindir beken. Pada waktunya nanti, sindir senior akan mengenalkan para pemula kepada khalayak ramai. Sebuah cara yang patut ditiru. Kesempatan ini tentunya tak akan dibuang percuma oleh sindir junior. Ia akan berusaha tampil sebaik-baiknya. Kalau sudah begitu, pilihan pun ada pada khalayak: jika suatu saat nanti berencana menggelar hajatan, siapa sindir yang akan diundang? Yang tua boleh, yang muda pun tak kalah semlohei.(SID/Tim Potret)