Waspada Makanan Berpewarna Berbahaya

Sebagian pedagang asongan yang menjual camilan seperti manisan buah dan kacang goreng menggunakan bahawan berbahaya. Pewarna pakaian serta tawas mereka gunakan agar tampilan camilan lebih menggugah selera.

oleh Liputan6Diterbitkan 19 Juni 2011, 01:42 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Mari kita tengok fenomena menyebalkan yang sudah tak asing lagi bagi warga di sejumlah kawasan di Tanah Air. Macet, bisa menghabiskan waktu berjam-jam di jalanan. Sungguh membuat frustrasi. Tak hanya di jalan-jalan kota, perjalanan ke luar kota pun disergap kemacetan. Salah satunya jalur Pantai Utara Jawa atau Pantura. Belum masuk masa mudik, jalur vital ini ternyata tetap saja rawan macet.

Suntuk, letih, emosi, berujung tak berdaya, sulit dielakkan jika ketemu macet panjang. Tapi tunggu dulu, macet tak melulu menyebabkan orang mati akal. Langkah kreatif digenjot sejumlah orang memanfaatkan macet, mendulang rezeki berlipat ganda. Contohnya pedagang asongan yang menjual camilan seperti manisan buah dan kacang goreng untuk mengusir kejenuhan pengendara yang terjebak macet.

Sasaran serbuan pedagang asongan adalah bus yang sarat penumpang. Melihat camilan ringan bolak-balik di depan mata sungguh menggoda. Macet dan udara panas menyengat agaknya bisa terobati dengan mencicipi berbagai manisan buah yang sangat menggugah selera.

Namun muncul pertanyaan, apakah manisan buah ini berasal dari buah segar yang terjamin kebersihan dan kesehatannya. Sekelumit pengakuan pedagang asongan yang biasa beroperasi di jalur Pantura mungkin bisa jadi petunjuk. Rupanya rasa manis yang hadir pada buah manisan yang dijajakan sejumlah pedagang adalah pemanis buatan, karena buah aslinya mangga muda yang masih asam.

Ada lagi informasi yang lebih mengkhawatirkan, bahwa warna kuning buah yang menggiurkan dan menarik minat pembeli itu diduga menggunakan pewarna tekstil dan bukan pewarna makanan. Bantahan demi bantahan mengalir dari sekelompok pedagang asongan. Tapi, rasa penasaran tetap menggerakkan kami untuk coba mencari tahu lebih jauh tentang pembuatan manisan pinggir jalan ini.
 
Pencarian fakta pun berlanjut. Berbekal informasi dari seorang kerabat, kami datangi salah seorang penjaja manisan pinggir jalan. Tentu saja kami sudah siapkan peralatan tempur berupa perangkat kamera yang tak tertangkap oleh mata. Kami tiba di sebuah rumah sederhana tempat si pedagang biasa mengolah manisan buah buatannya.

Kedatangan kami ternyata cukup tepat, karena sang pedagang camilan ini akan belanja kebutuhan bahan-bahan baku membuat manisan untuk dilego esok harinya. Langkah pertama si pedagang adalah membeli bahan utama dari manisan yakni mangga dan kedondong yang masih muda. Satu per satu kebutuhan membuat manisan dibeli, tapi soal pembelian bahan kimia yang lalu menarik perhatian kami.

Cukup mengejutkan. Tawas yang dikenal sebagai bahan penjernih air ternyata digunakan untuk membuat manisan. Itu pun belum puncak dari keseluruhan kejutan. Ada satu jurus pamungkas yang harus disertakan untuk menarik perhatian pembeli yaitu pewarna. Tak hanya itu karena sang pedagang juga bermain-main dengan bahaya. Pewarna yang dibelinya ternyata pewarna tekstil yang membahayakan kesehatan.

Sesampai di rumah, mangga-mangga muda itu dikupas cepat untuk kemudian direndam. Namun, bukan direndam air biasa tapi air yang dicampur tawas. Si pedagang berkilah tentang penggunaan tawas ini agar buah tak cepat berair dan terlihat busuk. Pemanis buatan dan pewarna tekstil juga dibubuhkan untuk menambah cita rasa dan menarik perhatian. Tak ada takaran yang pasti, pakai insting saja.

Penjaja manisan ini juga terampil dalam menutupi kedoknya. Agar tidak kepergok menggunakan pewarna tekstil, teknik pemberian pewarna tidak sembarangan dan menggunakan trik tersendiri. "Mencampurnya jangan pakai tangan, bisa terlihat nanti tangan jadi kuning kena pewarna. Jadi cukup digoyang-goyang saja [nampan] tempat pencampuran buah," ujar si pedagang.

Tak hanya manisan. Pedagang asongan pinggir jalan juga menjual jenis camilan lain, salah satunya kacang goreng. Kacang goreng yang tampak alami ternyata juga tak luput dari trik-trik dagang yang tak wajar. Tawas, bahan kimia penjernih air, benar-benar jadi andalan. Kacang-kacang itu sebelum digoreng ternyata lebih dulu direndam air tawas. Tujuannya untuk membuat kacang lebih garing dan renyah saat dikunyah.

Masih ada fungsi tawas lainnya dalam camilan itu. Tawas ternyata multi fungsi, yaitu bisa mempermudah dalam proses menguliti kacang. Apa pun alasannya, penggunaan tawas pada makanan dalam jumlah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Ini yang mungkin kurang dipahami sebagian pedagang.

Tak ingin terlalu banyak berpsekulasi, kami pun menguji manisan dari si pedagang itu ke laboratorium makanan. Terbukti, manisan ini berpewarna yang jelas-jelas bukan standar makanan. Banyak jenis pewarna makanan yang aman digunakan, namun harganya yang mahal membuat sejumlah pedagang mengakalinya dengan pewarna berbahaya.

Masalahnya, sebagian masyarakat tidak menyadari bahaya makanan berpewarna seperti manisan pinggir jalan itu. Ditambah lagi belum ada tindakan dari instansi berwenang untuk mencegah masyarakat terkena dampak buruk dari makanan-makanan ini.(ADO)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya