Namanya Karapan Marmut

Meski tinggal jauh dari tanah leluhurnya, warga suku Madura di perantauan tetap setia melestarikan tradisinya. Jika di Pulau Madura ada karapan sapi, maka di Lumajang, Jawa Timur, warga suku Madura menggelar balap marmut.

oleh Liputan6Diterbitkan 26 Juli 2011, 07:28 WIB

Liputan6.com, Lumajang: Halaman rumah milik salah satu warga Desa Bago, Lumajang, Jawa Timur, belum lama ini disulap menjadi sirkuit atau arena balap marmut. Panjang sirkuit, katakanlah begitu, sekitar 50 meter dan selebar dua meter. Sejumlah peserta sudah siap membawa marmut mereka untuk diadu kecepatannya.

Agar marmutnya bisa berlari cepat, para peserta melakukan pemanasan terlebih dahulu. Mereka juga sudah memberi aneka jamu agar hewan mungil yang biasanya terkesan pemalas itu lebih kuat. Dan, syukur-syukur tampil sebagai juara.

Saat lomba pun dimulai. Dua marmut berlari cepat menuju garis finis. Siapa yang paling cepat tiba di garis finis, ialah yang menjadi juara. Hadiah yang lumayan pun disediakan bagi para pemenang.

Lomba ini digelar rutin oleh warga Desa Bago, yang hampir seluruhnya berasal dari suku Madura. Kerabat mereka di Pulau Madura boleh berbangga dengan karapan sapi yang terkenal itu. Namun, warga Desa Bango pun dapat berbangga karena mempunyai tradisi tak kalah unik, yakni balapan atau karapan marmut.(ANS)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya