Liputan6.com, Jakarta: Sudah menjadi tradisi ondel-ondel selalu hadir di setiap acara tradisional khas Betawi. Tak terkecuali menjelang perayaan hari ulang tahun Jakarta ke-475 digelar. Bagi wong Betawi, ondel-ondel punya sejarah sendiri. Konon para leluhur membuat boneka besar itu untuk menolak bala dan wabah penyakit. "Namanya dulu barongan," kata Yasin, seorang pengrajin ondel-ondel di Jakarta, baru-baru ini. Barongan itu kerap diarak keliling kampung jika warga terserang wabah penyakit.
Untuk itu, barongan bukan sekadar boneka raksasa biasa yang mengenakan pakaian khas berwarna cerah atau hiasan kembang kelapa di kepalanya. Tapi, karena diyakini sebagai penolak bala, pasangan barongan dibuat dengan bentuk tersendiri. "Kesannya menakutkan," kata Yasin. Belakangan, fungsi ondel-ondel berubah sebagai penerima tamu atau pendamping dalam arak-arakan. Nama ondel-ondel kemudian lebih populer karena dilantunkan penyanyi sekaligus artis Benyamin Su`eb.
Menurut Yasin, membuat pasangan ondel-ondel bukan perkara mudah. Sebab, seorang perajin harus memperhitungkan komposisi bahan-bahan dasar pembuatan ondel-ondel, yakni bambu dan ijuk. "Ukuran kaki, badan, dan kepala harus seimbang," kata Yasin. Bobot sebuah boneka pun tak boleh lebih dari 20 kilogram, agar lebih mudah saat mengaraknya.
Sayang, saat ini hanya segelintir orang Betawi yang memiliki keahlian membuat ondel-ondel. Yasin adalah seorang di antaranya. "Saya mendapatkan ilmu dari kakek dan ayah," ujar dia. Karena itu, Yasin dan keluarga selalu kewalahan jika memperoleh order borongan. Tapi ia mampu meraup keuntungan besar dari hasil berjualan ondel-ondel. Bapak beranak dua itu mengatakan tarif pembuatan Rp 1 juta per pasang. Lumayan juga.(KEN/Esther Mulyanie)
Untuk itu, barongan bukan sekadar boneka raksasa biasa yang mengenakan pakaian khas berwarna cerah atau hiasan kembang kelapa di kepalanya. Tapi, karena diyakini sebagai penolak bala, pasangan barongan dibuat dengan bentuk tersendiri. "Kesannya menakutkan," kata Yasin. Belakangan, fungsi ondel-ondel berubah sebagai penerima tamu atau pendamping dalam arak-arakan. Nama ondel-ondel kemudian lebih populer karena dilantunkan penyanyi sekaligus artis Benyamin Su`eb.
Menurut Yasin, membuat pasangan ondel-ondel bukan perkara mudah. Sebab, seorang perajin harus memperhitungkan komposisi bahan-bahan dasar pembuatan ondel-ondel, yakni bambu dan ijuk. "Ukuran kaki, badan, dan kepala harus seimbang," kata Yasin. Bobot sebuah boneka pun tak boleh lebih dari 20 kilogram, agar lebih mudah saat mengaraknya.
Sayang, saat ini hanya segelintir orang Betawi yang memiliki keahlian membuat ondel-ondel. Yasin adalah seorang di antaranya. "Saya mendapatkan ilmu dari kakek dan ayah," ujar dia. Karena itu, Yasin dan keluarga selalu kewalahan jika memperoleh order borongan. Tapi ia mampu meraup keuntungan besar dari hasil berjualan ondel-ondel. Bapak beranak dua itu mengatakan tarif pembuatan Rp 1 juta per pasang. Lumayan juga.(KEN/Esther Mulyanie)