Greysia Polii / Apriyani Rahayu Layak Dibebani Target Medali di Asian Games 2018

Greysia Polii / Apriyani Rahayu berharap bisa merengkuh medali di perhelatan Asian Games 2018.

oleh Achmad Yani YustiawanDiterbitkan 05 Agustus 2018, 22:10 WIB
Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, takluk dari ganda Jepang, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara, pada semifinal Kejuaraan Dunia 2018, di Nanjing, Sabtu (4/8/2018). (PBSI)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia kembali mengandalkan cabang olahraga bulutangkis di Asian Games 2018. Cabang ini diharapkan bisa menyumbang banyak medali untuk Indonesia.

Pasangan Greysia Polii / Apriyani Rahayu menjadi salah satu andalan Indonesia pada cabang olahraga bulutangkis dari sektor ganda putri di Asian Games 2018. Merengkuh medali, terutama emas, pada event bergengsi di kandang sendiri diakui merupakan ambisi besar pasangan tersebut.

Apriyani menyimpan rasa penasaran besar. Apalagi ini adalah Asian Games edisi pertamanya bagi Apriyani. Berbeda dengan Greysia Polii yang sudah punya pengalaman di event akbar tersebut.

Bahkan, Greysia sudah pernah mencicipi indahnya merengkuh medali emas pada Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Pada Asian Games 2014, Greysia Polii berpasangan dengan Nitya Krishinda Maheswari.

Pada partai final, mereka sukses mengalahkan wakil Jepang, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, dengan skor 21-15, 21-5. Namun, sejak 2017 Greysia tak lagi berpasangan dengan Nitya.

Pelatih ganda putri bereksperimen memasangkan Greysia dengan Apriyani Rahayu. Pasangan ini terbilang lintas generasi. Apriayani Rahayu lebih muda 10 tahun dibanding Greysia. Meski demikian, gap usia tak menjadi halangan.

Sejak berpasangan, Greysia/Apriyani sejauh ini sukses meraih empat gelar di berbagai turnamen. Penampilan apik keduanya berdampak langsung pada posisi di ranking dunia. Greysia/Apriyani bercokol di peringkat keeenam, dengan perincian 43 kemenangan serta 14 kali kalah. Mengacu pada catatan tersebut, pasangan ini layak dibebani target medali di Asian Games 2018.


Saling Menghargai dan Terbuka

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu. (PBSI)

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu berpose saat sesi pemotretan di Pelatnas Bulutangkis, Cipayung, Jakarta, Senin (7/5/2018). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Lanjut Baca:

Kalian terbilang cukup cepat beradaptasi sebagai pasangan di ganda putri hingga menembus peringkat 10 dunia. Apa resepnya? Greysia: Beradaptasi dengan pasangan baru kan tidak mudah. Contohnya ada karakter dia yang saya tidak suka, ada karakter saya yang dia tidak suka, akan tetapi kami bisa cepat menyatu ya karena ada itu. Ada kombinasi dan kami komunikasi. Yang paling penting sebenarnya ada kepercayaan satu sama lain. Ketika pertama kali diputuskan berpasangan, respons kalian seperti apa? Apriyani: Kalau saya senang dan lebih termotivasi ketika bermain bersama Kakak Greysia. Greysia: Saya kaget seperti kok bisa ya? Kok pelatihnya milih seperti ini? Akan tetapi, intinya ya begini pasti ada hal yang baik. Yang pertama saya tanya ke dia mau berpasangan, mau komitmen, mau konsentrasi tidak? Itu semua saya bicarakan sebelum latihan. Saya coba tantang dia untuk keluar dari zona nyaman dan ajak menjadi juara. Menurut Apriyani, sosok Greysia Polii itu seperti apa? Apriyani: Kak Greysia itu kalau di lapangan keras banget. Apalagi ke saya. Saya seorang yang pecicilan. Dia menerima sifat saya yang seperti itu. Kalau di luar lapangan dia bisa menyesuaikan dengan pergaulan saya. Dia bisa seperti teman. Jadi, ya intinya saling menghargai dan terbuka. Kalian berdua terpaut usia 10 tahun, apa keuntungan atau kerugiannya? Apriyani: Saya lebih dapat keuntungannya. Saya lebih banyak pelajaran yang didapat. Saya juga makin dewasa dan banyak masukan yang didapat dari kak Greysia. Dulu sempat ada tekanan karena main dengan senior, kalau sekarang tidak ada. Greysia: Saya sejak berpasangan dengan dia kan inginnya mendidik. Saya ingin ada pemain yang mampu meneruskan saya di masa depan. Jadi, saya tidak ingin menggunakan ego saya dengan prestasi saya yang dulu. Jadi, ketika berpasangan sama dia, mulai dari nol lagi. Jadi memang harus jadi contoh yang benar. Di bulutangkis kan prestasi pasang surut. Ketika meraih juara, kalian dibanggakan, tetapi ketika kalah kadang malah dijatuhkan. Apa rahasianya supaya tidak terpengaruh hal seperti itu? Apriyani: Ketika memang sedang di atas, kami mencoba untuk seperti biasa saja. Menganggap diri sendiri belum menjadi apa-apa. Akan tetapi, kalau sedang di lapangan harus bisa menyombongkan diri juga di mata lawan supaya lebih percaya diri. Greysia: Ketika sedang di bawah, kami harus sadar berarti ada sesuatu yang kurang. Contohnya dalam tindakan permainan atau mungkin banyak melakukan kesalahan. Sebaliknya, ketika menjadi juara kami juga harus sadar. Kuncinya selalu sadar.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya