Liputan6.com, Jambi: Kondisi Candi Muara Jambi sangat memprihatinkan. Pemugaran yang dilakukan Pemerintah Daerah Jambi setahun silam terkesan mubazir. Padahal, terbetik kabar, Candi Muara Jambi yang disebut-sebut sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-14 itu memiliki potensi wisata yang sedemikian besar. Amat disayangkan bila petugas candi yang ditempatkan di sana sering tak berada di tempat.
Salah satu obyek wisata Jambi itu terletak di Kabupaten Muara Jambi, sekitar 70 kilometer dari kota Jambi dan memiliki luas 75 kilometer persegi, memiliki 75 candi. 75 candi itulah yang dijadikan pusat pemujaan, pendidikan, dan pusat kebudayaan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-14.
Semua candi terbuat dari batu bata yang besar kecilnya ditentukan bangunan yang ada. Dari 75 candi yang ada, sepuluh di antaranya cukup terkenal pada zaman Sriwijaya, seperti Candi Gompung, Candi Tinggi, Candi Kedaton, Candi Kota Mahligai, Candi Kembar Batu, dan Candi Teluk.
Selain candi, di pusat wisata itu juga dapat ditemukan sejumlah perhiasan yang terbuat dari emas, perak, permata, perunggu, dan tanah liat. Perhiasan tersebut digunakan untuk melengkapi peralatan rumah tangga, seperti alat memasak yang tersimpan di dalam candi.
Sayangnya, kekayaan sejarah ini tidak terawat dengan baik. Kondisi di sekitar lokasi candi itu tak terurus dan kotor. Bukan itu saja, petugas yang ditempatkan di lokasi itu sering tak berada di tempat. Padahal, setahun silam Pemda Jambi telah memugar situs ini dengan biaya tak sedikit, mencapai miliaran rupiah.
Kondisi kotor dan jorok itu menjadi penyebab obyek wisata itu sepi pengunjung. Para wisatawan enggan mengetahui lebih jauh keberadaan dan nilai sejarah yang dimiliki situs tersebut. Padahal, bila dikelola dengan baik, tak mustahil, keberadaan Candi Muara Jambi tak kalah dengan Candi Borobudur di Jawa yang banyak didatangi wisatawan dari mancanegara dan domestik.(ICH/Suhatman Pisang)
Salah satu obyek wisata Jambi itu terletak di Kabupaten Muara Jambi, sekitar 70 kilometer dari kota Jambi dan memiliki luas 75 kilometer persegi, memiliki 75 candi. 75 candi itulah yang dijadikan pusat pemujaan, pendidikan, dan pusat kebudayaan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-14.
Semua candi terbuat dari batu bata yang besar kecilnya ditentukan bangunan yang ada. Dari 75 candi yang ada, sepuluh di antaranya cukup terkenal pada zaman Sriwijaya, seperti Candi Gompung, Candi Tinggi, Candi Kedaton, Candi Kota Mahligai, Candi Kembar Batu, dan Candi Teluk.
Selain candi, di pusat wisata itu juga dapat ditemukan sejumlah perhiasan yang terbuat dari emas, perak, permata, perunggu, dan tanah liat. Perhiasan tersebut digunakan untuk melengkapi peralatan rumah tangga, seperti alat memasak yang tersimpan di dalam candi.
Sayangnya, kekayaan sejarah ini tidak terawat dengan baik. Kondisi di sekitar lokasi candi itu tak terurus dan kotor. Bukan itu saja, petugas yang ditempatkan di lokasi itu sering tak berada di tempat. Padahal, setahun silam Pemda Jambi telah memugar situs ini dengan biaya tak sedikit, mencapai miliaran rupiah.
Kondisi kotor dan jorok itu menjadi penyebab obyek wisata itu sepi pengunjung. Para wisatawan enggan mengetahui lebih jauh keberadaan dan nilai sejarah yang dimiliki situs tersebut. Padahal, bila dikelola dengan baik, tak mustahil, keberadaan Candi Muara Jambi tak kalah dengan Candi Borobudur di Jawa yang banyak didatangi wisatawan dari mancanegara dan domestik.(ICH/Suhatman Pisang)